simomot.com

Malulah Kita! Lihatlah Mereka Bertaruh Nyawa, Berjuang Demi Pendidikan

Posted on

Pendidikan memang menjadi kebutuhan di era jaman sekarang, apalagi di indonesia, masyarakat terpencil pun akan bertaruh apapun demi  sebuah pendidikan, bahkan bertaruh nyawa sekalipun.

Karena keterbatasan fasilitas akses ke sekolah ataupun ke kota, banyak para siswa berani menantang jalan yang berat,  mereka memberikan gambaran potret pendidikan Indonesia pedalaman.

Dimana masih banyak sekali kesenjangan pendidikan di kawasan negara ini, semakin masuk ke pedalaman semakin sulit dan seperti seadanya, semakin ke kota semakin banyak fasilitas dan kemewahan yang akan didapat.

Tapi harus kita ketahui bersama bahwa walau semakin sulit fasilitas yang didapat justru semakin semangat yang didapatkan, contoh beberapa daerah di bawah ini.

Siswa Sekolah Dasar Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan

bonepos.com
bonepos.com

Puluhan siswa SD Inpres 675 Hulo, Desa Hulo, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone,  di daerah sulawesi selatan merupakan siswa yang berani, bagaimana tidak mereka harus mempertaruhkan nyawa demi sekolah, demi pendidikan yang mereka kejar.

Mereka harus menyeberangi sungai dengan meniti dan bergelantungan pada sebuah kawat sepanjang kurang lebih 30 meter yang berfungsi sebagai jembatan. Di bawah jembatan tersebut terdapat sungai yang dalamnya 3 meter.

Jika hujan, tidak ada satupun siswa termasuk warga yang berani melintasi diatas sungai ini karena licin. Para siswa pun terpaksa membolos sekolah.

Sebab, kawat tersebut merupakan satu-satunya akses mereka ke sekolah. Bahkan sejumlah orang tua terpaksa memberhentikan anaknya untuk bersekolah, lantaran mereka tidak ingin mengambil resiko kehilangan nyawa anaknya.

Siswa MTS Ngemplak Boyolali Jawa Tengah

tribunnews.com
tribunnews.com

Siswa MTS Ngemplak Kabupaten Boyolali, merupakan para siswa yang pemberani, mereka harus melintasi sungai Pepe melalui jembatan sepanjang 50 meter yang hanya terbuat dari sebilah papan di atas saluran irigasi yang menghubungkan kedua desa ini.

Ketinggian jembatan dari sungai sekitar 25 meter. Siswa dan warga melintasi jembatan ini untuk mempersingkat waktu, lantaran apabila harus memutar ke jembatan di Pasar Colomadu menempuh jarak 8 hingga 10 kilometer.

Siswa Kampung Langgai, Sumatera Barat

m.covesia.com
m.covesia.com

Kampung Langgai yang diketahui masuk dalam wilayah Nagari Gantiang Mudiak Utara Surantiah (Gamus), Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat ini, merupakan daerah yang sangat terpencil.

Di kampung tersebut tidak ada listrik, tidak ada sinyal handphone dan sangat jauh dari pasar, mereka ke pasar seminggu sekali.

Para anak sekolah disana setiap hari harus menantang maut dengan melewati  “Titian Benang Sehelai”, yaitu titian jembatan yang terbuat dari seutas kawat baja sepanjang 50 meter.

Karena jika melewati jembatan alternatif sangat jauh, setara 1,5 jam jika jalan kaki dan tidak mungkin mereka melewati itu.

Sebelum itu pun mereka haru smelwati persawahan yang cukup jauh sebelum sampai ke sekolah.

Tidak ada pancaran rasa cemas dan takut ketika melewati titian itu, karena keberanian untuk menimba ilmu untuk meraih harapan masa depan  memudarkan ketakutan itu.

Walau sebenarnya kapan saja mereka bisa mati melewati jembatan mengerikan itu, tapi mereka mempunyai keyakinan tinggi dan harapan kuat, Tuhan akan membantu mereka dan mereka akan jadi generasi bangsa yang maju.

Siswa Sekolah Dasar Maros, Sulawesi Selatan

simomot.com
simomot.com

Kisah para siswa SD menantang maut juga ada di Desa Layya, Maros, Sulawesi Selatan. Bocah-bocah SD dari daerah itu terpaksa melewati jembatan gantung untuk menyeberang ke sungai tetangga untuk pergi-pulang sekolah.

Jalan lain juga terlalu jauh, mereka hanya bisa melewati itu untuk pergi ke sekolah.

Siswa Sekolah di Desa Sanghiang Tanjung, Banten

efekgila.com
efekgila.com

Para siswa dari daerah Banten ini harus berjuang melewati jembatan bertaruh nyawa, bayangkan saja, salah sedikit menginjak atau pegangan, mereka bisa jatuh dan tenggelam ke sungai besar dan dalam.

Hal ini dilakukan karena memang itulah satu-satunya jalan tercepat mereka untuk pergi ke sekolah, kalau harus memutar mereka bisa terlambat sekolah.

Itulah contoh mereka yang berjuang demi pendidikan, dengan keterbatasan mereka, justru muncul semangat yang tinggi untuk meraih masa depan, lalu bagaimana dengan kita? Dengan banyak fasilitas dan kemudahan justru kita bermalas-malasan, malulah kita.

 

[td_smart_list_end]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *