Survei yang sebelumnya sudah dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Bogor, dengan melibatkan 1.500 siswa SMA dan 75 guru, menghasilkan persentase yang cukup mengejutkan.

Sebanyak 67.9% responden menganggap telah terjadi kekerasan di sekolah, berupa kekerasan verbal, psikologis, dan fisik. Pelaku kekerasan pada umumnya adalah teman, kakak kelas, adik kelas, guru, kepala sekolah, dan preman di sekitar sekolah.

Sedangkan 27.9% siswa SMA mengaku ikut melakukan kekerasan, dan 25.4% siswa SMA mengambil sikap diam saat melihat tindakan kekerasan tersebut.

Oleh karena itu, solusi yang bisa dilakukan oleh orang tua atau wali untuk mencegah dan menangani kasus ini, jika anaknya menjadi korban intimidasi (bullying) di sekolah, yaitu:

1Satukan Persepsi Suami dan Istri (Orang Tua)

frp-images.ca

Sangat penting bagi suami-istri untuk memiliki satu suara dalam menangani permasalahan yang dihadapi anak-anak di sekolah. Karena kalau tidak, anak akan bingung, dan justru akan semakin tertekan.

Kesamaan persepsi yang dimaksud meliputi beberapa aspek, misalnya: apakah orang tua perlu ikut campur, apakah perlu datang ke sekolah, apakah perlu menemui orang tua pelaku intimidasi, termasuk apakah perlu lapor ke polisi, dll.

2Pelajari dan Kenali Karakter Anak

solusisehatku.com

Perlu orang tua sadari, bahwa salah satu penyebab terjadinya bullying adalah karena ada anak yang memang mmeiliki karakter mudah dijadikan korban. Salah satunya adalah sikap “cepat merasa bersalah”, atau penakut.

Dengan mengenali karakter anak, tindakan antisipasi berbagai potensi intimidasi yang menimpa bisa lebih cepat dilakukan dan segera menemukan solusi. Orang tua pun menjadi lebih siap secara mental.

3Jalin Komunikasi dengan Anak

gokids.com.au

Tujuan komunikasi dengan anak adalah agar anak merasa berani dan nyaman bercerita kepada orang tuanya ketika mengalami intimidasi di sekolah.

Komunikasi dengan anak ini menjadi kunci berbagai hal, termasuk untuk memonitor apakah suatu kasus sudah terpecahkan atau belum.

4Jangan Terlalu Cepat Ikut Campur

huffingtonpost.com

Masalah antar anak-anak seharusnya bisa diselesaikan sendiri oleh mereka, termasuk di dalamnya kasus-kasus bullying, sebagai salah satu bentuk pendidikan mental, keberanian, dan proses pengambilan keputusan dalam diri anak.

Oleh karena itu, prioritas pertama yang harus diberikan kepada anak yaitu memupuk keberanian dan rasa percaya diri. Kalau anak punya kekurangan tertentu, terutama kekurangan fisik, perlu ditanamkan kepercayaan diri terus-menerus.

5Bicara dengan Orang yang Tepat

2012books.lardbucket.org

Jika sudah memutuskan untuk ikut campur dalam menyelesaikan masalah, maka langkah selanjutnya yaitu pertimbangkan masak-masak apakah akan langsung berbicara dengan pelaku intimidasi, orang tuanya, atau gurunya.

Hindari berbicara dengan orang tua pelaku intimidasi, karena khawatir masalahnya jadi melebar kemana mana dan situasi menjadi sangat emosional.

6 Ajari Anak Hadapi Masalahnya dengan Gagah Berani

bibliocrunch.com

Dalam beberapa kasus, anak-anak kadang merespon intimidasi yang dialaminya di sekolah dengan minta pindah sekolah.

Jika dituruti, itu sama saja dengan lari dari masalah. Jadi, sebisa mungkin beri anak pengertian untuk tetap bersekolah seperti biasa (tidak pindah sekolah).

Kalau muncul masalah lagi di sekolah, maka harus diselesaikan dengan penuh keberanian dan tanggung jawab, bukan dengan ‘lari’ ke sekolah lain.

Jika anak terus-menerus lari dari masalah, maka di manapun tempat ia berlindung, ia tidak akan memiliki imunitas terhadap permasalahan yang kerap terjadi di sepanjang hidup manusia.

7Jangan Larut dalam Emosi

peacemedicalcenter.com

Usahakan semaksimal mungkin untuk tidak larut dalam emosi, sampai melabrak teman si anak korban bullying atau orang tuanya.

Semua langkah yang diambil harus terkendali oleh akal sehat. Jika tidak, masalah bisa melebar ke mana-mana.

Kalau masalahnya sudah selesai, atau dianggap selesai, maka jangan sekali-kali mengungkit-ungkit agar tidak muncul dendam dan rasa sakit lagi. Jadikan pelajaran, dan lupakan.

SHARE