15 Hari Ramadhan dan Pendidikan Kepribadian

Posted on

Oleh : Ismail Ghulam Halim (Kabid Kaderisasi Salam UI 19)

Bismillahirrahmanirrahim. Atas izin Allah subhanahu wa ta’ala, sampai tulisan ini dibuat, segenap muslimin dan muslimat Indonesia dan dunia pada umumnya sudah sampai dan memasuki  hari ke-15 daripada bulan suci Ramadhan. Bulan yang disyariatkan didalamnya shiyam atau dalam bahasa ibu muslimin Indonesia disebut dengan puasa. Bulan yang Allah syariatkan didalamnya puasa, agar segenap orang-orang beriman mencapai derajat ketaqwaannya. Sebagaimana firman Allah SWT :

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepadamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah : 183)

Tentu, setiap kita berbeda-beda usia Ramadhan sebenarnya, bergantung kepada usia berapa masa aqil baligh  itu dimulai. Ada yang belum genap kepala dua puluh ketika memasuki 1437 H atau 2016, ada pula yang genap seperempat abad,  bahkan ada pula yang akan memasuki usia senja rata-rata ummat Nabi Muhammad SAW. Perbedaan itu seharusnya membuat pemaknaan kita terhadap bulan berkah nan mulia ini juga berbeda-beda. Sudah jelas, semestinya pula semakin besar usia Ramadhan sebenarnya yang telah dilalui, sebesar itu pula kenaikan kualitasnya, yang akan berujung kepada kualitas ketaqwaan yang semakin meningkat dan akseleratif. Sebagaimana tujuan shiyam itu tertulis jelas dalam kitab suci : la’allakum tattaquuun. Agar kalian semua (selalu) bertaqwa.

Peningkatan kualitas yang sejalan dengan kuantitas usia Ramadhan sebenarnya yang kita miliki, kembali kepada sebaik apa pemaknaan yang kita berikan. Pemaknaan yang baik tidak lepas dari sebaik apa kita mendidik dimensi-dimensi kepribadian kita. Sebaik apa kita mendidik tiga dimensi kepribadian yang menyempurnakan kepribadian kita sebagai seorang manusia beriman : nafsu-ruhani, pikiran, dan jasmaniah. Mari kita berkaca dan hitung-renung sejenak, seberapa baikkah kita mendidik dimensi kepribadian kita..?

Mendidik Nafsu dan Ruhani

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ss

“Jika bulan Ramadhan telah masuk, maka pintu-pintu langit akan dibuka dan pintu-pintu Jahannam akan ditutup dan syaitan-syaitan pun dibelenggu”. (HR. Bukhari & Muslim).

Hadits ini sangat jamak disebut dan lafazkan dalam ceramah-ceramah maupun kajian-kajian. Ada satu redaksi yang menarik : syaitan-syaitan pun dibelenggu. Logika sederhana kita akan berkata : seharusnya beribadah akan lebih mudah. Namun kenyataannya, seringkali ada hal lain yang tetap membuat ibadah kita tetap terasa berat dan malas.

Tafsir ulama ahli hadits sangat beragam terhadap redaksi ini. Salah satunya adalah bahwa sumber kemalasan kita sesungguhnya bukan hanya bermuasal dari godaan syaitan, akan tetapi juga berasal dari nafsu kita. Oleh karena itu mengapa kita saksikan dan barangkali kita rasa-sadarkan sendiri, betapapun kita sedang berpuasa, dorongan bermaksiat itu tetap ada bahkan cenderung terasa kuat. Fenomena warung makan buka siang hari yang ramai dua pekan ke belakang di masyarakat cukup menjadi fakta bahwa nafsu personal kita seringkali mencederai tujuan shiyam kita : mendidik nafsu dan ruhani taqwa.

Oleh karena itu pula, sesungguhnya shiyam yang kita lakukan akan membuktikan dan membuka jatidiri personal kita yang terdalam dan terjujur, setidaknya bagi kita sendiri : sudah sebaik apa kita mendidik nafsu kita. Sudah sebaik apa kita mendidik nafsu kita, sehingga unsur ruhani dalam diri kita lebih kuat dan dominan. Sehingga unsur ruh yang sejatinya berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala, lebih tajam dalam diri kita. Jatidiri muslim yang dominan unsur ruh dan terkendali nafsunya dengan baik, akan tampak pada pengendalian dirinya yang baik dalam menahan godaan maksiat, dan bersemangat dalam taat.

Mendidik Pikiran

Hal lain yang mesti kita hitung-renungi, adalah sebaik apa pikiran kita terdidik dengan shiyam yang kita lakukan. Dalam bukunya, seorang cendekiawan muslim mengatakan :

“Akar dari semua tindakan, perilaku, kebiasaan dam karakter kita adalah lintasan pikiran yang bertebaran dalam benak. Lintasan pikiran itu menyerbu benak kita, maka ia berkemabang menjadi memori, dan memori itu secara perlahan berkembang menjadi ide, atau gagasan, atau pikiran. Pikiran itu selanjutnya menukik lebih jauh dalam diri kita, dalam wilayah emosi, dan membentuk keyakinan. Maka, keyakinan berkembang menjadi kemauan, dan secara perlahan, kemauan berkembang menjadi tekad. Begitu ia menjadi tekad, pikiran itu telah memperoleh energi atau tenaga agar ia terwujud dalam kenyataan. Setelah itu tekad menjalar ke dalam tubuh dan menggerakannya. Maka, lahirlah tindakan. Bila tindakan itu dilakukan berulang-ulang, maka terbentuklah kebiasaan, dan bila kebiasaan itu berlangsung dalam waktu lama, terbentuklah karakter.” (Anis Matta, Delapan Mata Air Kecemerlangan, 2008)

Maka dibalik usia Ramadhan sebenarnya  yang sudah kita lewati, kita bisa melihat sebaik apa karakter taqwa kita. Apakah tindakan-tindakan yang lahir selepas Ramadhan kita berasal dari tekad-tekad dan mau yang berlandaskan taqwa? Kalau belum, berarti ada yang salah dengan pengkondisian emosi dan keyakinan kita, yang kesalahannya tidak lain dan tidak bukan bermuara kepada ide dan gagasan yang berkembang dalam alam sadar dan bawah sadar pikir kita. Pertanyaannya kemudian, pengetahuan apa yang kita jejalkan kepada pikiran kita selama usia Ramadhan sebenarnya yang telah kita lewati?  Sudahkah pikiran kita, kita didik dengan menjejalkan ilmu-ilmu yang berdampak pada tindakan-karakter taqwa..?

Mendidik Jasmaniah

“berpuasalah maka kamu akan sehat” . Barangkali redaksi ini sering kita dengar sebagai hadits yang berbicara tentang keutamaan puasa yang berefek kepada kesehatan tubuh. Meski apabila merujuk kepada telaah ulama ahli hadits, hadits tersebut menjadi lemah disebabkan perawinya yang bermasalah, sebagaimana ditulis oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Silsilah Hadits Dhaif.

Mari kesampingkan untuk sementara perdebatan soal apakah hadits dhaif di atas bisa dijadikan rujukan atau tidak. Focus kepada esensi shiyam terhadap jasmani kita : mendidik tubuh agar terjaga kesehatannya. Literatur dan studi kesehatan ilmiah sudah banyak melaporkan efek kesehatan puasa terhadap tubuh kita. Pertanyaannya kemudian, apakah selepas kita menjalani shiyam Ramadhan, kita mampu menjaga kesehatan tubuh kita secara terkendali dan teratur.. ? Baik dari segi asupan makanan, minuman, maupun pengendalian nafsu perut dan kemaluan..?

Semestinya, jasmani selepas puasa Ramadhan akan lebih fit dan prima menjalani aktivitas. Setidaknya akan terukur dari stamina yang lebih baik  karena pengendalian asupan makanan, harus seberapa banyak kadarnya, dan sebagus apa kualitasnya. Jasmani akan lebih fit selepas shiyam Ramadhan disebabkan pula karena pembiasaan fisik yang dalam kondisi “nol”, tidak makan dan tidak minum dalam batasan waktu tertentu, namun tetap diporsir dengan aktivitas produktif, terutama dengan kuantitas ibadah yang meningkat. Maka sekali lagi, mari kita hitung dan cermati, sudah seberapa keras kita memaksa dan mendidik kondisi “nol” tanpa makan dan minum tubuh kita dengan aktivitas dan ibadah produktif.

Penutup.

Pada akhirnya, 15 Hari Ramadhan yang tersisa jelas-jelas akan menjadi waktu pembuktian bagi setiap kita, akankah rentang waktu ini mampu optimalkan sebagai sisa waktu pendidikan bagi segenap dimensi kepribadian kita atau tidak. Rentang waktu ini juga sepatutnya menjadi rentang waktu emas, agar usia Ramadhan sebenarnya yang akan kita tuntaskan, in sya Allah, betul-betul menjadi penambahan kualitas ketaqwaan kepribadian kita. Allahumma aamiin.

                                                                                                            Tapos, 20 Juni 2016

Sumber:

http://www.muhammadiyah.or.id/14-content-191-det-kajian-hadits.html

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *