Beberapa saat lalu negeri ini digemparkan oleh kabar memilukan. Tragedi kekersan seksual menimpa anak negeri, yang pelakunya sendiri juga merupakan anak negeri sendiri. Berbagai pihak memberikan respon terkait kasus ini, mulai dari opini untuk hukum kebiri sampai  memasang chip bagi pelaku kekerasan seksual.

Ada yang menarik dari opini masyarakat tentang kasus ini, termasuk ulasan dari Gendur Sudarsono di artikel ini.

Dalam sebulan, dua tragedi yang menyayat hati muncul di Republik yang ber-ketuhanan sekaligus ber-kemanusiaan ini. Yuyun, siswi Sekolah Menengah Pertama di Bengkulu,  diperkosa ramai-ramai, lalu dibunuh pada 2 April lalu.

Empat pekan berselang, peristiwa memilukan mencuat lagi. Mahasiswi Universitas Gadjah Mada, Feby Kurnia Nuraisyah Siregar,  dibunuh di toilet  kampus ini oleh seorang petugas kebersihan, pada pagi, 28 April 2016. Pelaku kemudian membawa kabur sepeda motor dan telepon genggam Feby.

Jangan bandingkan dua kejadian itu dengan kasus Angeline, bocah yang dibunuh oleh ibu angkatnya di Bali pertengahan tahun lalu.  Pembunuhan Angeline terlihat direncanakan, tapi  dua kejadian terakhir amat situasional. Kasus Yuyun dan Feby  sebetulnya bisa dihindari bila negara peduli terhadap kehidupan  masyarakat yang semakin bringas, rapuh, dan tidak nyaman sekaligus aman.

Berikut ini lima hal yang mengerikan di balik tragedi Yuyun dan Feby yang seharusnya bisa diatasi, setidaknya diredam oleh pemerintah:

1Pengaruh Alkohol

Pemerintah seharusnya mengontrol peredaran minumna keras, termasuk tuak. Terungkap  pemerkosaan dan pembunuhan terhadap Yuyun dipicu oleh minuman haram.  Belasan pemuda  terlebih dahulu menenggak  tuak sebelum melancarkan perbuatan biadab.  Pengakuan itu terkuak saat Menteri Khofifah mengunjungi dan bertemu langsung dengan para pelaku di Kepolisian Resor Rejang Lebong, Jumat, 6 Mei 2016.

2Video Porno

Mudahnya mengakses video porno lewat hand phone membuat remaja kita menjadi lebih cepat “dewasa”.  Walaupun pemerintah telah memeranginya lewat program internet positif,  tetap saja video syur mudah diakses. Inilah pekerjaan rumah bagi pemerintah. Para pelaku kasus Yuyun jelas mengaku suka menonton video porno melalui telepon seluler.

3Kondisi Sosial-Ekonomi

Terungkap pula, sebagian besar pelaku pemerkosa dan pembunuh  Yuyun merupakan remaja putus sekolah.  Ini menjadi tantangan berat bagi pemerintah.  Kasus  Feby pun berlatar belakang sosial ekonomi.  Pelaku tega membunuh mahasiswi ini demi sepeda motor dan telepon seluler korban. Barang-barang itu kemudian digadaikan demi mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya.

4Rasa Tidak Aman

Pemerintah belum bisa menjamin keamanan dan kenyamanan bagi warga negara. Ini berkaitan dengan kurang maksimalnya peran kepolisian dan lemahnya sistem keamanan bagi masyarakat. Ada juga masalah kurangnya  jumlah personil kepolisian. Jangankan di desa yang sepi seperti lokasi kasus Yuyun, di kota-kota besar pun penduduk  belum bisa menikmati rasa aman. Pemerintah seharusnya juga mendorong agar kantor-kantor termasuk kampus menerapkan pengamanan yang ketat, termasuk pengawasan internal terhadap petugas kebersihan.

5Lemahnya Penegakan Hukum

Banyak kejahatan sadistis tidak diikuti dengan penegakan hukum yang tegas. Akibatnya efek jera dan jeri  yang diharapkan dari penghukuman tidak muncul. Bahkan pelaku kasus Yuyun hanya dituntut hukuman 10 tahun penjara– dua pertiga dari hukuman maksimal yang ditetapkan dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Padahal sebagian pelaku jelas sudah dewasa, bukan kategori anak-anak lagi.

Semua realitas itu amat mengerikan.  Kejahatan sadistis  ala kasus Yuyun dan Feby akan terus menghantui publik  selama kondisi sosial ekonomi, dan hukum belum dibenahi.