Sekarang ini ilmu pengetahuan dan teknologi informasi semakin maju. Dan teknologi modern telah menemukan ‘bayi tabung’.

Bayi tabung adalah teknik pembuahan dimana sel telur dibuahi di luar tubuh wanita. Cara tersebut dilakukan untuk mengatasi masalah kesuburan ketika metode lainnya tidak berhasil.

Masalah tentang bayi tabung ini menjadi kontroversi, memunculkan banyak pendapat, sebenarnya boleh atau tidak?

Terlepas dari hal itu mari kita lihat bagaimana proses pembuatan bayi tabung tersebut secara umum.

Proses bayi tabung adalah proses dimana sel telur wanita dan sel telur pria diambil untuk menjalani proses pembuahan.

Pembuahan tersebut dilakukan di luar kandungan dengan cara mempertemukan sperma dan ovum pada suatu tabung yang dirancang secara khusus.

Setelah terjadi pembuahan kemudian menjadi zygot, zygot tersebut dimasukkan ke dalam rahim hingga dilahirkan.

Nah, pengambilan sel telur dilakukan dengan dua cara, dapat dilakukan dengan cara indung telur dipegang dengan penjepit dan dilakukan pengisapan.

Cairan folikel yang berisi sel telur lalu diperiksa di mikroskop untuk ditemukan sel telur.

Cara kedua dengan USG, folikel yang tampak pada layar ditusuk dengan jarum melalui vagina lalu dilakukan pengisapan folikel.

Untuk pengambilan sperma pria dapat dilakukan dengan beberapacara antara lain onani, senggama terputus, jima’ dengan menggunakan kondom, atau sperma mimpi basah.

Melihat proses di atas, terdapat beberapa hal yang menjadikan bayi tabung menjadi haram yakni, sperma diambil dari pihak laki-laki yangdisemaikan kepada indung telur wanita yang bukan istrinya lalu dicangkokkan ke dalm rahin istrinya.

Sperma dan indung telur yang disemaikan tersebut diambil dari sepasang suami istri, lalu dicangkokkan ke dalam rahim wanita lain.

Dimana wanita tersebut bersedia mengandung persemaian benih mereka.

Sperma dan indung telur yang disemaikan berasal dari laki-laki dan wanita lain kemudian dicangkokkan ke dalam rahim istri.

Jumhur ulama menghukuminya haram, sebab sama halnya dengan zina yang akan mencampur adukkan nashab.

Akibatnya hukum anak tersebut tidak sah dan nashabnya hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkannya.

Namun bayi tabung tersebut itu halal jika sperma diambil dari suami dan indung telurnya dari istrinya sendiri yang setelah disemaikan lalu dicangkokkan ke dalam rahim istrinya.

Hal tersebut boleh dilakukan jika suami istri benar-benar memerlukan inseminasi buatan untuk mendapatkan keturunan.

SHARE