Bidan Desa Terpencil Tulis Surat Terbuka di Facebook untuk Presiden Jokowi, Butuh 9 Jam untuk ke Puskesmas

Posted on

Dari pelosok Desa Air Liki Baru, Tabir Barat, Kabupaten Merangin, seorang bidan menulis surat ‘cinta’ untuk Presiden Joko Widodo.

Surat inidiisi curahan hatinya, Erwan Dinatha mengunggah surat tersebut melalui akun Facebooknya. Di dalamnya diisi narasi suka duka ia menembus akses berliku-liku menuju desa tempatnya bertugas.

Erwan melukiskan keprihatinan dirinya serta istrinya yang berprofesi sebagai petugas kesehatan di Desa Air Liki.

Karena keadaan akses jalan raya yang susah bikin warga mesti bertarung nyawa untuk memperoleh sarana kesehatan. Contoh kecil, untuk membawa warga yang akan melahirkan mesti digotong sarung yang disangga bambu oleh dua orang di dua sisi untuk hingga ke perahu.

Perjuangan baru saja diawali. Perahu tadi membawa ibu yang akan melahirkan menuju puskesmas. Pikirkan, saat tempuh ke tempat tujuan hingga sembilan Jam!

“Tahukah bapak, jangankan untuk mencapai rumah sakit, untuk mencapai puskesmas pun butuh waktu sembilan jam. Jalan yang bukan main, lumpur, bebatuan, bukit, adalah rute yang memang biasa kami lalui,” begitu penggalan curahan hati yang Erwan tulis dan unggah di Facebook pribadinya pada Minggu (13/3/2016).

Dalam suratnya, Erwan mencantumkan photo ia serta istrinya tengah membawa seseorang ibu yang bakal melahirkan didalam perahu menuju puskesmas.
Tersebut cuplikan komplit surat Erwan di account Facebooknya :

Assalamualaikum Wr. Wb.
Kepada yang terhormat Bapak Presiden Jokowi
Saya mengirim surat ini dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada bapak. Bapak sudah sangat menjadi pahlawan untuk saya dan mungkin untuk seluruh masyarakat Indonesia karena telah bersedia menjadi sosok yang bertanggung jawab mengatur negeri Indonesia tercinta ini.

Pak, saya dan istri saya adalah petugas kesehatan yang hanya sedang mengabdi di Desa Air Liki Baru, Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi

Saya di sini hanya ingin menyampaikan, bahwa di zaman yang sudah memiliki berbagai macam alat berteknologi tinggi dan kehidupan serba modern ini, ternyata ada suatu kehidupan yang sangat mengiris hati. Di mana untuk menjadi sehat pun butuh nyawa untuk dikorbankan.

Pak, pernahkah bapak melihat ibu yang akan melahirkan ada di dalam sehelai sarung dan diangkat menggunakan satu batang bambu? Di sini saya menyaksikan di mana ibu yang akan melahirkan diangkat menggunakan tandu dan berjalan melalui jalanan terjal dan tanah merah licin. Kemudian tidak berhenti sampai sana, ibu tersebut dinaikkan ke atas perahu tanpa atap untuk mencapai tempat tujuan demi menyelamatkan calon penerus bangsa.

Pak, tahukah perasaan kami sebagai bidan dan tenaga kesehatan harus membawa pasien gawat darurat melewati kegawatdruratan sarana dan prasarana di zaman semodern ini? Jika terjadi keterlambatan rujukan, siapa yang harus kami salahkan, pak? Bahkan dokter di sini pun hanya ada satu dokter umum.

Bagaimana negara ini bisa sehat pak?

Miris hati saya pak, demi tingkatkan kesehatan ibu dan anak, bidan desa berani taruhkan nyawa. Tahukah bapak? jangankan untuk mencapai rumah sakit, untuk mencapai puskesmas pun butuh waktu sembilan jam. Dan jalan yang bukan main, lumpur, bebatuan, bukit adalah rute yang memang biasa kami lalui.

Saya orang yang dilahirkan di sini dan orang yang mengalami setiap getir kesulitan di sini. Tapi enam bulan saya di sini cukup membuat saya banyak menghela napas sakit. Harus menyaksikan sendiri pengorbanan seorang wanita dan istri saya melewati setiap detik dengan tubuh kaku lemas, lidah yang bahkan sudah tak mampu untuk berucap, napas yang sudah sangat mencekik dan nadi yang bahkan hampir behenti berdenyut melewati setiap ketegangan demi menyelamatkan jabang bayinya.

Tidakkah hati bapak teriris? Jika wanita yang diangkat menggunakan sehelai sarung itu adalah bagian dari keluarga bapak?

Tidakkah hati bapak tersentuh? Jika bidan yang berani taruhkan nyawa itu bahkan tidak meminta jasa tambahan dibandingkan mereka yang hanya duduk manis di ruang ber AC atau bahkan duduk manis melahap sejumlah uang negara yang padahal bisa digunakan untuk membantu sehelai sarung itu menjadi sarana yang lebih layak.

Saya harap bapak bisa memahami setiap bulir kalimat yang saya sampaikan. Sekali lagi tidak mengurangi rasa hormat saya kepada bapak.

Salam satu Indonesia
Wassalam.
Erwandinatha Amkep

Facebook Erwin Dinata

Ungkapan isi bidan yang bertugas di desa terpencil ini cukup menyita perhatian pengguna Facebook. Ade Herman, terenyuh atas kondisi yang dialami bidan Erwan lewat tulisannya.

“Ku hanya bisa merasakan betapa sulitnya keadaan yang bang Erwan Dinatha rasakan, semoga terwujud impian anda dgn segera, aamiin,” tulisnya.

“Ya Allah kasihan banget ya, butuh pengorban yang besar nian untuk bawa pasien keluar kayak begitu. Semoga masyarakat di sana selalu sehat-sehat,” tulis Yusna Caem.

“Surat terbuka ini baiknya juga disampaikan kepada Bapak Alharis selaku Bupati Merangin. Mengapa pemerintah daerah lamban menanggani infrastruktur yang krusial dan tenaga medis yang lebih memadai,” tulis Firdaus Sudirman Z.

Sampai tulisan ini dibuat, surat terbuka Erwin Dinata sudah di like sebanyak 231 dan di share 111 kali. Pembaca juga bisa ikut menyebarkan status bidan tersebut ke akun facebooknya Erwin Dinata.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *