Peristiwa 30 September 1965 atau yang sering dikenal dengan G 30 S PKI hingga kini masih menyisakan banyak polemik.

Di satu sisi, kejadian ini membuat mata warga Indonesia terbelalak. Pasalnya ada elemen anak bangsa yang tega berkhianat dan berniat mengambil alih pemerintahan.

Sejak saat itu hingga kini, komunis ditetapkan sebagai paham yang terlarang. Sementara PKI juga dibubarkan dan dilarang muncul lagi dalam bentuk apapun.

Namun peristiwa sejarah sebagai bagian dari politik waktu itu menyisakan beberapa sudut pandang. Peristiwa berdarah yang sudah hampir 50 tahun terjadi itu kadang ditilik dari sisi korban.

Sehingga peristiwa 1965 menjadi peristiwa yang kadang membingungkan. Mana yang benar dan mana yang salah. Nah, tidak ada salahnya jika kamu ingin memperkaya wawasan soal peristiwa 1965 ini dari buku.

Ada banyak buku yang mengupas soal tragedi 1965. Ada yang pro ada yang kontra. Sarannya, sebaiknya kamu memperkaya bacaan dari dua pihak agar bisa menilai dengan adil.

Nah berikut ini ada beberapa buku yang bisa jadi referensi kamu dalam memahami peristiwa 1965.

1Ronggeng Dukuh Paruk

source: bukupung.wordpress.com

Buku ini berupa novel karya sastrawan asal Jawa Tengah Ahmad Tohari. Awalnya novel ini adalah trilogi. Terdiri dari kisah Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala.

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya buku ini dijadikan satu dengan judul utama Ronggeng Dukuh Paruk. Buku ini sudah diadaptasi dalam sebuah film berjudul “Sang Penari”.

Kisah dalam novel ini adalah menceritakan tentang kelompok ronggeng Srintil. Saat itu ada banyak orang yang ditahan dan dibunuh atas tuduhan komunis.

Padahal tidak semuanya mengerti apa itu komunis. Beberapa dijadikan alat oleh PKI untuk mengumpulkan massa saja. Selebihnya mereka tak tahu menahu apa itu PKI dan komunis.

Salah satunya yang “terjebak” dalam situasi tersebut adalah kelompok ronggeng Srintil ini. Mereka ditangkap karena dinilai terlibat dalam gerakan PKI.

Padahal mereka diundang dalam rapat-rapat PKI hanya sebagai bintang tamu penarik massa. Kebetulan saat mereka hendak tampil di Dukuh Paruk, terjadi penumpasan PKI oleh pemerintah.

Kelompok ronggeng Srintil pun ikut diboyong dan ditahan. Srintil akhirnya dipenjara selama dua tahun dan akhirnya menjadi gila.

2Sri Sumarah dan Bawuk

source: id.pricepedia.org

Novel yang satu ini adalah karya dari tangan dingin seorang Umar Kayam. Novel ini juga berlatar belakang kejadian 1965.

Umar Kayam lebih banyak memotret peristiwa tragis itu dari sisi keluarga. Ia ingin menggambarkan betapa peristiwa itu menyebabkan banyak keluarga tercerai berai.

Ada anak yang terpisah dari orang tuanya. Ada istri yang tak lagi bersama dengan suami. Menariknya novel ini terdiri dari dua bagian yakni Sri Sumarah dan bagia Bawuk.

Kisah para Sri Sumarah adalah bagimana seorang ibu harus rela kehilangan anak dan menantunya yang mati gara-gara terlibat PKI. Sri digambarkan tetap pasrah meski harus kehilangan orang-orang yang dicintainya.

Sementara pada Bawuk, kisah kesetiaan suami istri menjadi inti cerita. Adalah Bawuk yang harus menanggung dilema karena bersuamikan orang PKI.

Namun pada akhirnya ia memantapkan diri untuk terus mendampingi suaminya meski ia tahu resikonya. Bahkan ia menitipkan anak kesayangan kepada ibunya dan memilih bersama suami saat tragedi 1965.

3Amba

source: lisabukanpenulis.wordpress.com

Kisah ini melibatkan Pulau Buru. Sebuah pulau khusus yang disiapkan Pemerintah Orde Baru untuk mengasingkan para tahanan politik yang terlibat PKI.

Pulau Buru yang terletak di Maluku ini juga menyisakan banyak cerita. Novel ini menangkap sisi lain dari tragedi PKI.

Amba yang menjadi tokoh utama dalam novel ini dikisahkan jatuh cinta pada seorang dokter lulusan Universitas Karl Marx, Jerman bernama Bhisma.

Percintaan mereka bahkan sampai membuat Amba mengandung anak Bhisma. Namun peristiwa 1965 memisahkan Bhisma dan Amba.

Bhisma dituding ikut terlibat dalam pemberontakan PKI. Ia pun dibuang ke Pulau Buru dan tak lagi meninggalkan kabar.

Amba yang kehilangan arah akhirnya menikah dengan lelaki asing bernama Aldahard Elsier. Pada tahun 2006, sewaktu Aldahard meninggal, Amba tiba-tiba mendapat email tentang kabar Bhisma.

Amba kemudian memutuskan berangkat ke Pulau Buru dan mencari ayah dari anak yang dikandungnya.

4The Year of Living Dangerously

source: www.goodreads.com

Jika novel yang berlatar peristiwa tahun 1965 banyak ditulis oleh orang Indonesia, lain halnya dengan novel yang satu ini.

Novel yang satu ini dituli oleh Christopher Koch seorang jurnalis asing asal Australia. Karena ditulis oleh orang asing maka novel ini memberikan perspektif yang sangat Barat terhadap situasi 1965.

Dikisahkan ada satu wartawan asal Australia bernama Guy Hamilton. Guy ditugaskan di Indonesia menjadi koresponden. Ia ditemani juru kamera bernama Billy Kwan dan Jill Bryant.

Mereka mengalami situasi sebagai jurnalis asing di saat terjadi peristiwa 1965. Pergulatan dalam mencari berita dengan sudut pandang asing sangat terasa di novel ini.

5Kalatidha

source: www.goodreads.com

Novel karya Seno Gumira Ajidarma ini berkisah tentang seorang “Aku”. Ya seorang “Aku” yang sedang berporses mencari kebenaran.

Ia merenung di dalam penjara. Lantas berusaha menemukan arti makna kejadian 1965. Ia lantas menemukan satu demi satu bahan perenungan dalam lembaran-lembaran koran.

Ia menemukan kliping berita tahun 1965 dan mulai merenungi kejadian demi kejadian. Beberapa potongan berita asli di harian Berita Yudha milik TNI AD juga ditampilkan untuk memperkuat cerita.

SHARE