Anak adalah anugerah yang paling indah bagi kedua orang tua. Saat kelahirannya begitu dinanti. Segudang harapan agar anak tumbuh lebih baik dari orang tua juga disematkan.

Segala kebutuhan sang anak disiapkan. Bahkan jauh hari sebelum si buah hati lahir. Hari ke hari setelah kelahirannya, kita terus ingin yang terbaik bagi sang anak.

Apalagi jika sang buah hati sudah memasuki fase interaksi dengan orang tuanya. Orang tua manapun pasti gemas sekaligus senang. Karena bayi yang dulu hanya bisa menangis dan tertawa kini bisa berbicara. Biasanya fase ini terjadi antara umur 1-2 tahun.

Namun di balik kebahagiaan tersebut, kadang terselip rasa khawatir. Pasalnya, fase-fase anak berusia 2 tahun adalah fase mereka menyerap segala pengetahuan. Apa yang akan menjadi karakter dan kebiasaan mereka saat dewasa dibentuk saat mereka masih kecil.

Tahukah kamu jika saat ini anak yang memiliki moral yang baik lebih dinantikan dibandingkan anak yang pintar?

Orang tua saat ini lebih senang jika anak mereka memiliki sifat suka menolong, tenggang rasa, perhatian dibandingkan memiliki nilai tes IQ yang tinggi.

Lalu bagaimana cara membiasakan anak sejak kecil agar memiliki moral yang bagus?

1Jangan Sungkan Memuji Mereka

source: www.huffingtonpost.com

Saat anak berhasil melakukan sesuatu, apresiasi paling mudah yang dilakukan orang tua adalah memberi hadiah. Tapi menurut beberapa penelitian, pemberian hadiah justru tidak bagus bagi anak.

Saat sang anak menerima hadiah, mereka tentu senang bukan main. Namun yang terekam dalam dirinya adalah ia hanya akan berbuat baik jika diberi hadiah. Sang anak pada akhirnya fokus pada hadiahnya bukan pada perbuatan baiknya.

Namun saat orang tua memuji sang anak saat berhasil melakukan sesuatu, sang anak akan paham. Jika ia melakukan sebuah kebaikan maka kebaikan itu akan kembali ke diri mereka sendiri.

Bukan berarti memberi hadiah bagi sang anak tidak diperbolehkan. Hadiah perlu, namun pujian tulus saat sang anak berhasil melakukan hal-hal kecil kerap terlewatkan.

source: www.thenational.ae
source: www.thenational.ae

Lalu pujian seperti apa yang harus diberikan ke anak? Psikolog Christopher J. Bryan menemukan fakta bahwa kata yang berbasis subjek lebih efektif dibandingkan pujian dalam kata kerja.

Semisal, “Hore kamu luar biasa, kamu memang penolong!” sangat lebih efektif dibanding pujian, “Hore kamu luar biasa, kamu memang suka menolong!”.

Fokus pada subjek akan membuat sang anak benar-benar identik sebagai anak penolong. Sehingga ia yakin sifat menolong ada dalam dirinya. Ingat, anak usia 2 tahun paling suka meniru dan mencari panutan.

Mereka lebih mengerti tengtang karakter seseorang seperti penolong, anak pandai, anak rajin dibandingkan sifat-sifatnya.

2Ajarkan Rasa Bersalah

source: acculturated.com

Seperti halnya pujian saat mereka berhasil melakukan seuatu, mengajari mereka rasa bersalah juga perlu dilakukan.

Anak-anak harus dibiasakan jika ada hal-hal yang tidak baik untuk dilakukan. Namun bukan dengan cara memarahinya, melainkan diberikan pemahaman sampai sang anak merasa bersalah.

Saat sang anak benar-benar sadar dan merasa bersalah, ia akan paham dan berusaha tidak akan mengulanginya di masa mendatang. Rasa bersalah ini berbeda dengan memberikan rasa malu ke anak.

Jika kita memarahinya di depan umum, mungkin yang ia dapatkan adalah rasa malu. Saat rasa malu terus ia bawa, kelak yang muncul adalah perasaan rendah diri dan minder. Sementara rasa bersalah lebih ke dorongan untuk terus memperbaiki diri.

source: www.ourkids.net
source: www.ourkids.net

Cara yang efektif untuk memberikan rasa bersalah bagi sang anak adalah mengungkapkan kekecewaan kita. Cara ini dilakukan dengan memberikan penjelasan secara baik-baik. Sembari diikuti tentang penjelasan dampak buruk jika sang anak melakukan hal-hal yang dilarang.

Contoh kalimat yang bisa menunjukkan kekecewaan kita adalah. “Papa tahu sayang tidak sengaja, lain kali jangan diulangi lagi ya!”

3Jadilah Contoh yang Baik

source: coolkidscan.com

Ingat, anak usia 2 tahun adalah fase meniru. Mereka akan menirukan apa saja yang mereka lihat. Jika kita ingin sang anak menjadi anak yang baik, penolong, murah hati maka kita harus mencontohkan terlebih dahulu.

Kita bisa menciptakan situasi-situasi seperti drama dengan pasangan untuk ditunjukkan kepada sang anak. Tujuannya agar dia mengerti kalau si ibu minta tolong diambilkan alat masak, sang ayah dengan sigap menolong ibu.

Ucapan terima kasih yang meluncur dari ibu kepada sang ayah akan terekam sang anak. Begitu juga cekatannya sang ayah saat menolong. Ternyata menolong itu menyenangkan karena akan mendapat pujian.

Hal-hal seperti itu bisa dilakukan di sela-sela rutinitas harian. Pastikan juga lingkungan sekitar mendukung pembelajaran sang anak dalam mencontoh kedua orang tuanya.

SHARE