Belajar Dari Keteladanan

Posted on

Kita hidup di zaman paling akhir, jauh dari masa kenabian, Jauh dari awal mula wahyu diturunkan. Ada yang bilang, kita ini hanya Islam keturunan karena terlahir dari orang tua yang jua Islam.

Padahal, ketika kita sadar menyadari hakikat iman, tentu Islam yang melekat pada jiwa-jiwa kita bukan lagi lekatan keturunan.

Melainkan kesadaran paling dalam, serta keimanan yang tumbuh, subur dengan siraman ketakwaan. Seperti Maryam, yang tahu betul hakikat takwa, sucinya ia, berkhalwat dengan Rabbnya dalam sebuah mihrab cinta.

Sungguh, dunia yang menggoda hilang dari hati dan pandangannya.

Seperti Asiah yang sadar betul hakikat takwa, hidup di bawah bayang-bayang kekejaman seorang Raja, tapi itu justru menjadi siraman iman dan takwanya hingga makin menyuburlah ia hingga ia berdoa pada Rabbnya, “Ya Rabb, bangunkan untukku rumah di syurga.”

Abdurrahman Bin ‘Auf faham betul makna takwa, sholatnya, ketekunannya membaca Al Quran, dan Hajinya, adalah bukti takwa kepada Allah ta’ala. Baginya perniagaan adalah untuk mewujudkan panggilan langit.

Pun Abu Dzar Al Ghifari, hidupnya ia abdikan untuk melawan penyalahgunaan kekuasaan dan kekayaan. Untuk menjatuhkan yang salah dan menegakkan yang benar. Mengambil alih tanggung jawab untuk menyampaikan peringatan dan nasihat.

Apalagi kalau bukan karena iman dan takwa yang bersemayam dalam jiwa?

kiki widyasari sujud
iinxsolihin16.blogspot.com

Masih banyak kisah keteladanan yang patut kita jadikan hikmah dalam menjalani liku hidup dan mengambil langkah.

Mungkin kita bukanlah ummat dimasa kenabian, tapi kita bisa menjadi sebaik-baik ummat jika belajar dari keteladanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *