Nama Samadikun Hartono kini mencuat lagi. Samadikun kembali menjadi pemberitaan setelah 14 tahun menghilang dalam status buron.

Samadikun pada 2003 divonis Mahkamah Agung bersalah dalam kasus penyelewengan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Skandal BLBI mungkin skandal yang melibatkan uang negara terbesar dalam sejarah.

Ratusan triliun tak dapat dipertanggungjawabkan keberadaannya. Sementara para taipan pemilik bank yang menerima pinjaman BLBI banyak yang kabur ke luar negeri dengan status tersangka. Hingga kini masih banyak koruptor BLBI yang berkeliaran di luar Indonesia.

Sebenarnya apa bentuk penyelewengan dalam BLBI dan bagaimana asalnya bantuan pinjaman yang jumlahnya fantastis ini bisa turun?

Krisis 1998

en.citizendaily.net
en.citizendaily.net

Krisis ekonomi 1998 juga merambat ke krisis moneter dan perbankan. Banyak bank yang kolaps karena masyarakat menarik dananya dari bank.

Akhirnya guna menyehatkan bank-bank yang sakit tersebut pemerintah turun tangan. Presiden Soeharto memimpin sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan serta Produksi dan Distribusi di Bina Graha pada September 1997.

Hasil pertemuan pemerintah akan membantu bank sehat yang mengalami kesulitan likuiditas, sedangkan bank yang sakit akan dimerger atau dilikuidasi. Belakangan, kredit ini disebut bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Pada Mei 1998, BLBI yang dikucurkan mencapai Rp 164 triliun, dana penjaminan antarbank Rp 54 triliun, dan biaya rekapitalisasi Rp 103 triliun. Adapun penerima terbesar hanya empat bank, yakni BDNI Rp 37,039 triliun, BCA Rp 26,596 triliun, Danamon Rp 23,046 triliun, dan BUN Rp 12,067 triliun.

Penyimpangan

rri.co.id
rri.co.id

BLBI yang dikucurkan pemerintah melalui Bank Indonesia mencapai Rp 164 triliun. Total bank yang menerima mencapai 48 bank.

Namun, menurut audit BPK terhadap penggunaan dana BLBI oleh ke-48 bank tersebut menyimpulkan telah terjadi indikasi penyimpangan sebesar Rp 138 triliun.

Artinya lebih dari 80 persen dana BLBI yang awalnya digunakan untuk menyehatkan perbankan digunakan untuk memperkaya para pemiliknya.

Misalnya yang dilakukan Samadikun Hartono pemilkik Bank Modern. Seperti dikutip dari merdeka.com, pada 1997, Bank Modern menerima bantuan likuiditas Bank Indonesia sebesar Rp 2,014 triliun.

Namun oleh terdakwa dan Presdir Bank Modern saat itu yakni Bambang Triyanto, dana itu justru digunakan membeli promissiory note dari PT Total Central Finance, PT PLN, dan PT Gunung Sewu Kencana sebesar Rp 17,25 miliar. Terdakwa disebut telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 11,9 miliar.

Kompak Kabur ke Luar Negeri

www.merdeka.com
www.merdeka.com

Dana dari negara yang jumlahnya ratusan triliun itu digunakan untuk memerkaya para pemiliknya pada saat rakyat Indonesia menderita krisis.

Banyak diantara mereka yang dijatuhi hukuman. Beberapa ada yang dibebaskan, namun banyak yang melarikan diri ke luar negeri mencari selamat.

Mantan presdir Ficorinvest, Supari Dhirdjoprawiro dan S. Soemeri divonis hukuman 1,5 tahun penjara oleh PN Jakarta Selatan pada tanggal 13 Agustus 2003. Saat ini masih bebas karena mengajukan kasasi.

Dirut Bank Servitia, David Nusa Wijaya divonis 8 tahun penjara oleh MA pada tanggal 23 Juli 2003, sempat melarikan diri ke AS namun tertangkap di sana.

www.jpnn.com
www.jpnn.com

Pemilik Bank Harapan Sentosa, Hendra Rahardja dihukum seumur hidup, namun melarikan diri ke Australia dan meninggal di sana, Eko Adi Putranto dan Sherly Konjogian, divonis 20 tahun, namun juga melarikan diri ke Australia.

Pemilik Bank Surya, Bambang Sutrisno dan Adrian Kiki Ariawan, dihukum seumur hidup, namun melarikan diri ke Singapura. Pada Januari 2014, Adrian Kiki akhirnya diekstradisi dari Australia.

Pemilik Bank Bank Indonesia Raya Atang Latif, melarikan diri ke Singapura sebelum kasusnya disidangkan. Pemilik Bank Modern Samadikun Hartono, divonis 4 tahun. Kabur ke Jepang sejak 2003 dan baru ditangkap di Shanghai April 2014.

Penangkapan Samadikun Hartono

photo.sindonews.com
photo.sindonews.com

Samadikun awalnya memang bisa lolos ke luar negeri karena mengelabui aparat. Saat sudah tahu divonis bersalah, ia mengajukan izin berobat ke Jepang selama 14 hari. Istrinya menjadi penjamin saat itu.

Entah apa yang ada di benak pejabat Kejaksaan Agung, mereka memberikan izin untuk berobat. Setelah itu Samadikun tidak ada kabar rimbanya.

beritagar.id
beritagar.id

Baru pada April 2016, Samadikun ditangkap saat usai menonton GP Shanghai. Ia dicocok aparat keamanan Cina yang sebelumnya berkoordinasi dengan Badan Intelijen Negara (BIN).

Kepala BIN, Sutiyoso yang mendampingi Presiden Jokowi di Inggris langsung terbang ke Cina untuk mengurus pemulangan Samadikun ke Indonesia. Akhirnya pada Kamis 21 April 2016, Samadikun tiba di Indonesia dan langsung diserahkan ke Kejaksaan Agung

SHARE