Salah satu dampak dari efek pemanasan global adalah terjadinya hujan asam. Kita sering mendengar tentang hujan asam. Namun, kebanyakan dari kita tidak mengetahui apa itu hujan asam.

Apa bedanya hujan air biasa dengan hujan asam? Hujan asam adalah hujan degan pH air yang kurang dari 5,7 sedangkan pH normal air adalah 7.

Disebut hujan asam karena biasanya terjadi peningkatan kadar asam nitrat dan sulfat dalam polusi udara.

Polutan bahan bakar fosil seperti minyak dan batu bara yang bisa ditemukan dari knalpot kendaraan dapat menyebabklan hujan asam.

Hujan asam sendiri tidak memiliki ciri-ciri khusus yang dapat menjadi pembeda dari hujan air biasa. Dilihat dari warna dan rasa airnya pun hampir sama.

Meski demikian, kulit bisa merasakan hujan asam jika air hujan tersebut mengenai kulit maka akan terasa gata-gatal, memerah, bahkan bisa membuat orang mengalami pusing.

Terjadinya hujan asam dapat menimnulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan makhluk hidup. Hujan dengan kadar keasaman yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada pernapasan manusia.

Misalnya kabut dengan kadar asam sulfat bersama dengan udara akan terhisap dan masuk ke dalam saluran pernapasan manusia.

Tentu hal tersebut dapat membahayakan paru-paru, ia dapat merusak paru-paru bahkan juga berdampak pada kulit yakni menyebabkan luka bakar pada kulit.

Hujan asam juga dapat merusak bangunan. Air dengan kandungan asamnya jika terkena bangunan maka akan memercepat proses korosi.

Proses korosi atau perkaratan dapat terjadi pada beberapa material dari logam. Tidak hanya itu, hujan asam juga dapat melarutkan batu pasir, batu kapur, marmer maupun cat.

Tumbuhan bisa menjadi kering, layu dan mati. Air dari hujan asam yang larut di dalam tanah akan menyapu kandungan nutrisi dalam tanah.

Jika nutrisi ini diserap tumbuhan maka akan menghambat pertumbuhan, daun-daun berguguran dan tumbuhan akan mengalami kekeringan lalu mati.

Hujan asam juga dapat merusak ekosistem perairan. Kandungan asam yang tinggi dalam air laut atau danau dapat mengganggu ikan untuk mengambil nutrisi, garam dan oksigen.

Beberapa spesies biota air akan mati karena tidak mampu bertahan dalam lingkungan yang asam.

Sungguh memprihatinkan bukan? Tanggung jawab berada di pundak kita untuk berhenti ‘berperan’ dalam terjadinya hujan asam tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here