kaskus.co.id

Biografi R.A. Kartini; Perjuangan yang Tak Lekang Oleh Waktu

Posted on

Mungkin tidak ada yang mengira, wanita yang hanya mengenyam hidup selama 25 tahun, namun perjuangannya tetap diingat dan menginspirasi orang banyak hingga lebih dari 1 abad.

Bahkan wanita bangsawan ini digelari pahlawan nasional oleh negara yang baru lahir berpuluh-puluh tahun sepeninggalnya. Sejajar dengan pahlawan kemerdekaan yang bertempur di medan perang.

Kartini memang tidak mengangkat senjata, tapi peluru pemikirannya merobohkan tirani penindasan, pembodohan, dan diskriminasi pada kaumnya.

Untuk kamu khususnya kaum wanita yang hari ini bebas berpendidikan, bebas bekerja, bahkan menjadi pemimpin masyarakat. Jangan pernah lupakan tokoh yang satu ini.

Pelajari biografi Raden Ajeng Kartini yang singkat namun penuh makna, dan ambil inspirasi untuk laju kehidupanmu. Yang pertama adalah latar belakang beliau. Klik Next

Latar Belakang R.A. Kartini

smart-pustaka.blogspot.com
smart-pustaka.blogspot.com

Berasal dari kalangan bangsawan Jawa, R.A. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Kota Jepara. Tanggal yang sampai hari ini diperingati sebagai hari nasional, hari Kartini.

Lahir dari kalangan priyayi, ayahnya adalah Adipati Jepara berdarah Keraton Jogja, R.M.A. Ario Sosroningrat. Ibunya dari kalangan ulama jawa, M.A. Ngasirah, putri Kyai Haji Madirono.

Jepara yang sempat masuk dalam wilayah Mataram, namun semenjak ‘geger’ perebutan tahta Mataram yang melibatkan VOC, wilayah utara Jawa termasuk Jepara dikuasai oleh VOC sebagai balas jasa dari raja Mataram.

Artinya di masa ayah Kartini, sebenarnya secara de facto VOC lebih berkuasa di Jepara ketimbang sang adipati.

Namun beruntung bagi Kartini, Belanda masih memberikan keistimewaan bagi keluarga bangsawan untuk mengenyam pendidikan modern Belanda. Walau bagi anak putri seperti Kartini masih dibatasi oleh keluarga.

Pendidikan dan Pemikiran Kartini

smart-pustaka.blogspot.com
smart-pustaka.blogspot.com

Seperti putri dari keluarga kadipaten lainnya, Kartini sempat merasakan pendidikan sekolah Belanda ELS (Europese Lagere School) dan menguasai bahasa Belanda. Namun ayahnya membatasinya hingga usia 12 tahun saja sesuai adat Jawa.

Kemajuan pemikirannya malah banyak diperoleh melalui korespondensi dengan sahabat penanya orang-orang Belanda. Kartini juga banyak membaca buku-buku dan majalah terbitan Belanda.

Korespondensi dengan kirim mengirim surat inilah yang membuatnya dikenal, pemikiran, dan cita-citanya.

Tentu karena Kartini muda mendapat pendidikan dari Sekolah Belanda dan banyak bertukar pikiran dengan orang Eropa, corak pemikirannya pun banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Eropa.

Melihat kemajuan kaum wanita masyarakat Eropa, terutama dalam hal pendidikan, timbul keinginan Kartini untuk memajukan kehidupan kaum wanita di tanahnya sendiri.

twicsy.com
twicsy.com

Selain pengaruh pemikiran Eropa, Kartini juga belajar agama kepada seorang ulama besar bernama Kyai Haji Sholeh Darat. Mbah Sholeh Darat juga nantinya menjadi guru dari dua orang pahlawan lain, yakni K.H. Hasyim Asyari dan K.H. Ahmad Dahlan.

Kartini memang di kenal kritis terhadap agama. Dilihat dari surat-suratnya yang berisikan keluhan tentang ritual agama yang minus pemahaman.

Dikisahkan, kepada gurunya mbah Sholeh Darat itu, beliau berani mengkritik tentang ibadah membaca kitab suci tanpa memahami kandungannya.

Mbah Sholeh Darat hanya tersenyum dan kelak menjawab kritikan Kartini dengan mengarang kitab tafsir Faidhurrahman, kitab tafsir pertama Al Qur’an dalam bahasa Jawa.

Nantinya kitab ini dihadiahkan sang Kyai kepada Kartini di hari pernikahannya dengan Adipati Rembang, K.R.M Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Pernikahan dengan Adipati Rembang

wikimedia.org
wikimedia.org

Cita-cita akan pendidikan tinggi adalah impian terbesar Kartini, walaupun tidak mungkin untuk sekolah di Belanda, tapi Kartini punya kesempatan untuk sekolah pendidikan Guru di Batavia.

Sebuah surat cukup mengagetkan ditujukan kepada Nyonya Abendanon, orang yang membukakan kesempatan Kartini untuk bersekolah. “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…

Apakah Kartini sudah menanggalkan cita-citanya untuk menjadi guru dan mencerdaskan kaumnya dan lebih memilih untuk menikah? Tentu tidak, justru saat itulah titik kedewasaan Kartini mulai nampak.

Kartini lebih dewasa untuk menanggalkan egonya, dan lebih melihat kebaikan pada penikahannya. Kebaikan yang pertama Kartini mengikuti tradisi pernikahan sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga, adat, dan Agamanya.

Yang kedua, karena pernikahannya dengan pemimpin Kadipaten Rembang K.R.M Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Kartini bisa mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra dilingkungannya.

Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga mendorong Kartini agar dapat menulis sebuah buku.

Perjuangan Kartini

kaskus.co.id
kaskus.co.id

Perjuangan Kartini bukanlah perjuangan fisik seperti pahlawan lainnya. Perjuangan paling besarnya adalah menyadarkan semua orang tentang arti keadilan kepada wanita dan kemanusiaan.

Baik itu kepada kaum pribumi sebagai sasaran utama, atau kepada kaum terdidik Eropa sebagai sasaran perantara. Teman pena Eropanya melalui korespendensi surat-suratnya menjadi sasaran perantara.

Surat-surat Kartini bukan hanya keluhan kepada teman-temannya. Akan tetapi di balik itu Kartini juga membangun kesadaran mereka, bahwa kami wanita pribumi juga manusia yang ingin dimanusiakan.

Manusia yang bisa sedih karena kekangan, manusia yang mendambakan pendidikan, serta manusia yang menghendaki persamaan.

irinastephanie.blogspot.com
irinastephanie.blogspot.com

Jalan perjuangan Kartini akhirnya terbuka setelah salah satu kawan penanya J.H. Abendanon berinisiatif untuk mengumpulkan surat-surat Kartini dan membukukannya.

Terbitlah buku Door Duisternis tot Licht yang artinya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” pada tahun 1911, tujuh tahun setelah wafatnya Kartini.

Buku yang di cetak ulang di Eropa, menyadarkan bangsa Eropa tentang hak-hak kaum pribumi. Kuat dugaan politik etis belanda kepada pribumi, muncul dari kesadaran-kesadaran ini.

Buku itu lalu dicetak ulang dalam bahasa Melayu, yang nantinya akan merubah cara pandang bangsanya sendiri.

Kartini juga sempat mendirikan sekolah wanita di Rembang, berkat dukungan suaminya. Sekolah wanita ini selanjutnya diteruskan oleh Van Deventer salah seorang tokoh politik etis.

Berkembanglah sekolah Kartini di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, dan Madiun.

Kartini Meninggal Sebagai Pejuang

rotasinews
rotasinews

Kartini mengandung anak pertamanya dengan suaminya Adipati Rembang. Bahkan bagi calon buah hatinya itu sudah disiapkan nama yakni Soesalit Djojoadhiningrat.

Tak disangka Soesali adalah anak pertama dan anak terakhirnya. Kartini wafat beberapa hari setelah persalinan. Kartini meninggal sebagai pejuang, perjuangannya untuk menjadi ibu, perjuangan untuk melahirkan anak yang dikaruniakan Tuhan kepadanya.

Soesalit putra tunggal Kartini tumbuh baik dan dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dengan pangkat terakhir Mayor Jendral TNI AD.

[td_smart_list_end]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *