Apa yang kamu jawab saat ditanya, “Siapa idolamu?”. Mungkin anak zaman sekarang tak lagi malu mengatakan bintang Korea ini dan itu, penyanyi hip hop ini dan itu, stand up comedian ini dan itu. Tapi zamanku dulu, semua orang saat ditanya, “Siapa idolamu?”, rata-rata jawabnya sama, “Nabi Muhammad SAW.”

Kerenkah? aku tak tahu. Tebakanku, jawaban yang hampir seragam itu muncul lebih karena “keterpaksaan” sosial. Jika tidak menjawab Nabi Muhammad SAW, seolah-olah Islam yang menempel di identitasnya adalah Islam KTP. Masih ada rasa malu, meski mungkin mereka tak paham benar nama-nama anak Rasulullah. Mereka lebih paham David Beckham dan Victoria punya anak bernama Brooklyn.

“Keterpaksaan” Sosial itu mungkin bisa terlihat saat menjelang Ramadhan tiba. Ada ungkapan, kita harus bergembira menyambut datangnya Ramadhan. Tapi benarkah hati kita gembira menyambut Ramadhan? Lebih gembira menjelang Ramadhan atau menjelang Idul Fitri? Aku tak tahu. Tapi nurani kita tahu.

Happy_Ramadhan

Kita selalu mengungkapkan Ramadhan adalah bulan mulia nan penuh pengampunan. Tapi apakah kita lantas benar-benar memburu kemuliaan dan memohon ampunan secara serius? Kita selalu mendengungkan Ramadhan adalah bulan sabar. Lantas apakah kita berhenti mengeluh saat rasa makanan berbuka tidak enak? Apakah kita berhenti mengoceh, “Duh panas ni, puasa lagi!”

Kita selalu memasang target, satu bulan khatam Al Quran satu kali. Namun bolehkah kita bertanya jujur pada diri kita, sudah khatamkah kita Ramadhan tahun lalu? Aku tak tahu. Tapi nurani kita tahu.

Kita mengusung misi selalu shalat tarawih di masjid. Lantas, silahkan nilai seberapa sering kita membolos tarawih Ramadhan tahun lalu? Berapa kali tarawih terlewat karena masih banyak pekerjaan? Berapa kali tarawih terlupa karena sinetron Ramadhan yang lebih asyik? Aku tak tahu. Tapi nurani kita tahu.

happy_ramadhan_by_enuazizah-d42f0x0

Kita men-share meme Marhaban Ya Ramadhan diiringi ucapan permintaan maaf ke seluruh kontak di telepon pintar kita. Kita mengubah profil picture dengan tampilan diri memakai peci dan koko atau dengan jilbab bolak-balik yang lebar sembari menelungkupkan tangan di depan dada. Tentu tak lupa dengan senyum mengembang. Seolah kita ingin menunjukkan ke dunia, “Hei akulah orang yang paling gembira menyambut Ramadhan!”. Tapi entahlah, kita senyum lebar karena difoto dan akan ditampilkan di media sosial, atau senyum lebar bergembira menyambut Ramadhan. Aku tak tahu. Tapi nurani kita tahu.

Kita sibuk menampilkan diri menjadi pribadi yang paling terdepan mengucapkan, “Marhaban Ya Ramadhan, datanglah aku bergembira menyambutmu.” Semua status media sosial kita penuhi dengan ucapan-ucapan Marhaban Ya Ramadhan. Namun tahukah kita apa makna sejati dari marhaban?

Marhaban-ya-Ramadhan

Marhaban dan tarhib berasal dari satu akar yang sama yakni rahb. Rahb bermakna luas dan lapang. Para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan Ramadhan karena makna ahlan wa sahlan adalah selamat datang dalam makna sempit. Namun mereka menggunakan Marhaban Ya Ramadhan karena Ramadhan harus disambut dengan perasaan yang lapang, sambutan nan meriah lagi luas dan panjang dan tentu saja dengan kegembiraan.

Ya, kata kuncinya ada kegembiraan. Marhaban adalah ungkapan selamat datang dengan penuh kegembiraan. Sebuah kegembiraan yang tidak dimanipulasi. Bukan kegembiraan dalam wajah berwujud senyum keterpaksaan, namun kegembiraan hati, kerinduan yang amat memuncak disebabkan terlalu lama berpisah dengan kekasih. Matanya tak bisa terpejam karena ingin segera bertemu kekasih hati. Waktunya bertemu sudah ditentukan, maka ia tak sabar ingin segera terbangun dalam hari ia bertemu dengan kekasihnya. Luapan perasaan gembira seperti itulah seharusnya kita hadirkan saat menyambut Ramadhan. Benarkah kita gembira menyambut Ramadhan? Lagi-lagi aku tak tahu. Tapi nurani kita tahu.

SHARE
Penulis Freelance, tinggal di Depok