”Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (qs. Al-kahfi : 13)

Pemuda berdasarkan undang-undang no. 40 tahun 2009 tentang kepemudaan adalah warga indonesia yang berusia antara 16 sampai dengan 30 tahun. Pemuda adalah masa transformasi dari remaja menjadi dewasa dan dinamis namun sangat bergejolak dan penuh optimis, dan memiliki sifat egois yang tidak stabil. Masalah pemuda berarti berbicara tentang masa depan. Karena pemuda adalah generasi pewaris yang akan menggantikan estafet kepemimpinan sebuah generasi baik dalam keluarga, kelompok, organisasi, bangsa dan negara. Pemuda merupakan motor penggerak bagi peradaban, mereka merupakan harapan besar bagi kemajuan bangsa, negara dan agama. Di dalam islam, pemuda tidak dipandang sebagi orang-orang pengekor, melainkan mereka inilah orang-orang yang memiliki motivasi dan inovasi dalam mengembangkan dan meningkatkan kemajuan dan kejayaan peradaban umat islam. Selain itu, para pemuda ini juga diharapkan akan menjadi ujung tombak dalam pergerakan dakwah islam agar mampu berkembang dengan pesat.

Salah satunya dengan melakukan pembinaan kepada calon generasi penerus, dalam hal ini pembinaan kepada pemuda. Usia muda merupakan usia berkumpulnya semua potensi mulai dari kekuatan fisik hingga kekuatan pikiran. Kita dapat melihat dari perjalanan sejarah manusia, para pemuda menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan sebuah ideologi. Bahkan dapat dikatakan bahwa sebuah ideologi tidak akan eksis tanpa kiprah pemuda. Begitupun dalam perjalanan dakwah Rasulullah shallalahu alaihi wasallam, beliau menguatkan dakwah ini dengan menjadikan pemuda sebagai pioner di awal dakwah Islam di Makkah. Dengan modal kekuatan pemuda, sehingga menjadikan Islam dapat tersebar di penjuru dunia. Saat ini, kekuatan kelompok pemuda muslim yang ideal dan tangguh dapat kita temukan di kampus. Kampus menjadi tempat berkumpulnya para kaum intelektual muda yang memiliki semangat untuk melakukan perubahan. Bahkan akan lebih luar biasa ketika mereka bergerak bersama dalam sebuah jamaah (lembaga) dakwah atau lebih dikenal dengan nama lembaga dakwah kampus (LDK). Oleh karena itu, dakwah kampus harus dirancang untuk memperkuat basis bagi tumbuhnya generasi baru yang memiliki pemahaman islam yang sempurna dan menyeluruh sehingga mampu mewujudkan kejayaan umat.

Dakwah kampus merupakan langkah strategis bagi pencapaian cita-cita umat Islam. Cita-cita itu sangatlah realistis tercapai ketika melihat bahwa mahasiswa muslim merupakan insan yang memiliki potensi intelektualitas dan kritis terhadap berbagai persoalan keumatan. Dengan potensi itu, mahasiswa memiliki peluang besar untuk berkiprah dalam pembentukan peradaban yang khairah ummah. Untuk menemukan cara mengembalikan kejayaan umat ini maka marilah kita belajar bagaimana cara umat terdahulu bisa bangkit dari keterpurukan sehingga mampu berjaya. Shalahuddin al-Ayyubi merebut kembali masjid Al Aqso dari pasukan salib bukanlah terjadi dengan instan tetapi merupakan produk sebuah generasi baru yang telah dipersiapkan oleh ulama hebat yaitu Imam al-Ghazali dan Abdul Qadir al Jilani. Cara Imam al Ghazali dalam mengatasi kemunduran umat dengan lebih memfokuskan pada upaya untuk membersihkan kaum muslimin dari berbagai penyakit yang menggerogotinya dari dalam (seperti rusaknya aqidah) dan mempersiapkan kaum muslimin agar mampu mengembangkan risalah dakwah sehingga Islam merambah keseluruh pelosok bumi. Memperbaiki mental kaum muslimin merupakan strategi ampuh yang dilakukan oleh Imam al Ghazali dalam membentuk generasi yang tangguh. Imam Al Ghazali menancapkan mental Islam dalam diri kaum muslimin terutama kepada Shalahuddin al Ayyubi seperti aqidah yang kokoh, mencintai ilmu, kuat ibadah dan zuhud. Hal yang sama terjadi pada Sultan Muhammad al Fatih yang mampu menaklukkan Konstantinopel merupakan produk dari generasi yang dibina dengan baik. Berkat pembinaan dari ulama sehingga Muhammad al Fatih kecil telah menyelesaikan hafalan Al Quran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani. Dakwah kampus harus ditata dengan sistematis sehingga misi dakwah dapat bekelanjutan. Agenda dakwah kampus harus dirumuskan untuk menjawab problematika umat yang dihadapi saat ini. Sehingga dakwah kampus mampu membentuk sistem sosial yang mengkondisikan umat ini untuk bangkit dari keterpurukan. Selain itu, diharapkan mahasiswa muslim yang memiliki mental yang sesuai Al Qur’an dan Sunnah dapat menjadi harapan baru untuk lebih memasifkan pergerakan dakwah ke depannya sehingga menjadi pioner kejayaan umat. Tak ada yang tak mungkin jika Allah SWT, telah menghendaki. Cita-cita ini amat mulia. Dan kita berharap semoga Islam yang jaya pun bisa kita jajaki kembali.