Siapa yang tak kenal proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Hatta. Keduanya paling berpengaruh dalam kemerdekaan Indonesia. Saking seringnya nama mereka bersanding, sehingga banyak disematkan untuk nama bandara, jalan, hingga pecahan uang Rupiah.

Keduanya seakan tidak terpisahkan dalam sejarah Indonesia. Keduanya saling mengagumi dan menopang satu sama lain.

Selain dicintai rakyat, mereka berdua sebagai teman dekat yang pasti melalui momen berharga yang menunjukkan rasa hormat dan sikap positif satu sama lain. Meskipun mengalami pasang surut dalam hubungan pertemanan, mereka pada akhirnya berbaikan hingga akhir hayat.

Tak salah jika keduanya memiliki bromance yang kuat. Bromance sendiri merupakan singkatan dari brother romance yang artinya hubungan non-seksual yang sangat dekat antara dua orang laki-laki atau lebih. Pada intinya, bromance merupakan hubungan persaudaraan yang kuat meskipun tak memiliki hubungan darah.

Berikut ini momen-momen bromance keduanya yang dikutip dari buku Soekarno Hatta: Bukan Proklamator Paksaan karya Walentina W. De Jonge.

1Kagum Satu Sama Lain

www.kaskus.co.id

Mereka pertama kali bertemu di tahun 1932. Sebelumnya, mereka sering surat-menyurat hampir satu dekade sebelumnya di sekolah Belanda.

Keduanya surat menyurat menggunakan nama palsu. Soekarno menggunakan nama Pak Rachim sedangkan Hatta menggunakan nama Belanda. Hal ini dilakukan agar tidak diketahui oleh pemerintah kolonial Belanda.

Mereka saling mengagumi satu sama lain meski terpisah jarak dan wajtu. Bahkan, di depan umum keduanya sering melemparkan pujian satu sama lain dan kagum atas karya dan perjuangan masing-masing. Kita bisa melihat dari pernyataan keduanya di bawah ini.

“PNI (partai pimpinan Soekarno masa itu, — pen.) … adalah salah satu syarat bagi pergerakan kemerdekaan di Indonesia. …saya akan masuk PNI kalau saya kembali ke Indonesia.” — Bung Hatta

“Teguh, yakin, dan teranglah sikap dan perkataan-perkataannya Mohammad Hatta, terang di dalam cara mengatakannya, terang pula di dalam caranya mengupas dan membeberkan keadaan-keadaan dan soal-soal yang ia kemukakan.” — Soekarno, 1928, setelah membaca tulisan-tulisan politik karya Bung Hatta

2Sedih ketika Salah Satu dari Keduanya Dipenjara

siradel.blogspot.com

Bung Hatta sempat dipenjara karena putusan pengadilan Den Haag yang menyatakan ia melawan pemerintah Belanda.

Namun, akhirnya ia dibebaskan karena dakwaan tidak terbukti. Soekarno pada saat itu menyambut kabar tersebut dengan gembira. Bahkan, kabar gembira tersebut dilakukan dengan perayaan pembebasan di Bandung dengan menghadirkan 2.000 orang.

Soekarno juga sempat menulis di majalah mengenai kegembiraannya itu. Berikut penggalan tulisan Soekarno.

“Saudara-saudara kita bebas! … Bahagialah Ibu Indonesia yang mempunyai Putera-putera yang segagah itu! Dan kamu, Mohammad Hatta, Abdul Madjid, Ali, dan Nazir Pamuntjak, kamu, putera-putera Indonesia, yakinlah, bahwa segenap rakyat Indonesia adalah berhangatan hati melihat sikapmu itu.”

Begitu pula halnya dilakukan Hatta ketika Soekarno ditangkap Belanda pada 1920-an. Meski tak satu haluan dalam politik, Hatta tetap menganggap Soekarno ‘ketua kita’. Berikut penggalan tulisan Hatta:

“Kita masygul, kita bersedih hati, oleh karena ketua kita Ir. Soekarno serta beberapa pemimpin-pemimpin kita yang lain masih dalam tahanan.”

3Menolak Baca Teks Proklamasi Kemerdekaan Jika tanpa Hatta

nasional.news.viva.co.id

Soekarno menolak dengan tegas jika proklamasi kemerdekaan dibaca oleh ia sendiri. Sebelumnya, sebelum pukul 10 pagi di tanggal 17 AGustus 1945, terjadi ketegangan antara Soekarno dan beberapa pemuda.

Mereka harus segera memproklamirkan kemerdekaan sebelum digerebek pasukan Jepang. Para pemuda mendesak Soekarno untuk mendeklarasikan Indonesia merdeka sesegera mungkin.

Soekarno menolak tegas karena ingin Hatta mendampingi dirinya ketika membacakan teks proklamasi. Meskipun keduanya adalah penandatangan teks proklamasi, Soekarno dan Hatta belumlah didaulat menjadi pemimpin resmi negara Indonesia

4Soekarno Bantu Hatta Carikan Jodoh

lhkp.wordpress.com

Kedekatan keduanya bahkan hingga urusan jodoh ya. Soekarno mendatangi rumah orang tua calon istri Hatta, Siti Rahmiati atau biasa dipanggil Yuke untuk mewakili melamar.

Hal ini dilakukan Soekarno mengingat Hatta tidak banyak berhubungan dengan wanita. Konon Hatta sering diejek telah memiliki istri tiga. Istri pertama adalah buku, istri kedua adalah buku dan istri ketiga barulah Yuke.

5Hatta Menjadi Wali Nikah Anak Soekarno

www.jambiekspresnews.com

Saking dekatnya persahabatan mereka, Hatta diminta menjadi wali nikah anak sulung Soekarno, Guntur Soekarnoputra. Sejak kecil, Guntur sering diasuh oleh Hatta. Bahkan konon dalam cerita, Hatta sering diompoli Guntur.

Setelah 25 tahun berlalu, Guntur meminta Hatta menjadi wali nikah dan Hatta menyanggupi. Kesediaan ini sungguh mengharukan buat keluarga Soekarno karena Soekarno sedang menjadi tahanan politik di Wisma Yaso.

6Mendampingi di Akhir Ajal

www.kompasiana.com

Sebelum meninggal, Soekarno sempat koma ketika dikunjungi Hatta di rumah sakit. Namun ketika hendak keluar, Soekarno sadarkan diri dan berbicara kepada Hatta dengan suara parau dan linangan air mata.  “Oo, Hatta, kau ada di sini… hoe gaat het met jou? (Apa kabar?)”

Putri Hatta, Meutia Hatta yang ada di ruangan pertemuan terakhir keduanya, menggambarkan reaksi sedih sang ayah. Ayahnya terus memijat Soekarno seraya berkata agar bertawakal kepada Allah dan mendoakan agar lekas sembuh.

Lalu 10 tahun kemudian, Fatmawati sebagai Ibu Negara pertama sekaligus mantan istri Bung Karno yang juga mendampingi Bung Hatta di detik-detik menjelang kematiannya.