blogerish.com

Berhasil Terbitkan Novel Best Seller; Anak Tunanetra Ini Dikagumi Banyak Orang

Posted on

Menulis Novel

sidomi.com
sidomi.com

Namanya Nabiel Ghali Azumi. Awalnya, Nabiel memang sudah menyukai dunia tulis-menulis. Nabiel Ghali Azumi berhasil merampungkan novel setebal 130 halaman.

Berbekal laptop dengan aplikasi tombol bersuara, dia menulis kisah hidupnya dalam novel 130 halaman. Semangatnya sederhana. Dia tidak pernah menganggap kebutaan yang dialami sebagai kekurangan.

Karya gubahannya diberi judul, Nafas Sang Pekat. Novel ini ibarat cerita perjalanan hidup Nabiel sendiri; yakni kisah tentang seorang bocah penyandang tunanetra sejak lahir.

Tentang bagaimana orangtua tokoh dalam novelnya berharap agar sang anak bisa melihat seperti bocah seusianya. Namun, nyatanya, kebutaan itu tak bisa disembuhkan dan si tokoh pun harus menerima kenyataan ini dengan pasrah

Buta Sejak Lahir

mapionline.com
mapionline.com

Nabiel menganalogikan kehidupan manusia seperti wayang. Di dalam dunia manusia, manusia diibaratkan sebuah wayang yang harus setia mengatakan sendika dawuh kala perintah telah ditetapkan oleh sang pemberi hidup selaku dalang dari semua cerita.

Sepenggal kalimat tersebut mengawali novel karya Nabiel Ghali Azumi. Di atas kalimat itu tertulis subjudul ‘Rencana Allah’.

Nabiel tampaknya paham benar apa yang di dunia sudah ada yang mengatur. Termasuk kebutaan yang disandangnya sedari lahir.

Bahkan, dia beranggapan hal itu sebagai anugerah. Buktinya, dia malah menerbitkan buku yang ditulisnya sendiri.

Buta Bukan Halangan untuk Berkarya

blogerish.com
blogerish.com

Nabiel sengaja merangkum kisah hidupnya dalam buku berjudul Nafas Sang Pekat, Mengukir Cerita-1 tersebut.

Nabiel mengaku bahwa ia sudah suka menulis ejak kelas III SDLB Tunanetra Aisyiyah Ponorogo.

Sebagai remaja yang tinggal di Panti Asuhan Tunanetra Aisyiyah Jalan Ukel, Kelurahan Kertosari, Babadan, Nabiel tidak merasa bahwa kebutaan menjadi penghalang untuk berkarya.

Ada 8 Subjudul

sally-jenkins.com
sally-jenkins.com

Nabiel langsung bersemangat begitu ditanya buku hasil karya kali pertamanya tersebut. Dia sengaja membagi delapan subjudul dalam buku setebal 130 halaman itu.

Selain Rencana Allah, subjudul lain di antaranya, Lenyapnya Kenikmatan Allah, Ikhtiar Berlapis Doa, Pesan dari Ibunda Ayahku, Pernikahan dan Kekhawatiran, Penyejuk Qalbu Memberantas Pilu, Nyanyian Sang Gulita, dan Pena yang Berbeda.

Kedelapan subjudul tersebut merupakan rangkaian kisah Nabiel dari kelahiran hingga masuk sekolah Play Group (PG).

Kisah sengaja berakhir saat Nabiel masuk sekolah menengah pertama. Sebab, dia merencanakan bakal mengulas kelanjutannya di buku kedua dan seterusnya, total ada 4 seri.

Kisah Mengharukan Masa Kecil Nabiel

puisipilopoly.blogspot.com
puisipilopoly.blogspot.com

Berbagai hal dituangkan remaja asli Desa Sumur Agung, Kecamatan Sumberrejo, Bojonegoro itu dalam bukunya. Kisah mengharukan tergambar saat dia mulai bertanya tentang kondisinya.

Pada subjudul pertama, Nabiel menuliskan kisah kelahirannya. Dia mengaku mendapat cerita dari kakek dan neneknya saat sudah berusia empat tahun.

Nabiel menggambarkan kebahagian kedua orang tuanya menunggu proses kelahiran kali pertama.

Dia merupakan anak pertama pasangan Muhammad Ali Ridho dan Siti Muslimah. Namun, kebahagiaan orang tuanya berubah sedih lantaran kondisi kecacatan yang dialaminya.

Nabiel mengaku lebih banyak di rumah dan merenung begitu mengetahui kondisinya berbeda. Namun, dia tidak pernah menganggap hal itu sebagai kekurangan. Nabiel malah bersemangat untuk belajar.

Mulai Menulis Novel Saat SMP

nasional.epublika.co.id
nasional.epublika.co.id

Nabiel mulai menulis novel saat duduk di kelas IX SMPLB. Dia mengaku menulis saban hari tergantung mood.

Saat sedang semangat, dia bisa menghabiskan berjam-jam di depan laptopnya. Komputer jinjing miliknya itu memang dilengkapi aplikasi tombol bersuara untuk memudahkan menulis.

Dia menghabiskan waktu enam bulan menulis novel pertamanya itu. Selain di dalam kamarnya, dia juga menulis di warung kopi tak jauh dari panti.

Kemampuannya memang sudah dilirik seorang gurunya di panti hingga akhirnya menjembatani karyanya dicetak di Jogjakarta November 2015 lalu.

Nabiel menuliskan kisah ini bukan untuk mengharap belas kasihan. Ia hany berharap semoga karyanya, tulisannya, bisa menjadi motivasi bagi yang lain. Ia juga berujar bahwa ia bercita-cita ingin menjadi pujangga.

[td_smart_list_end]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *