Marantau bagi sebagian orang adalah sebuah tuntutan. Saat tidak banyak yang bisa dikerjakan di kampung halaman, merantau adalah sebuah pilihan.

Bisa jadi juga karena faktor pendidikan. Ingin meraih pendidikan hingga jenjang tertinggi membuat pilihan ke kota-kota pendidikan terkenal tak bisa dielakkan. Namun lama kelamaan, segala fasilitas di tempat rantau membuat kita nyaman dan terbuai. Sehingga sudah mulai melupakan tempat asal kita.

Begitu juga dengan pekerjaan. Saat kita mendapatkan pekerjaan yang mengharuskan kita bergi beranjak dari rumah tempat kita tinggal, kita pun beranjak. Demi mendapatkan sebongkah berlian kalau kata orang.

Sudah mandiri secara finansial dan mendapat banyak fasilitas di tempat kerja membuat kita terlalu lama melupakan rumah. Bahkan beberapa kebiasaan di tempat kita tinggal pun sudah mulai terlupakan.

Apalagi kalau pekerjaan kita mengharuskan kita untuk berkeliling menjelajahi tempat tempat baru. Pasti menyenangkan kan bisa memlihat hal dan tempat baru. Menjelajahi tempat baru tentu bisa membuat kita sedikit lupa, seperti apa keadaan di tempat kita tinggal.

Tahu ga sih sebenarnya, pulang ke rumah adalah cara yang paling ampuh untuk mengisi kembali semangat kita yang sudah terkikis rutinitas. Pulang adalah cara yang efektif untuk mengingat masa lalu, melakukan refleksi dan kembali mengingat untuk apa kita pergi jauh-jauh.

Nah, kawan kalau kamu sudah merasakan beberapa tanda ini, berarti sejatinya kamu perlu pulang ke rumah. Ada keadaan dimana kamu sudah mulai sudah terlalu lama merantau dan perlu segera menyiapkan waktu untuk pulang ke tanah kelahiran.

1Pertanyaan ‘Dari Mana?’ Mulai Mengganggumu

chefocta.wordpress.com

Apa basa basi yang paling umum saat pertama kali bertemu orang baru. Minimal kita aka ditanya “Asalnya dari mana?” nah kalau kita sudah terusik dengan pertanyaan itu maka tandanya kita sudah butuh pulang.

Kita mungkin akan menjawab, “Dari Jawa Mas.” Lalu muncul pertanyaan lanjutan, “Kok ga kayak orang jawa logatnya?”

Nah kalau sudah seperti itu hati-hati. “Hilangnya” logat daerah kamu menandakan kamu sudah terlalu lama di tempat rantau. Ada baiknya kamu mulai berkemas dan segera menuju kota kelahiran kamu

2Pertanyaan Lanjutan Asal Daerah Bikin Kelabakan

chefocta.wordpress.com

Ternyata pertanyaan “Asalnya darimana?” tak berhenti di situ saja. Selalu ada pertanyaan lanjutan. Terlebih jika kita bertemu dengan orang baru yang asalnya sama dengan kita. Wah bisa beragam pertanyaan muncul.

Orang lain: “Dari Sleman yang Mas? Sama perempatan yang ada kuburannya itu dekat? Sama Pak Wongso kenal? Tukang sate di pertigaan itu masih ada?

Kamu: “Waduh mas sudah lupa hehe lama ga pulang saya.”

3Diajak Ngomong Bahasa Daerah

syahakba.wordpress.com

Nah ini bakal terus belanjut kalau ketemu orang baru dari daerah yang sama. Kalau bertemu dengan orang dari daerah asal bukan tak mungkin dalam perbincangan selanjutnya kamu akan diajak ngomong bahasa daerah.

Kalau kamu bisa meladeni, tenang berarti kamu tak melupakan asal usul kamu. Tapi jika kamu susah meladeni dan kehilangan kata-kata padahal dulunya jago bahasa daerah, bisa jadi memang kamu butuh segera pulang.

4Lupa Muka Sanak Keluarga

wisdom.com

Di zaman yang serba maju ini semua rasanya punya media sosial. Facebook misalnya. Nampaknya orang di kota dan desa sudah familiar menggunakan media sosial yang satu ini.

Nah kalau kamu lagi melihat-lihat facebook lalu melihat seseorang yang kamu yakin tidak kenal tapi rasanya kok tidak asing.

Setelah kamu lihat-lihat rasanya pernah melihat dimangitu. Eh ternyata yang dilihat adalah sepupu sendiri. Kalau perasaan kamu si sepupu terakhir kali lihat masih SD dan sekarang sudah bisa foto selfie bareng teman SMA nya, berarti kamu sudah bertahun-tahun tidak pernah pulang.

5Intensitas Telepon ke Rumah Berkurang

boombastis.com

Dulu saat seminggu, sampai sebulan di tempat rantau, pasti setiap hari kita memberi kabar ke orang di rumah. Lagi ngapain, dengan siapa dan seru tidak merantau.

Semakin lama, semakin sedikit berinteraksi dengan orang rumah. Bisa seminggu sekali hanya menghubungi untuk say hai. Lama kelamaan mulai jarang dan kikuk saat mau menghubungi rumah karena merasa tidak ada bahan pembicaraan.

Yang terjadi kalaupun ingat ingin menghubungi orang rumah adalah percakapan basa basi yang keluar. “Halo ibu sehat? saya sehat. Semoga sehat semua ya.” tuttt tuutt tuuut bunyi telepon ditutup.

 

SHARE