Sebagai seorang manusia biasa tentu saja kita pernah melakukan dosa. Entah itu dilakukan secara senjaga maupun tidak sengaja. Dosa yang dilakukan terus menerus akan menumpuk dan membuat kita semakin terjerumus oleh lautan dosa.

Bila orang yang telah keras hatinya karena telah melakukan banyak dosa maka dia tidak akan merasa peka terhadap maksiat dan tetap biasa saja bila berbuat kesalahan.

Tetapi seseorang yang memiliki keimanan maka saat dia melakukan kesalahan walaupun sedikit hatinya akan merasa tidak tenang, jiwanya terguncang dengan pandangan haram meskipun hanya sedikit saja. Jiwanya yang hanif senantiasa terus berusaha dalam mencari kebenaran.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Sahabat:

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِه

Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk dibawah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُوبِقَاتِ

Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar yang membinasakan.

Tapi Allah telah mengajarkan kepada umat manusia tentang bagaimana caranya untuk menghapus segala dosa yang diperbuat. Allah memiliki sifat pemaaf dan pengasih kepada setiap hambaNYA yang mau untuk bertaubat dan tidak mengulangi dosa lampau yang pernah dia perbuat.

Dengan melakukan taubat dan amalan penghapus dosa maka Allah akan mengampuni segala dosa yang telah diperbuat.

Seperti Sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barang siapa membaca: Subhanallahi Wabihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”

Mengenai makna buih di lautan. Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan,

أي ولو كانت ذنوبه في الكثرة مثل زبد البحر الزبد محركة ما يعلو الماء وغيره من الرغوة

“Walaupun sangat banyak dosanya dalam jumlah, semisal buih-buih bergerak yang berada di permukaan air, bisa juga yang lainnya misalnya jamur (plankton).”

Akan tetapi dengan adanya hadits ini, kita tidak boleh meremehkan dosa, dan berpikir bahwa dosa sangat mudah untuk dihapus dengan bacaan diatas.

Al-Munawi rahimahullah berkata,

“فلا يظن ظان أن من أدمن الذكر وأصر على ما شاء من شهواته وانتهك دين الله وحرماته أن يلتحق بالمطهرين المقدسين ويبلغ منازل الكاملين بكلام أجراه على لسانه ليس معه تقوى ولا عمل صالح “

“orang yang mengandalkan terus dzikir ini akan tetapi ia terus bermaksiat sekehendak syahwatnya, melanggar agama Allah dan kehormatannya, Janganlah ia menyangka akan disamakan dengan orang yang dibersihkan dan disucikan, jangan menyangka ucapannya akan mendapat pahala dengan lisannya, padahal tidak ada ketakwaan (rasa takut) dan amal shalih pada dirinya.”