Apakah dirumahmu ada lampu LED? Jika ia mungkin lampu LED yang kamu pakai teknologinya menggunakan paten penemuan dari seorang anak bangsa, Nelson Tansu. Bagi orang Indonesia pada umumnya, nama Nelson Tansu mungkin belum banyak dikenal. Siapa sangka, namanya telah mengharumkan nama bangsa di berbagai belahan dunia atas prestasi dan dedikasinya di bidang fisika dan teknik elektro.

Nelson lahir di Medan pada Oktober 1977. Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak muda, ia sudah tertarik dengan mata pelajaran fisika. Hobinya adalah membaca biografi fisikawan ternama. Berkat hobinya itu, ia termotivasi untuk menjadi fisikawan ternama.

Kuliah 3 Jurusan

Demi mewujudkan mimpinya tersebut, pada 1995, selepas SMA Nelson langsung melanjutkan studinya di Universitas Wisconsin. Ia mempelajari beberapa hal sekaligus, seperti Matematika Terapan, Teknik Elektro, dan Fisika. Pada awal dia kuliah, dia mengambil Fisika. Ibunya ternyata mengharapkan Nelson untuk tidak menjadi fisikawan.

Waktu itu, dinilai ibunya bukanlah profesi dengan pendapatan yang baik. Untuk menyenangkan ibunya, ia mengambil bidang studi teknik elektro, sambil tetap melanjutkan studinya di Fisika. Tidak disangka, justru karena mempelajari dua bidang tersebut, Nelson bisa menghasilkan berbagai inovasi dan publikasi ilmiah. Ia lulus 3 tahun kurang dengan predikat Summa Cumlaude dan menjadi lulusan terbaik di seluruh Universitas Wisconsin.

Kecemerlangan Nelson menarik beberapa Universitas. Tidak sedikit Universitas yang menawarkannya beasiswa untuk melanjutkan studi. Namun Nelson sudah menetapkan pilihan. Ia akhirnya melanjutkan studi S2 dan S3 nya di almamater nya, Universitas Wisconsin. Ia mendapatkan gelar doktornya di bidang Electrical Engineering pada 2003 saat usianya baru 25 tahun.

Paten Semi Konduktor untuk Teknologi LED

Nelson Tansu

Kini Nelson menjadi guru besar di Lehigh University di Pennsylvania. Ia mengajar mahasiswa di program Master, Doctor, dan Post Doctoral di departemen teknik elektro dan komputer. Riset dan jurnalnya yang sudah ratusan sudah dipublikasikan di berbagai konferensi tingkat internasional. Ia juga telah memiliki 14 paten atas penemuan ilmiahnya.

Ketika ditanya temuannya yang manakah yang menurut dia berefek besar, dia bilang setidaknya ada dua. Yang pertama temuan di bidang semi konduktor yang kemudian dipakai untuk teknologi LED. Yang kedua adalah temuannya di bidang semi konduktor yang dipakai untuk laser pada fiber optic.

Dengan adanya teknologi LED, maka penghematan energi yang bisa dilakukan sangatlah besar. Di Amerika, 22%-30% dari listrik digunakan untuk lampu. Jika penggunakan lampu bisa 10 kali lebih efisien, maka konsumsi listrik bisa dihemat dengan sangat signifikan. Kini, aku Nelson, sekitar 40% LED yang ada di Amerika Serikat dan 80% di Asia itu menggunakan paten teknologi yang ditemukannya.

Ingin Jadi Profesor Sejak Usia 6 Tahun

Nelson Tansu Laheigh University

Nelson sejak kecil sudah memiliki tujuan yang jelas. Ia ingin pergi ke Amerika untuk belajar dan menjadi profesor yang hebat. Hal ini tidak lepas dari pengaruh keluarganya, yang beberapa pamannya mendapat S3 di luar negeri. Di usia 6 tahun, Nelson kecil sudah terekspos dengan kata-kata profesor. Salah satunya kakak sepupunya yang sudah menjadi profesor ternyata memicu Nelson untuk memiliki cita-cita yang tinggi.

Sosok lain yang memicu sukses Nelson adalah Kakeknya. Ada kejadian yang berkesan dalam dirinya di masa kecilnya. Suatu hari ketika ia pulang sekolah pasca bagi raport, Nelson pulang dengan gembira dan bangga menunjukan raportnya yang tertulis ranking 1. Nelson yang sedang senang-senangnya, ternyata tertegun dengan kata-kata kakeknya. “Kenapa kamu sangat senang? Apa hebatnya juara 1 di kelas 2 SD? Menjadi juara 1 itu hal biasa buat kamu. Justru kalau kamu gak juara 1, itu tandanya ada masalah”. Ekpektasi sang kakek yang begitu tinggi ke Nelson justru membuatnya terpicu untuk memberikan yang terbaik.

Tidak Harus Pintar

Nelson Tansu Self Citation

Menurut Nelson, bisa sampai di titik sekarang bukanlah karena pintar atau tidak pintar. Di TK nya, ia bahkan berada di peringkat kedua, dari belakang. Nelson mengakui bahwa dirinya tidak ada harapan di materi seperti menggambar, menari, dan menyanyi. Tapi ternyata di SD, ia menemukan minatnya di bidang Matematika. Berkat dukungan penuh dari keluarga dan kegigihan yang Nelson miliki, tercapailah kini apa yang dicita-citakan Nelson semenjak kecil.

Kisah perjalanan Nelson yang luar biasa ini ternyata dirangkum dalam sebuah komik. Uniknya, yang membuat komik ini adalah istri Nelson sendiri, Adela Gozali Yose. Awalnya komik ini ditujukan hanya untuk anaknya agar dia mau meniru papanya yang rajin membaca. Komik ini pada intinya ingin meyakinkan para pembacanya untuk sering membaca. Ternyata teman-teman Adela mendorongnya agar komik ini dipublikasikan secara lebih luas. Dengan dibantu adiknya yang jago gambar, jadilah sebuah komik tentang kisah hidup Nelson Tansu, “Nelson, The Boy who Loved to Read”.

Menurut Adela, suaminya merupakan orang yang sangat fokus. Nelson di mata Adela adalah orang tidak berhenti melakukan improvement. Masih menurut Adela, Nelson merupakan orang yang passionate. Tidak cuma ke pekerjaan, Nelson juga merupakan sosok yang perhatian ke keluarga, aku Adela.

Masa Sulit Dalam Hidup Nelson

Ternyata sebelum mencapai apa yang diraihnya sekarang, ia harus melewati beberapa masa kehidupan yang sulit. Salah satu masa tersulitnya dalam hidup adalah ketika mendengar kabar bahwa orang tuanya dibunuh dalam perampokan. Pada tahun 2007, rumah orang tua Nelson dirampok. Tidak hanya dirampok, kedua orang tua Nelson juga dibunuh dalam perampokan tersebut.

Waktu itu Nelson yang sudah menjadi profesor di Lehigh sangat terpukul. Bagi Nelson, semua tantangan hidup lain menjadi sangat kecil jika dibandingkan dengan kabar duka dari Medan tersebut. Tantangan ketika kuliah, menjadi profesor, menjadi direktur riset, menghadapi politik kantor, menjadi sangat tidak berarti dibanding kabar tentang orang tuanya itu. Namun Nelson tetap teguh dan melewati masa sulit tersebut.

Pesan Bagi Generasi Penerus Bangsa

Nelson Tansu Inspirasi

Nelson memiliki pesan kepada para pelajar di Indonesia. Menurutnya bangsa Indonesia adalah bangsa dengan potensi yang sangat besar. Populasi generasi muda di Indonesia yang sangat besar, yang akan mendefinisikan bangsa ini di masa depan. Menurutnya dalam menghadapi masa depan, generasi muda perlu memiliki kepercayaan diri, rasa berani bersaing, dan rasa rendah hati. Dengan begitu, potensi bangsa ini yang begitu besar bisa diubah menjadi kekuatan yang nyata.