Oleh : Ati Fadhilah (Kabiro Hubungan Antar Bangsa Salam UI 19)

Hari ini buka puasa bersama teman SD, besok buka puasa bersama sobat SMP, lusa buka puasa bersama geng SMA, dan sederet list buka puasa bersama dengan kawan lama atau satu kelompok tertentu. Libur telah tiba (khususnya pada sebagian besar mahasiswa), hal tersebut jadi pendukung utama untuk mempersiapkan buka puasa bersama dimana-mana.

Namun, ada hal yang seringkali kita luput darinya. Ya, pada mereka yang sebagian besar waktu dalam hidupnya diluangkan untuk mengurus kita, lantas seringkali kita lupa dan meninggalkan mereka begitu saja demi jadwal-jadwal pertemuan buka puasa bersama yang seolah hanya akan berakhir jika bulan Ramadhan berakhir. Ya, mereka adalah orangtua kita.

Betapa moment ini juga dinanti-nanti mereka untuk bisa berkumpul bersama anak-anaknya. Bahkan untuk sekedar menanti kabar anaknya buka puasa dengan apa, namun sayangnya anaknya sedang sibuk menyusun janji-janji buka puasa bersama yang padatnya luar biasa. Sementara disaat yang sama pula, dibelahan bumi berbeda, ada anak-anak lain yang sedang sibuk tertawa foya-foya, foto selfie dengan beraneka gaya, hingga telat salat isya dan tarawihnya atau bahkan tidak sempat lagi, hingga malam semakin larut dengan kondisi terlalu kenyang perut. Jam malam tiba-tiba tidak berlaku lagi, lanjut saja sampai sahur nanti.

Sepiring nasi dan lauk sederhana yang disiapkan dengan penuh cinta di rumah begitu hambar dirasa tanpa kehadiran lengkap anggota keluarga. Jika kita belum bisa meresapi kalimat muhasabah “Seandainya ini ramadhan terakhir kita”, mari ganti menjadi “Seandainya ini Ramadhan terakhir mereka”, apakah yang sudah kita lakukan untuk membahagiakan mereka? Membahagiakan mereka dengan sesederhana kehadiran kita saat santap sahur dan berbuka bersama Ayah, Bunda, Adik dan Kakak.

Tidaklah salah menyambung silaturahiim dengan buka puasa bersama, namun kekuatan ukhwuah tidak hanya diukur lewat itu bukan? Tidak diukur lewat berapa banyak buka bersama yang kita hadiri, pun juga tidak diukur dengan banyaknya pilihan menu berbuka direstoran/luar dari pada menu buatan orangtua dirumah.

Bulan ramadhan, bulan ampunan, dan bulan birrul walidain. Lelah dan haus yang kita rasa saat puasa sungguh jauh tak sebanding dengan peluh orangtua yang selama ini merawat kita.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam 2 tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ke dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu,” (Q.S. Al-Luqman :14)

Ada yang selama ramadhan waktu luangnya justru semakin sedikit, tak sempat tilawah dan lupa sedekah. Tapi seharusnya itu bukan kita.

Ada yang selama Ramadhan dirinya semakin jarang dirumah dan sibuk dengan dalih untuk kepentingan jamaah sampai melupakan orang-orang yang menanti dirumah. Tapi seharusnya itu bukan kita.

Ada yang selama Ramadhan selalu dirumah tapi sibuk memanjakan diri sendiri, bermalas-malasan, dan tidur sepanjang hari dengan dalih sedang puasa. Itu juga seharusnya bukan kita.

Sudahkan kita menanyakan kabar Ayah-Bunda jika memang benar-benar belum bisa menemui mereka? Adakah dalam daftar agenda Ramadhan kita “membantu bunda” atau “tarawih bersama Ayah”? Adakah sebait do’a yang selalu kita panjatkan untuk mereka disela-sela keinginan kita?

Semoga kita tak jadi penerus Anak Nabi Nuh. Aamiin.

Waallahu a’lam bishawab

 

SHARE