sumber gambar: cloudfourdotcom

5 Pahlawan Yang Tak Terduga

Posted on

Ada banyak sekali sebenarnya orang-orang di sekitar kita yang punya peran besar dan kontribusi dalam kehidupan. Tapi kita sering mengabaikannya.

Berikut beberapa pahlawan tak terduga. Yang sosoknya seperti kebanyakan kita dan orang yang kita temui sehari-hari. Aih, pahlawan ada di mana-mana

Sofyan Hadi, Darman Prasetyo, dan Agus Suroto: pegawai KAI yang tewas dalam kecelakaan KRL vs. truk tangki BBM di Bintaro, Desember 2013.

Sofyan-Hadi1
sumber gambar: kaidotcom

Teknisi Sofyan Hadi menghampiri gerbong penumpang dan memohon agar mereka menyelamatkan diri, dengan cara pindah ke gerbong paling belakang kereta.

Kejadiannya saat dia tahu ada truk BBM yang mati mesinnya di perlintasan kereta. Sofyan bergabung kembali dengan Masinis Darman Prasetyo dan Asisten Masinis Agus Suroto.

Hebatnya, dari gerbong lokomotif mereka mencoba mengontrol kereta untuk meminimalisir akibat kecelakaan. Namun akhirnya mereka bertiga menjadi korban jiwa.

Sofyan Hadi pun  diabadikan namanya sebagai nama sekolah masinis di Balai Pelatihan Teknik Traksi (BPPT) di Bekasi.

Sedangkan Darman Prasetyo dan Agus Suroto, diabadikan namanya  di BPPT Yogyakarta dan Balai Pelatihan Operasional dan Pemasaran (BP Opsar) Bandung.

PT KAI pun memberikan hak khusus terhadap istri atau salah satu saudara ketiga korban untuk menjadi pegawai mereka, tanpa tes ataupun batasan umur.

Victoria Soto, guru yang menyembunyikan anak didiknya dari pelaku penembakan Sandy Hook Elementary School.

( Boston, MA,12/15/12) Vicki Soto, guru  Sandy Hook School.

 

14 Desember 2012, Adam Lanza (20 tahun) membunuh ibunya sendiri sebelum menyerbu Sandy Hook Elementary School di Connecticut, Amerika Serikat dengan senjata api.

20 siswa SD dan 7 pegawai sekolah tewas di tangannya. Adam Lanza masuk ruangan di sekolah itu satu-satu.

Sesampainya Lanza di ruang Kelas 1 yang terlihat disana hanya  Victoria Soto. Guru itu  menyembunyikan murid-muridnya di lemari dan kamar mandi kelas.

“Semua murid saya sedang di aula sekolah,” katanya pada Lanza. Lanza lalu menembak Victoria hingga tewas di tempat.

Lanza sempat melihat murid bersembunyi di bagian belakang kelas sebelum ia menembak Victoria yang menjatuhkan tubuh di depan murid-muridnya.

Dia menghalangi peluru Lanza sebelum pria itu menarik pelatuk pistolnya. Agar tidak mengenai muridnya. Wow…real hero. 

 

Rachel Corrie, terlindas bulldozer Israel saat melindungi rumah warga Palestina dari penggusuran.

Rachel-Corrie1

Rachel Corrie punya kepedulian kuat terhadap isu-isu sosial sejak kecil. Gadis  ini lalu bergabung dengan grup aktivis pro-Palestina International Solidarity Movement (ISM).

Rachel tewas 16 Maret 2003 saat menghalangi bulldozer Israel. Bulldozer itu ditugaskan menggusur pemukiman warga Palestina di Rafah, sebuah kota di Jalur Gaza.

Pemerintah Israel aktif melakukan penggusuran terhadap pemukiman warga Palestina yang dianggap ilegal hingga hari ini .

 

Didar Hossain, buruh, menyelamatkan 34 nyawa dari gedung 8 lantai yang ambruk di Bangladesh.

 

 

 

Didar-480x3231

April 2013,  gedung perkantoran dan pabrik pakaian di Dhaka, Bangladesh amblas dari delapan menjadi tiga lantai. 1129 orang tewas. 2500 lainnya luka-luka.

Didar Hossain, buruh pabrik biasa di seberang gedung yang amblas itu bergabung dengan tim SAR guna mencari dan menyelamatkan korban dari reruntuhan.

Waktu pertama kali ke lokasi kejadian, dia  melihat jenazah tanpa kepala,namun ia  meneguhkan hatinya. Tugasnya sebagai manusia adalah menolong sebisanya.

Yang diselamatkannya adalah ibu hamil yang melahirkan di antara debu dan puing-puing bangunan. Juga seorang gadis yang tangan kanannya  terjepit reruntuhan.

Didar tahu gadis itu harus diamputasi agar selamat. Ia berlari keluar memanggil dokter jaga. Sayang dokter itu  takut untuk memasuki lokasi kejadian.

Sang dokter memberi Didar pisau dan sedikit obat bius. Setelah Didar memotong tangan sang gadis, terdengar gaung minta tolong dari seorang pria di lantai yang sama.

Didar berkata obat biusnya sudah habis. Tapi pria itu bersikeras. “Potong saja kaki saya, tak usah pakai obat bius! Saya tak peduli – hidup ini lebih berharga dari rasa sakit.”

 

Molhem Barakat (1995 – 2013), fotografer remaja di Perang Syria.

Barakat4-480x2991

Molhem Barakat baru 18 tahun saat Reuters mempekerjakannya sebagai fotografer Perang Syria. Barakat meninggal  saat meliput pertempuran antara pasukan pemerintah Syria dan tentara pemberontak.

[td_smart_list_end]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *