Tokoh politik Myanmar, Aung San Suu Kyi (70), tengah jadi sorotan. Hal semacam itu menyusul satu pernyataan lawasnya, yang dinilai merendahkan umat Muslim.

“Tidak ada seseorang juga yang memberi tahu kalau saya akan diwawancarai oleh seseorang Muslim,” demikianlah bunyi pernyataan Suu Kyi. Pernyataan itu nampak sesudah Suu Kyi diwawancarai oleh Mishail Husain, untuk program BBC Today, pada Oktober 2013.

Cuplikan itu jadi pembicaraan, sesudah termuat dalam buku biografi Suu Kyi, The Lady and The Generals –ditulis Peter Popham, jurnalis The Independent. Popham mengklaim memperoleh cuplikan Suu Kyi itu dari sumber terpercaya.

Untuk warga Inggris atau Amerika Serikat (barat biasanya), pengucapan Suu Kyi dapat dikira berbuat tidak etis Husain, sebagai pemeluk Muslim. Dapat juga menunjukkan hal diskriminatif jenis : ” diwawancarai seseorang Muslim ‘berbeda’ dengan wawancara berbarengan jurnalis lain. ”

Dalam wawancara lawas itu, Suu Kyi memanglah dicecar bermacam pertanyaan dari Husain, terlebih masalah sikapnya dalam masalah kekerasan pada etnik Rohingya –Muslim minoritas di Myanmar.

Dibawah pemerintahan junta militer Myanmar, etnik Rohingya sering jadi korban dalam perseteruan horizontal dengan sebagian besar pemeluk Budha. Mereka terbunuh, terusir, kehilangan tempat tinggal, bahkan juga negara.

VOA Indonesia mengutip laporan yang masuk di kongres Amerika Serikat. Laporan itu menyebutkan, sekitaran 200 warga Rohingya wafat dalam perseteruan pada th. 2012. Juga sekitaran 140 ribu warga Rohingya hidup dalam keadaan menyedihkan di kamp-kamp pengungsi. Perseteruan ini selalu berkelanjutan pada bebrapa th. selanjutnya.

Suu Kyi sepanjang bertahun-tahun berkesan diam dalam hal kekerasan pada etnik Rohingya. Hal semacam itu dikira kontras dengan reputasinya sebagai pejuang demokrasi. Lebih-lebih mengingat status Suu Kyi sebagai peraih nobel perdamaian pada th. 1991.

Mengenai Popham, menyebutkan kalau cuplikan kontroversial Suu Kyi butuh diangkat dalam bukunya, manfaat menerangkan posisi Suu Kyi yang sering dikira ambigu waktu melihat Muslim. Walau demikian, seperti ditulis The Telegraph, Popham menyangsikan apabila Suu Kyi seseorang yang anti-Muslim. Ia berikan contoh, dengan tunjukkan kenyataan kalau pacar pertama Suu Kyi (1988) yaitu seseorang intelektual Muslim di Myanmar.

Memetik tanggapan negatif dari Indonesia

Pernyataan Suu Kyi itu juga memetik tanggapan negatif dari netizen. Di Indonesia, ada tuntutan supaya komite nobel –yang berkedudukan di Norwegia– mencabut hadiah nobel perdamaian yang di terima Suu Kyi.

Tuntutan itu termaktub dalam satu petisi di Change. org, yang digagas oleh beberapa ratus aktivis, penulis, serta intelektual asal Indonesia. Diantara beberapa pemrakarsa petisi ikut terdaftar beberapa nama, seperti Emerson Yuntho, Goenawan Mohamad, Yunarto Wijaya, Ulin Yusron, Fadjroel Rachman, Guntur Romli, dan sebagainya.

” Sebagai peraih (nobel) perdamaian pernyataan rasis malah bikin perdamaian jadi semu, menimbulkan sikap sama-sama berprasangka buruk bahkan juga perseteruan, ” sekian tercatat dalam petisi. Sampai artikel ini ditulis (29/3/2016), petisi itu sudah mencapai kian lebih 29 ribu support.

BBC Indonesia mengutip pernyataan dari salah seseorang pemrakarsa petisi, Agus Sari –pegiat Umum Virtue Institute. Menurut Agus, petisi itu utama lantaran posisi Indonesia yang juga ikut menyimpan pengungsi Rohingya. Juga Indonesia serta Myanmar keduanya sama negara anggota ASEAN.

” Tetapi, seperti politik biasanya, minoritas ini (Rohingya) tidak bakal mempunyai kemampuan apa-apa. Dahulu kita sangka dia (Suu Kyi) tidak berani berlaku, dibawah desakan (junta militer). Saat ini, sudah bebas nyatanya (tetaplah) tidak ada sikap, ” kata Agus, menyoroti posisi politik Syu Kyi yang tengah diatas angin.

Sebagai info, Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Suu Kyi sukses memenangkan penentuan umum Myanmar pada Januari 2016. Sekitaran dua minggu lantas, orang keyakinan Suu Kyi, Htin Kyaw juga resmi dipilih jadi Presiden Myanmar. Keadaan berikut yang semakin jadi besar harapan umum supaya Suu Kyi selekasnya angkat nada tegas masalah Rohingya.

Di Change. org, ada juga petisi lain yang menyoroti diamnya Suu Kyi dalam masalah etnis Rohingya. Petisi itu diperuntukkan segera pada Suu Kyi, dengan judul nan tegas : ” Break the Silence! End the Genocide! ” (” Berhenti berdiam diri! Hentikan Genosida! “). Digagas oleh Burma Task Force, petisi itu telah mendulang kian lebih 3. 700 sinyal tangan.

Disamping itu, editor luar negeri Vox, Max Fisher, coba lihat sikap serta pernyataan kontroversial Suu Kyi dalam konteks yang lebih luas. Menurut Fisher, Suu Kyi yaitu product iklim sosial-politik Myanmar yang diwarnai perseteruan sepanjang beberapa puluh th.. Dalam perseteruan itu minoritas (termasuk juga etnik Rohingya) jadi korbannya –tak cuma masalah ungkapan kebencian namun juga ” pembersihan etnis. ”

Dalam konteks itu, Fisher lihat kalau tambah lebih utama menyoal efek perseteruan yang semakin besar (termasuk juga masalah “pembersihan etnis”), daripada mempersoalkan pernyataan seseorang Suu Kyi.