Kejadian unik kembali mewarnai hukum di Indonesia. Kali ini terjadi di Kabupaten Ngawi Jawa Timur. Kejadian unik ini mungkin akan membuat siapapun geleng-geleng kepala.

Namun walaupun terkesan remeh temeh, kejadian ini memiliki hikmah besar yang bisa menjadi pelajaran bagi siapapun dalam proses transaksi jual beli dan pertemanan yang baik.

SP (64) berniat menjual tanahnya kepada istri teman kerjanya di sebuah Bank milik Negara bernama EW (60). Niat SP menjual adalah untuk keperluan keluarga.

EW mendapat tawaran penjualan tanah tersebut dari adik ipar SP yang bernama AP yang tak lain adalah tetangga kompleks EW sendiri, dan juga dari Ketua Dusun tempat EW tinggal yang bernama SN.

Setelah setuju dengan tawaran dari AP dan SN, EW pun menyepakati akan membeli tanah milik SP yang dihargai sebesar Rp 200 juta tersebut. Selanjutnya akan dilakukan perjanjian jual beli.

EW dan SP yang memang juga rekan satu kloter saat menjalankan ibadah haji tahun 2006 tahu persis pastinya tentang bagaimana akad jual beli, maka mereka menjadikan AP dan SN sebagai saksi dari transaksi jual beli tersebut.

EW memberikan uang muka sebesar Rp 10 juta kepada SP dan SP memberikan kuitansi bermaterai dan fotocopy surat tanah kepada EW. AP dan SN pun membubuhkan tanda tangan pada surat saksi perjanjian jual beli tersebut.

Namun di suatu pagi, tepatnya belum ada 24 jam dimana perjanjian jual beli tersebut disepakati, SP mendatangi EW bersama dengan istrinya tepat di waktu setelah subuh. Pagi-pagi buta.

Karena EW menolak, SP naik pitam dan memaki-maki EW dengan kata-kata kasar dan tidak sopan. EW mengusir SP dan istrinya karena tidak terima.

Siangnya, SP yang masih tidak terima kembali mendatangi EW, kali ini dia mengajak satu rekannya yang tak dikenal EW. Kembali SP memaki-maki EW bahkan kali ini dengan lebih kasar.

EW yang tidak terima dengan segala kerugian yang sudah dia keluarkan dan juga rasa malu dan sakit hati akibat perlakuan SP, meminta Pengacaranya untuk mengajukan perkara ini ke pengadilan.

Terjadilah sidang yang rumit dan bahkan membuat hakimnya sendiri geleng-geleng kepala. Kenapa bisa ada kasus jual beli yang berujung seperti ini.

Tak hanya memutus silaturahim antara dua belah pihak dari SP dan EW, namun kejadian ini juga telah membuat sidang berjalan berlarut-larut sampai lebih dari sebulan belum ada penyelesaiannya.

Hikmah yang bisa diambil oleh siapapun, bahwa ketika sudah ada akad jual beli dari barang yang hendak kita jual, seharusnya kita bisa ikhlas dan tidak seenaknya membatalkan apalagi alasannya tidak jelas.

Karena tidak hanya merugikan pihak pembeli, namun yang terjadi juga bisa memutuskan tali silaturahim antara kita dan si pembeli yang mungkin sudah kenal baik dengan kita.

Itulah mengapa benar adanya, berpikir yang matang dulu sebelum bertindak dan berkata.