Dalam sebuah rumah tangga, tentu selalu ada pemimpinnya. Nahkoda yang memegang kendali, dan juga benteng yang selalu siap melindungi. Dialah Ayah, sosok yang menjadi teladan utama anak-anaknya. Seorang pemimpin yang paling berat tanggung jawabnya.

Allah berfirman dalam surat At-tahrim ayat 6 :

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”*

Sudah jelas perintah Allah, bahwasanya setiap yang beriman kepada-Nya hendaklah menjaga dirinya dan keluarga nya dari api neraka.

Ayah memainkan peran penting dalam hal penjagaan ini. Melindungi keluarganya dari berbagai ancaman godaan kemaksiatan dan dari hal-hal yang menjerumuskan kepada neraka jahannam.

kiki widyasari nikahan
www.fimadani.com

Posisi seorang ayah adalah posisi yang sangat strategis. Dalam bukunya Bersama Ayah Meraih Jannah, Ustadz Sholikhin mengatakan “Ayah bukan sekadar ayah biologis, namun menjadi syaikh dalam tarbiyah ruhiyah”*. Dari sini kita tahu bahwa seorang ayah berperan penting dalam membangun ideologi dan intelektualitas anak-anaknya. Ayah berperan penting dalam mentarbiyah ruhiyah anak-anaknya. Dan ayah juga berperan dalam menjaga “kesehatan keislaman” anak-anaknya.

Ibarat api yang semakin berkobar, upaya musuh dalam memerangi pemikiran muslim di Indonesia atau kita sebut dengan Ghazwul Fikri kini semakin marak dan merajalela. Menyerang keseluruh kalangan, menyusup ke semua sudut.

Kejamnya, ia masuk ke kalangan remaja-remaja yang daya berfikirnya masih labil, dan emosinya belum stabil. Remaja-remaja yang masih mencari jati diri adalah sasaran empuk pegiat pemikiran sesat. Disinilah peran ayah sangat di perlukan. Seorang ayah bertanggung jawab atas penjagaan pola pikir anak-anaknya.

Seorang ayah bertanggung jawab untuk mengarahkan fikroh anak-anaknya. Seorang ayah bertanggung jawab membentengi anak-anak nya dari pemikiran sesat yang banyak di tawarkan. Seorang ayah haruslah selalu memperdulikan perkembangan anaknya.

Mulai dari sekolah, apa yang didapat di sekolah, pergaulan, bagaimana ia bergaul dengan teman-teman, bahkan hingga gaya berfikir anak-anaknya yang fikiran tersebut terbias pada perilaku dan perbicaraan si anak.

Boleh dikata dunia sudah tidak aman. Perang pemikiran ini menyerang dari segala arah yang bahkan kebanyakan Ayah tidak menyadarinya. Sekolah-sekolah sudah banyak dimasuki orang-orang JIL dan teman-temannya.

Kebanyakan dari mereka tidak menampakkan jati dirinya, mengajak anak-anak sekolah untuk berinteraksi, berkomunikasi dengan gaya yang “indah” tapi menyesatkan.

Mereka sengaja menumbuhkan pemikiran-pemikiran sesat kepada anak-anak Ayah di sekolah. Karena anak-anak adalah sasaran yang paling empuk untuk di sesatkan keislamannya.

Lalu bagaimana seharusnya Ayah dalam membentengi anak-anaknya dari pemikiran-pemikiran sesat tersebut?

Ada beberapa hal yang harus dilakukan seorang Ayah dalam sebuah keluarga untuk mempersiapkan diri menjadi tameng bagi keluarganya dari serangan-serangan pemikiran sesat yang bertebaran bak debu jalanan :

Memperdalam Ilmu Islam

Sebuah pisau harus sering di asah agar tajam. Sebuah tameng besi yang kokoh harus melalui beberapa tahap pembuatan untuk menjadi tameng yang kuat dan sempurna. Begitu juga ayah, seorang ayah harus memiliki pemahaman islam yang luas dan dalam.

Rajin menambah wawasan keislaman melalui buku-buku bacaan atau kajian-kajian keislaman. Agar ketika menghadapi pertanyaan-pertanyaan “aneh” dari anak-anaknya, ayah tidak gelagapan dan mampu meyakinkan sang anak kepada kebenaran.

Memilah dan memilih Referensi dalam Memperdalam Ilmu Islam

Hati-hati ayah! Jangan tertipu oleh manis nya judul buku, jangan terkecoh oleh unik nya tema Kajian. Anda harus berhati-hati, memperdalam dan meluaskan wawasan keislaman sangat diperlukan, namun memilih dan memilah sumber juga tak kalah penting dalam belajar.

Membangun Komunikasi Kepada Anak

Hal ini sangat penting untuk dilakukan oleh seorang ayah. Dari komunikasi yang dibangun, ayah mampu mengidentifikasi sang anak. Apakah anaknya aman dari virus-virus pemikiran sesat, atau justru anak nya sudah terjangkit virus tersebut.

3 hal tersebut hanyalah langkah dasar untuk seorang Ayah memainkan perannya sebagai tameng keluarga. Masih banyak langkah-langkah lainnya yang harus di persiapkan oleh sang Ayah.

Ayah bukan hanya tempat untuk meminta uang, tapi Ayah adalah tempat untuk melindungi keluarga dari bahaya-bahaya yang menyesatkan pemikiran islam.

SHARE