Google kini bukan lagi sekedar perusahaan penyedia layanan mesin pencari internet dan produk software turunannya. Sejak Oktober 2015 lalu, perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat ini meluncurkan perusahaan baru bernama Alphabet.

Alphabet nantinya akan menjadi oerusahaan induk yang membawahi banyak anak perusahaan. Mereka nantinya yang akan menggawangi produk-produk rintisan berteknologi tinggi. Tidak lagi menjadi satu unit bersama Google.

Meski hingga sekarang lebih banyak proyek Google yang tidak mendapatkan untung, namun mereka tetap menjalankannya. Mereka beralasan bahwa apa yang mereka lakukan untuk membangun kehidupan umat manusia menjadi lebih baik.

Omong-omong soal pilkada serentak yang baru saja lewat, kamu bisa coba membayangkan beberapa proyek yang dikembangkan oleh Google dapat dimanfaatkan untuk memudahkan proses demokrasi di Indonesia tersebut. Contohnya seperti;

1Google Project Nest

howtosmarthome.com

Nest merupakan anak  perusahaan Alphabet yang meluncurkan program Project Nest ke masyarakat. Perusahaan ini mengeluarkan berbagai peralatan rumah tangga yang dapat saling terhubung dan terkoneksi dengan ponsel pintar pengguna.

Beberapa produk seperti alarm kebakaran, kamera CCTV, termostat suhu ruangan, dan sistem pengunci pintu dapat terhubung secara langsung dalam jarak yang jauh, selama ponsel pintar pengguna terhubung dengan internet.

Nah, untuk keperluan pemilu, produk Nest ini dapat dipasang di ruang penyimpanan logistik. Sistem penguncian pintu yang terhubung dengan kamera CCTV dapat merekam siapa saja yang masuk dan keluar ruang tersebut.

Sehingga di saat ada pihak yang mengganggu dengan cara merusak atau membakar logistik yang tersimpan di dalam ruangan, sensor perangkat Nest akan memberi tahu pengelola ruangan. Selanjutnya dapat langsung menghubungi bantuan keamanan atau pemadam kebakaran.

2Google Project Wing atau BigDog

businessinsider.com

Lain halnya dengan Boston System, perusahaan yang juga berada di bawah Alphabet ini memiliki proyek Project Wing. Yaitu semacam drone yang dapat mengangkut barang untuk didistribusikan ke tempat-tempat yang sulit dijangkau oleh kendaraan biasa.

theguardian.com
theguardian.com

Selain itu, ada juga BigDog. Berupa robot berkaki empat layaknya keledai pengangkut yang dapat ditemui di ekspedisi jaman dahulu. Robot ini dapat membawa logistik yang cukup berat yang tidak dapat dibawa oleh drone semacam Project Wing.

Hebatnya BigDog ini, setiap langkahnya sekaligus untuk mengisi ulang energinya sendiri.

Jadi, bila para panitia pemilu memanfaatkan kedua teknologi ini untuk pengiriman logistik khususnya ke wilayah-wilayah pelosok yang sulit untuk ditempuh menggunakan kendaraan biasa. Tidak ada lagi alasan pemilu susulan karena terlambatnya pengiriman logistik pemilu.

3Google Project Loon

nyozee.com

Internet di era teknologi informasi saat ini begitu vital dibutuhkan di tengah masyarakat kita. Dalam konteks pemilu, keberadaan internet memang tidak dimanfaatkan saat proses memberikan suara. Namun internet dapat mulai dimanfaatkan sesudah proses memberikan suara berlangsung.

Contohnya seperti para surveyor hitung-cepat yang membutuhkan koneksi internet untuk mengirimkan data saat itu juga. Panitia lokal pun membutuhkannya untuk mengirim laporan dan hasil rekapitulasi ke pusat.

Tapi, bagaimana jika lokasi pemilihannya berada di pelosok? Penyedia layanan telekomunikasi yang ada pun belum bisa menjangkau wilayah tersebut. Maka Project Loon dapat menjadi solusi.

Teknologi yang menggunakan balon udara ini menyediakan akses internet nirkabel ke wilayah yang masih dalam cakupannya. Memiliki prinsip seperti tiang jaringan dengan fleksibilitas yang lebih tinggi karena berupa balon udara.

4Google Project Makani

nyozee.com

Lagi-lagi membahas soal masalah yang ada di wilayah pelosok. Selain tidak adanya jaringan internet, bisa jadi pasokan listrik pun belum sampai di tempat tersebut. Sedangkan perangkat elektronik yang digunakan untuk menunjang proses pemilu serentak mutlak membutuhkan adanya listrik.

Maka turbin angin yang digunakan dalam proyek Google yang satu ini dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik selama proses pemilu berlangsung. Turbin angin dalam Project Makani berbentuk seperti layang-layang sehingga lebih mudah digunakan.

Turbin tersebut diluncurkan dari stasiun pengendali. Sesudah sampai pada ketinggian tertentu, layang-layang tersebut terbang di daerah yang memiliki angin kencang dan konstan. Kabel konduktir yang didesain seperti benang layang-layang kemudian akan mengalirkan energi listrik ke pusat kendali.

Menarik bukan?