Etika dalam mencari ilmu selama ini sering diabaikan. Penghormatan kepada guru dianggap sebagai hal sepele, bukan masalah serius dan penting.

Padahal indikator keberkahan sebuah ilmu merasuk ke dalam jiwa seseorang, salah satunya memperhatikan bagaimana interaksi (etika) dengan guru.

Kini, saatnya kita kembali mendulang adab-adab mencari ilmu yang telah dicontohkanoleh para ulama sehingga ilmu dapat memberi manfaat, bukan hanya manfaat dunia, namun juga manfaat bagi ruhani.

Setidaknya, ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam memperbaiki etika kita ketika menimba ilmu.

1Menyucikan Hati dari Hal yang Dimurkai Allah

aswaja.com

Adab pertama ini memberi gambaran kepada kita bahwa sebelum memulai aktivitasnya, terlebih dahulu seorang pencari ilmu mengevaluasi kondisi hati.

Adakah penyakit hati yang masih mengendap dalam dirinya sehingga ia harus membersihkannya terlebih dahulu?

“Seyogyanya bagi seorang penuntut ilmu menyucikan hatinya dari kotoran-kotoran sehingga ia layak menerima ilmu, menghafal, dan memanfaatkannya.” (Imam Nawawi)

Jika seseorang datang dengan membawa sebuah wadah kotor untuk diisi madu di dalamnya, maka orang yang akan membeli madu tersebut pasti akan berkata, Cucilah terlebih dahulu wadah yang kotor ini, baru kamu isi dengan madu.

Dalam masalah dunia saja, wadah yang kotor perlu dibersihkan, maka bagaimana dapat rahasia-rahasia ilmu Allah itu justru diletakkan di dalam hati-hati yang dekil?

Pada satu kesempatan, Imam Malik memberi nasihat kepada muridnya Imam Syafi`i. Kala itu, Sang Guru merasa takjub dengan kecerdasan yang dimiliki oleh Syafi`i.

Nasihat tersebut bunyinya, “Wahai Muhammad, bertakwalah kepada Allah. Jauhilah maksiat. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala telah meletakkan cahaya di dalam hatimu maka janganlah kamu padamkan dengan maksiat-maksiat kepada-Nya.”

Adab pertama ini merupakan langkah awal bagi para pencari ilmu, tak terkecuali para guru, untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang malah menjadi penghalang masuknya ilmu dalam sanubari.

Ilmu tidak terletak pada ijazah, raport, dan gelar akademik semata, tapi pada manfaat dan amal sebagai buahnya ilmu. Hal itu tak akan mungkin terwujud tanpa hati yang bersih.

2Niat Ikhlas karena Allah

inaserikawa.blogspot.com

Suatu hari, Abdullah bin Abbas membawa tali pengikat kendaraan gurunya Ubay bin Ka`ab. Ia tuntun kendaraan gurunya itu.

Sang guru bertanya, “Ada apa ini, wahai putra Abbas?” Dijawab, “Demikianlah kami diperintahkan untuk menghormati guru-guru kami.” Abdullah tetap memandu jalannya kendaraan sang guru sampai ke tempat tujuan.

Sufyan bin Uyainah berkata, “Saat aku berusia empat tahun, aku telah dapat membaca Al-Qur`an. Saat berusia tujuh tahun, aku telah dapat menulis hadits. Saat berusia lima belas tahun, ayahku berkata kepadaku:

‘Wahai anakku, sekarang engkau telah beranjak dewasa. Maka lakukanlah kebaikan niscaya engkau akan termasuk sebagai ahli kebaikan.

Ketahuilah, seseorang tidak akan diberi kebahagiaan berkumpul dengan para ulama kecuali orang yang taat kepada mereka.

Maka taatilah para ulama, niscaya engkau akan memperoleh kebahagiaan. Berkhidmatlah kepada mereka, pasti engkau akan mendapatkan ilmu mereka.’

Kata Sufyan, “Sejak mendengar nasihat ayahku tersebut, aku selalu condong kepada para ulama, tidak berpaling sedikitpun dari mereka.”

bahasa.aquila-style.com
bahasa.aquila-style.com

Adab kedua memberi pengertian bahwa pencari ilmu mesti menanggalkan kebanggaan nasab, kedudukan, dan harta yang ia miliki.

Ia lepaskan demi terjun secara total meraih ilmu lewat para guru dan ulama dengan penuh keihlasan kepada Allah Swt.

3Mengambil Faedah (Manfaat) di mana Saja Berada

idawah.com.au

Pencari ilmu mesti jeli melihat, mengamati, dan meraih manfaat dari tiap jengkal langkah hidupnya. Tidaklah berlalu sesaat dari umurnya, kecuali ia isi dengan kebermanfaatan.

id.wikipedia.org
id.wikipedia.org

Abu Al-Bakhtary berkata: “Duduk bersama suatu kaum yang lebih mempunyai ilmu daripada saya, lebih saya sukai tinimbang bersama kaum yang derajat ilmunya di bawah diriku”

Mengapa? Jawabnya, “Karena, jika aku duduk bersama kaum yang derajat pengetahuannya di bawahku, aku tidak bisa mengambil manfaat.

Namun jika aku duduk bersama orang-orang yang lebih berilmu dari diri saya ini, aku bisa mengambil manfaat sebanyak-banyaknya.”

4Sederhana dalam Mengonsumsi Makanan dan Minuman

unlikelyhomemaker.wordpress.com

Manusia makan dan minum untuk hidup. Namun hal demikian tidak lantas menjadi alasan untuk berlebih-lebihan, khususnya bagi pencari ilmu.

Bahkan, seorang ulama bernama Sahnun berkata: “Ilmu tidak akan diperoleh bagi orang yang makan hingga kekenyangan.”

theguardian.com
theguardian.com

Dalam wasiat penuh hikmah dari Lukman Al-Hakim kepada putranya, “Wahai anakku, jika perut telah terisi penuh pikiran akan tertidur, hikmah akan berhenti mengalir, dan badan akan lumpuh dari beribadah.”

“Aku tidak pernah merasa kenyang sejak enam belas tahun silam. Karena kekenyangan itu membebani badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, membuat kantuk, dan melemahkan orang tersebut dari beribadah.” (Imam Syafi’i)