vibiznews.com

Awalnya Jualan Batik, Akhirnya Wanita Ini Dirikan Blue Bird Group

Posted on

Media massa sedang dihebohkan oleh aksi para supir taksi blue bird yang memprotes adanya Grab dan Uber. Aksi protes tersebut dipicu oleh pendapatan supir taksi blue bird yang kian menurun karena penumpang beralih menggunakan layanan taksi online.

Sebagaimana yang kita tahu, blue bird memang sudah lebih dulu ada di Jakarta, menjadi bagian dari tarnsportasi umum yang digunakan masyarakat, jauh sebelum munculnya transportasi berbasis aplikasi ponsel.

Nah, armada taksi blue bird ini termasuk ke dalam brand taksi yang banyak disenangi masyarakat. Selain karena tampilannya yang elegan, pelayanannya juga cukup baik.

Bicara soal taksi blue bird, tahukah kamu siapa pendiri brand taksi berwarna biru ini?

Pejuang dari Malang

biografiku.com
biografiku.com

Pendiri Taksi Blue Bird adalah seorang perempuan pejuang dari Malang bernama Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono yang dilahirkan di Malang pada 17 Oktober 1921.

Ia berasal dari keluarga berada. Namun, pada usia 5 tahun keluarganya bangkrut. Kehidupannya pun berubah drastis.

Merantau ke Jakarta

indonesia.travel
indonesia.travel

Mengalami kehidupan yang sulit, tidak mematahkan semangatnya untuk mengalah pada keadaan. Ia bertekad untuk memperkaya diri dengan ilmu dan kepintaran.

Maka, dengan tekad yang dimiliki, ia pun memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke Jakarta. Ia berhasil masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan menumpang di rumah pamannya di Menteng.

Kemudian jalan hidup membawanya bertemu dengan Djokosoetono, dosen yang mengajarnya, pendiri serta Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian.

Djokosoetono pun menikahinya selagi ia masih kuliah, hingga lahirlah 3 anak. Di sepanjang tahun 1950-an, keluarga kecil Djokosoetono melewati kehidupan yang sangat sederhana.

Mereka kemudian menempati rumah dinas atas pekerjaan suaminya di Menteng. Mereka dikepung oleh lingkungan yang mewah dan orang-orang dengan kemapanan materi di atas rata-rata.

Jualan Batik

myredcart.wordpress.com
myredcart.wordpress.com

Keluarga kecil Djokosoetono hanya memiliki uang pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. Untuk menambah penghasilan keluarga, Ibu Djoko pun berjualan batik door to door.

Namun, penjualan batik yang sempat sukses itu kemudian menurun. Hingga Ibu Djoko beralih kemudi, yaitu berjualan telur di depan rumahnya.

Saat itu, telur masih dianggap sebagai bahan makanan eksklusif yang hanya dikonsumsi orang-orang menengah ke atas. Perlahan-lahan usaha telur tersebut terus meningkat.

Sayangnya, kegembiraan tersebut berubah menjadi kesedihan lantaran sang suami mengidap penyakit yang tak kunjung sembuh. Pada akhirnya, sang suami wafat pada tanggal 6 September 1965.

Lahirnya Taksi Blue Bird

geolocation.ws
geolocation.ws

Setelah kepergian Pak Djoko, PTIK dan PTHM memberikan dua mobil bekas, yaitu sedan Opel dan Mercedes. Di sinilah awal mula lahirnya Taksi Blue Bird.

Dibantu ketiga anak dan menantu, maka dimulailah usaha taksi gelap Ibu Djoko. Uniknya, usaha taksi terebut menggunakan penentuan tarif sistem meter yang kala itu belum ada di Jakarta. Untuk order taksi, ia menggunakan nomor telepon rumahnya.

Chandra selaku anak dari Ibu Djoko, ditugaskan menerima telepon dari pelanggan. Oleh karena itulah orang-orang menamakan taksi itu sebagai Taksi Chandra.

Taksi Chandra yang hanya difasilitasi oleh dua buah mobil sedan itu kemudian melesat popular karena pelayanan yang luar biasa. Order demi order pun muncul tanpa henti.

Dari hasil keuntungan saat itu, ia bisa membeli mobil lagi. Usaha yang semula ditujukan untuk menjaga kestabilan ekonomi keluarga, kemudian berkembang menjadi bisnis yang digeluti dengan serius.

Mereka bisa menambah jumlah mobil sendiri lebih dari 60 buah lho!

Sempat Tidak Dapat Izin Resmi

flipermag.com
flipermag.com

Memasuki tahun 1970-an, sebuah kabar gembira muncul. Ali Sadikin selaku Gubernur DKI Jakarta pada saat itu mengumumkan bahwa Kota Jakarta akan memberlakukan izin resmi bagi operasional taksi.

Peluang ini langsung ditanggapi dengan cepat oleh Ibu Djoko. Maka, begitu memasuki tahun 1971, ia segera berangkat ke DLLAJR untuk mendapatkan surat izin operasional.

Namun di luar harapan, kehadirannya untuk meminta izin resmi taksi selalu ditolak karena alasan bisnis yang ia punya masih kecil. Namun Bu Djoko, tak pernah putus asa. Ia terus mengajukan izin meski penolakan yang didapat sudah tak terhitung jumlahnya.

Hingga muncul ide untuk mengumpulkan isteri janda pahlawan yang telah menitipkan mobil mereka untuk dikelola sebagai taksi.

Mereka mendatangi kantor Gubernur dan menghadap langsung Ali Sadikin. Ali Sadikin tersentuh dan menetapkan agar Bu Djoko diberikan izin usaha untuk mengoperasikan taksi.

Inovasi Blue Bird

mobilmo.com
mobilmo.com

Di tahun itu pula ia mencari nama dan logo taksi. Ide datang dari dirinya sendiri, hingga diberilah nama Taksi Blue Bird. Pada tahun 1985, 13 tahun setelah Taksi Blue Bird lahir, armada bertambah hingga mencapai 2.000 taksi.

Sebuah inovasi baru juga dilakukan Blue Bird Group. Armada biru tersebut meluncurkan Silver Bird, yang merupakan executive taxi pada tahun 1993.

Di negara-negara lain, belum ada executive taxi. Jenis taksi yang beredar adalah general taxi dengan batas tarif yang telah ditentukan pemerintah.

Awal mulanya, blue bird hanya memiliki 2 kekuatan taksi, kini telah ada lebih dari 20.000 unit armada. Karyawannya sekarang berjumlah 30.000 yang berkarya di kantor pusat dan cabang.

Tutup Usia

biografiku.com
biografiku.com

Pada tahun 1990-an kesehatannya merosot akibat serangan kanker paru-paru. Sambil terus memimpin perusahaan, ia menyediakan banyak waktu, perhatian dan tenaga untuk menyembuhkan penyakitnya.

Sampai pada akhirnya, pada tanggal 10 Juni 2000, beliau menutup usia di RS Medistra.

[td_smart_list_end]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *