Setiap memasuki bulan Ramadan, maka setiap muslim akan merasakan suka cita yang mendalam. Begitupula yang dirasakan oleh kami, mahasiswa perantauan. Kenapa kami berbahagia? Tentunya kebahagiaan kami sama dengan yang dirasakan oleh umat muslim lainnya, karena di bulan ini pintu ampunan dan pintu keberkahan terbuka lebar.

Namun, selain rasa bahagia yang membuncah di dalam dada, kami pun merasakan kesedihan yang mendalam. Tentunya bagi kamu yang sama-sama mahasiswa perantauan, atau pernah menjadi mahasiswa perantauan, akan memahami perasaan kami ini.

Kami mahasiswa perantauan bukanlah makhluk paling menyedihkan di dunia. Walaupun kami jauh dari orang tua, namun kami selalu merasa bahagia dan ceria, karena kami yakin bahwa kedua orang tua kami selalu menyayangi kami, sekalipun mereka jauh dari mata. Kami bisa tertawa bersama kawan, kami bisa melakukan banyak petualangan dan aksi-aksi konyol bersama-sama. Tapi tidak pada bulan Ramadan.

Saat bulan Ramadan mulai menjelang, maka di telinga-telinga kami seperti mendengar suara-suara yang memanggil untuk pulang. Terkadang, kami berpikir bahwa itu adalah suara dari hati orang tua kami di kampung halaman nun jauh di sana. Sehingga seketika itu pula terbersit rindu yang tidak mampu kami tahan.

Ramadan selalu mengingatkan kami dengan wajah ibu yang selalu menyiapkan makan sahur dan berbuka. Ramadan mengingatkan kami dengan wajah ayah yang tidak pernah bosan mengingatkan kami untuk selalu beribadah. Ramadan mengingatkan kami dengan wajah kakak dan adik yang seringkali berebutan makanan di meja makan, Ramadan pun mengingatkan kami dengan suasana masjid kampung yang selalu ramai. Dan Ramadan selalu mengingatkan kami untuk pulang.

Beginilah nasib kami mahasiswa rantau. Ramadan jauh dari kampung halaman penuh dengan cerita, pengorbanan dan kisah yang tidak bisa dilupakan. Mulai dari bangun sahur kesiangan, berburu takjil bersama kawan, sholat tarawih di kostan, serta cerita berburu tiket supaya bisa bersua dengan orang tua di kampung halaman saat lebaran.

Beginilah nasib kami mahasiswa rantau. Berusaha menerima Ramadan dengan penuh suka cita, walaupun harus menahan rindu yang sebentar lagi tertunaikan saat waktunya pulang. Rindu Ramadan bersama orang-orang tersayang.

 

 

SHARE
Penulis adalah penyuka anak-anak yang suka bercerita lewat tulisan dan suka duduk di sebuah sudut untuk sekedar melihat dalam diam.