Adalah Bilal bin Rabbah, seorang mantan budak yang memiliki kulit hitam sangat legam namun semenjak memeluk Islam, dia sangat dimuliakan oleh Allah karena katakwaannya yang luar biasa.

Bilal dimerdekakan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq atas perintah Rasulullah. Sebelumnya, Bilal yang masih berstatus budak telah dengan diam-diam masuk Islam dan mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Sehingga saat tuannya murka, menyiksanya dengan sangat kejam agar Bilal berpindah keyakinan kembali menjadi kafir, Bilal tetap pada pendiriannya, tetap menjadi seorang Muslim.

Kesetiaan Bilal pada Islam membuatnya begitu sangat mencintai Rasulullah Muhammad SAW, bahkan dia rela mati demi melindungi junjungan umat Islam tersebut.

Salah satu yang umat Islam kenang dari Bilal hingga detik ini adalah keitiqomahannya sebagai Muadzin Allah, dimana Bilal adalah manusia pertama yang mengumandangkan adzan.

Suara Bilal yang merdu dan sangat lantang, membuat siapapun kala itu langsung menghentikan segala aktivitasnya dan berduyun-duyun berlari menuju masjid untuk shalat berjama’ah.

Dan tahukah kalian umat Muslim, bahwa ada sekelumit kisah mengharukan dari Bilal yang mungkin jarang diketahui oleh beberapa umat Muslim saat ini.

Ya, kisah tersebut adalah tentang “Adzan yang Tak Pernah Selesai Dikumandangkan”.

1Bilal Bermimpi Didatangi Rasulullah SAW

detikislam.blogspot.co.id

Semenjak meninggalnya Rasulullah SAW, Bilal merasakan kesedihan yang amat mendalam sehingga sampai membuatnya tak kuat lagi hidup di Madinah.

Selama bertahun-tahun dia pindah keluar dari Madinah, dan tak kembali lagi ke Kota tersebut karena sedih setiap teringat tentang Rasulullah yang sangat dicintainya.

Suatu malam Bilal bermimpi didatangi oleh Rasulullah, beliau berwajah sedih sendari bertanya pada Bilal, “Mengapa engkau begini wahai Bilal? Tak rindukah engkau padaku?”.

Bilal terbangun dan langsung menangis, dia menyadari bahwa sudah lama sekali tak mengunjungi keluarga Rasulullah di Madinah.

2Bilal Berkemas dan Pergi Ke Madinah

dainusantara.com

Kemudian Bilal mengemasi barang-barangnya dan segera melakukan perjalanan menuju Kota Madinah. Dengan kondisi tubuh sudah renta, tak meredakan semangatnya untuk menjenguk Sang Kekasih Hati.

Sesampainya di Madinah, Bilal menuju ke makam Rasulullah. Dia mengucapkan salam dan mendoakan Rasulullah, air matanya tumpah menahan segala kesedihan dan kerinduan yang luar biasa.

Setelah dirasa cukup melepas kerinduannya pada Rasulullah, Bilal bangkit dan hendak kembali menuju kampung halamannya.

Dia tak ingin terlalu lama berada di Kota yang banyak mengingatkannya pada Rasulullah yang dicintainya tersebut.

3Bilal Dihadang Cucu-cucu Rasulullah

www.elmina-id.com

Namun sebelum Bilal melangkahkan kakinya, datanglah dua pemuda tampan yang sangat dikenalinya. Ya, mereka adalah Hasan dan Husein, cucu-cucu Rasulullah.

Bilal menangis sambil berpelukan dengan mereka.

“Paman hendak kemana? Kenapa Paman tidak tinggal sebentar di sini?”, tanya Hasan.

“Tinggalah sebentar Paman, dan kumandangkan lah adzan untuk kami. Kami sangat rindu pada suaramu.”, Husein menimpali.

Melihat kedua pemuda itu sangat merindukannya, hati Bilal luluh dan dia pun menyanggupi tinggal sejenak di Madinah untuk mengumandangkan adzan.

4Bilal dan Adzan yang Tak Pernah Selesai Dikumandangkan

www.muslimnetizen.com

Kemudian waktu sholat pun tiba, Bilal naik ke tempat muadzin dan bersiap mengumandangkan adzan. Hal yang telah lama tidak dilakukannya.

“Allahu Akbar…Allahu Akbar…”, suara Bilal menggema ke seluruh penjuru Madinah. Membuat Madinah mendadak menjadi senyap.

Semua orang tertegun, suara itu…ya, suara yang sangat mereka semua rindukan setelah bertahun-tahun lamanya menghilang.

“Allahu Akbar.. Allahu Akbar..”, Bilal terus mengumandangkan adzan dengan suara merdunya. Semua orang berlarian menuju masjid dengan air mata berlinang.

“Asyhaduala illaha Ilallah…”, masjid mulai ramai dikerumuni orang-orang yang penuh haru menyambut waktu shalat sekaligus Sang Muadzin yang telah kembali pulang, Bilal.

Namun tiba-tiba suara Bilal tercekat saat melafadzkan, “Asyhadu ana……Asyahadu ana….”, air mata Bilal tak mampu berhenti mengalir.

Bilal tak mampu mengucapkan nama Muhammad! Bilal terlalu berat mengucapkan nama orang yang amat dicintainya tersebut.

Bilal kemudian terduduk lemas dan menangis tergugu tak berhenti-berhenti, semua orang di Madinah yang telah berkumpul di masjid pun demikian.

Mereka semua teringat kenangan saat-saat Rasulullah masih hidup, betapa Rasulullah sangat berarti bagi hidup mereka semua, bahkan umat Muslim sampai akhir zaman kelak.

Hingga kemudian, adzan tersebut tak pernah selesai dikumandangkan. Karena Bilal tak mampu merampungkan adzan terakhir dalam hidupnya tersebut.