Bismillah, baik kali ini admin akan mecoba berbagi sedikit Ilmu tentang doa mandi wajib beserta tatacaranya. Sebelumnya admin yakin pasti sebagian dari kita mungkin tahu apa yang dimaksud dengan mandi wajib dan mandi biasa serta doa untuk mandi wajibnya sendiri seperti apa.

Namun bisa diketahui juga, kebanyakan dari kita pasti masih banyak yang belum tahu atau bertanya-tanya, sebenarnya apasih yang dimaksud dengan mandi wajib itu? dan apa perbedaan mandi wajib dengan mandi biasa? Ya, mungkin ada dari teman-teman yang masih mempertanyakan hal-hal tersebut.

Hal ini sangat penting untuk diketahui karena bisa dikatakan hampir seluruh manusia pasti pernah dan akan mengalami keadaan yang mewajibkan dia mandi wajib. Namun sangat disayangkan jika tata cara yang dia lakukan tidak sesuai sehingga mandi yang dia lakukan tidak sah.

Arti Mandi Wajib

Alat Mandi Wajib
harianaceh.kilatstorage.com

Secara umum, perbedaan antara mandi wajib dan mandi biasa telah jelas yaitu tergantung kepada niat.

Dalam bahasa arab mandi wajib disebut juga الْغُسْل (ghusl). Ghusl sendiri secara etimologi berarti (السيلان) atau mengalirkan. Sementara secara bahasa, ghusl adalah mengalirkan air ke seluruh tubuh dengan niat tertentu.

Dimana secara pengertian bahwa mandi wajib bisa dbikatakan mandi junub (mandi setelah melakukan hubungan pasutri), adalah yang harus dilakukan oleh seorang muslim untuk membersihkan diri (seluruh anggota bandan) dari hadas besar, baik disengaja ataupun tidak disengaja serta tidak meninggalkan rukun-rukunnya. Hal ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan.

Landasan Hukum Diwajibkannya Mandi Wajib

Landasan hukum mandi wajib tentunya berdasarkan Al Quran dan Sunnah atau hadits. Di dalam surat Al Maidah ayat 6 telah Allah katakan,

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

Artinya: “Dan jika kamu junub Maka mandilah..”

Kemudian didalam surat An Nisa ayat 43,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُباً إِلاَّ عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىَ تَغْتَسِلُواْ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.

Dijelaskan pula pada salah satu hadits Shohih Bukhori,

“bahwasanya Nabi Muhammad apabila mandi jinabah ia memulai dengan membasuh kedua tangannya kemudian wudhu seperti wudhu untuk shalat lalu memasukkan jari-jarinya ke dalam air kemudian menyisirkannya ke pangkal rambut kemudian mengalirkan air ke kepalanya tiga cawukan dengan kedua tangannya kemudian meratakan air pada seluruh kulit badannya.

Tiga dalil tersebut cukup mengawakili untuk meyakinkan kita akan kewajiban mandi junub ini.

Mandi wajib juga menjadi kewajiban bagi laki-laki yang bermimpi basah di malam harinya atau bagi perempuan setelah selesai dari masa haidh atau nifas.

5 hal berikut adalah kapan kita diwajibkan mandi junub atau mandi wajib.

Pertama : Ketika keluarnya mani dengan syahwat

Sebagaimana dijelaskan oleh ulama Syafi’iyah, mani bisa dibedakan dari madzi dan wadi dengan melihat ciri-ciri mani yaitu: baunya khas seperti bau adonan roti ketika basah dan seperti bau telur ketika kering, keluarnya memancar, keluarnya terasa nikmat dan mengakibatkan futur (lemas). Jika salah satu syarat sudah terpenuhi, maka cairan tersebut disebut mani. Wanita sama halnya dengan laki-laki dalam hal ini. Namun untuk wanita tidak disyaratkan air mani tersebut memancar sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi dalam Syarh Muslim dan diikuti oleh Ibnu Sholah.

Dalill bahwa keluarnya mani mewajibkan untuk mandi adalah firman Allah Ta’ala,

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

Dan jika kamu junub maka mandilah.” (QS. Al Maidah: 6)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (QS. An Nisa’: 43)

Dalil lainnya dapat kita temukan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ

Sesungguhnya (mandi) dengan air disebabkan karena keluarnya air (mani).” (HR. Muslim no. 343)

Kedua : Bertemunya dua kemaluan walau tidak keluar mani

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا ، فَقَدْ وَجَبَ الْغَسْلُ

Jika seseorang duduk di antara empat anggota badan istrinya (maksudnya: menyetubuhi istrinya , pen), lalu bersungguh-sungguh kepadanya, maka wajib baginya mandi.” (HR. Bukhari no. 291 dan Muslim no. 348)

Di dalam riwayat Muslim terdapat tambahan,

وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ

“Walaupun tidak keluar mani.”

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ الرَّجُلِ يُجَامِعُ أَهْلَهُ ثُمَّ يُكْسِلُ هَلْ عَلَيْهِمَا الْغُسْلُ وَعَائِشَةُ جَالِسَةٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى لأَفْعَلُ ذَلِكَ أَنَا وَهَذِهِ ثُمَّ نَغْتَسِلُ ».

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang menyetubuhi istrinya namun tidak sampai keluar air mani. Apakah keduanya wajib mandi? Sedangkan Aisyah ketika itu sedang duduk di samping, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku sendiri pernah bersetubuh dengan wanita ini (yang dimaksud adalah Aisyah, pen) namun tidak keluar mani, kemudian kami pun mandi.” (HR. Muslim no. 350)

Imam Asy Syafi’i rahimahullah menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “junub” dalam bahasa Arab dimutlakkan secara hakikat pada jima’ (hubungan badan) walaupun tidak keluar mani.

Jika kita katakan bahwa si suami junub karena berhubungan badan dengan istrinya, maka walaupun itu tidak keluar mani dianggap sebagai junub. Demikian nukilan dari Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari.

Ketika menjelaskan hadits Abu Hurairah di atas, An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Makna hadits tersebut adalah wajibnya mandi tidak hanya dibatasi dengan keluarnya mani. Akan tetapi, -maaf- jika ujung kemaluan si pria telah berada dalam kemaluan wanita, maka ketika itu keduanya sudah diwajibkan untuk mandi.

Untuk saat ini, hal ini tidak terdapat perselisihan pendapat. Yang terjadi perselisihan pendapat ialah pada beberapa sahabat dan orang-orang setelahnya. Kemudian setelah itu terjadi ijma’ (kesepakatan) ulama (bahwa meskipun tidak keluar mani ketika hubungan badan tetap wajib mandi) sebagaimana yang pernah kami sebutkan.”

Ketiga : Berhentinya darah haidh dan nifas

Dalil mengenai hal ini adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Fathimah binti Abi Hubaisy,

فَإِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِى الصَّلاَةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِى عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّى

Apabila kamu datang haidh hendaklah kamu meninggalkan shalat. Apabila darah haidh berhenti, hendaklah kamu mandi dan mendirikan shalat.” (HR. Bukhari no. 320 dan Muslim no. 333).

Untuk nifas dihukumi sama dengan haidh berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Mengenai wajibnya mandi karena berhentinya darah haidh tidak ada perselisihan di antara para ulama. Yang menunjukkan hal ini adalah dalil Al Qur’an dan hadits mutawatir (melalui jalur yang amat banyak). Begitu pula terdapat ijma’ (kesepakatan) ulama mengenai wajibnya mandi ketika berhenti dari darah nifas.”

Keempat : Ketika orang kafir masuk Islam

Mengenai wajibnya hal ini terdapat dalam hadits dari Qois bin ‘Ashim radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّهُ أَسْلَمَ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

Beliau masuk Islam, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun sidr (daun bidara).” (HR. An Nasai no. 188, At Tirmidzi no. 605, Ahmad 5/61. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Perintah yang berlaku untuk Qois di sini berlaku pula untuk yang lainnya. Dalam kaedah ushul, hukum asal perintah adalah wajib. Ulama yang mewajibkan mandi ketika seseorang masuk Islam adalah Imam Ahmad bin Hambal dan pengikutnya dari ulama Hanabilah, Imam Malik, Ibnu Hazm, Ibnull Mundzir dan Al Khottobi.

Kelima : Karena kematian

Yang dimaksudkan wajib mandi di sini ditujukan pada orang yang hidup, maksudnya orang yang hidup wajib memandikan orang yang mati. Jumhur (mayoritas) ulama menyatakan bahwa memandikan orang mati di sini hukumnya fardhu kifayah, artinya jika sebagian orang sudah melakukannya, maka yang lain gugur kewajibannya.

Penjelasan lebih lengkap mengenai memandikan mayit dijelaskan oleh para ulama secara panjang lebar dalam Kitabul Jana’iz, yang berkaitan dengan jenazah.

Dalill mengenai wajibnya memandikan si mayit di antaranya adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu ‘Athiyah dan kepada para wanita yang melayat untuk memandikan anaknya,

اغْسِلْنَهَا ثَلاَثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ أَكْثَرَ مَنْ ذَلِكَ إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian).” (HR. Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939).

Berdasarkan kaedah ushul, hukum asal perintah adalah wajib. Sedangkan tentang masalah ini tidak ada dalil yang memalingkannya ke hukum sunnah (dianjurkan). Kaum muslimin pun telah mengamalkan hal ini dari zaman dulu sampai saat ini.

Yang wajib dimandikan di sini adalah setiap muslim yang mati, baik laki-laki atau perempuan, anak kecil atau dewasa, orang merdeka atau budak, kecuali jika orang yang mati tersebut adalah orang yang mati di medan perang ketika berperang dengan orang kafir.

Jadi, Orang muslim yang meninggal dunia wajib dimandikan oleh orang yang masih hidup kecuali orang yang mati syahid.

Tata Cara Mandi Wajib dan Bacaan Doa Niat Mandi Wajib

Telah banyak kita ketahui, mandi wajib atau mandi junub menghilangkan hadast besar baik, baik itu saat keluar mani, haid / nifas, bersetubuh dan melahirkan.

Sehingga pada saat ingin melakukan mandi wajib, ada tata cara yang baik dan sudah di anjurkan sesuai tuntunannya agar kita benar-benar bersih dari hadast besar. Namun ada juga niat dalam hati, bisa juga dilafadzkan, baik dalam hati ataupun melalui lisan. Dan Hukum dari mandi wajib ini adalah Wajib.

Umumnya, mandi wajib atau mandi junub ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang mulai masuk pada masa pubertas untuk menyucikan diri dari segala perbuatan termasuk dari hadast besar, sehingga untuk kamu yang mulai memasuki masa dewasa (puberitas) dianjurkan sudah harus mengetahaui ilmu dan tata cara dari doa juga niat untuk mandi wajib. Berikut adalah penjelasan, agar ibadah kita bisa diterima dengan baik.

Pada kesempatan ini, insyaAllah admin akan mencoba membahas sidikitnya mengenai tata cara mandi wajib sekaligus bacaan doa niat untuk mandi wajibnya berdasarkan pada tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadist sahih. Antara lain adalah sebagai berikut.

A. Larangan-larangan Orang yang Mempunyai Hadast Besar

Ada beberapa poin yang perlu kita ketahaui sebelumnya, terutama bagi mereka yang memiliki hadast besar, antara lain adalah

Mendirikan sholat, baik itu shalat sunnah ataupun shalat wajib
Mengerjakan atau melaksanankan thawaf (thawaf rukun haji atau sunnah)
Tidak dianjurkan untuk menyentuh atau membawa Al-Qur’an
Berdiam diri di mesjid atau yang biasa kita kenal adalah i’tikaf

B. Larangan-larangan Bagi yang Sedang Haid atau Nifas

Sewajarnya, haid atau nifas itu adalah fitrah, suatu ketetapan yang dasarnya telah Allah berikan pada perempuan. Sehingga perlu mereka sadari bentuk dan kiat-kiat apa (khususnya) larangan yang telah ada ketetapannya dan sesuai untuk dijalankan saat mereka mengalami haid atau nifas. Diantara poinnya adalah :

Seluruh larangan yang terdapat diatas
Dicerai (ditalaq)
Bersetubuh (pasutri)
Menyeberangi ke masjid
Berpuasa baik yang wajib atau-pun sunnah
Bersenang-senang antar pusar perut dan lutut

Baca juga artikel terkait :

Sholat, Shalat atau Salat ?
Bacaan Doa Sholat Dhuha Lengkap Arti dan Terjemahannya
Sahabat Sejati Adalah Doa Terbaik untuk Mereka yang Ikhlas

C. Bacaan Doa Niat Mandi Wajib 

Segala sesuatu adalah tergantug dari niat, dan niat yang paling baik adalah niat dalam hati atau dilafadzkan, sedangkan untuk memulai mandi wajib, tentu niat lebih di utamakan khususnya ingin menghilangkan hadast besar. maka utamakanlah niat terlebih dahulu untuk menghilangkan hadast besar. Niat inilah yang akan memedakan mana mandi wajib dan mana mandi biasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya : 
Doa Niat
muhandisun.wordpress.com
 

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

1. Secara umum, lafadz doa niat mandi wajib

Doa niat mandi wajib ini dapat dilakukan dari seluruh hadast besar, untuk bacaan tergantung dan menyesuaikan, jika ingin dalam hati cukup dengan niat dan tujuan maksud kamu ingin membersihkan diri hadast besar. Sedangkan untuk dilafadzkan adalah sebagai berikut :

“Nawaitul Ghusla Lifrafil Hadatsil Akbari Fardhan Lillahi Ta’aala.
Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadast besar fardhu karena Allah ta’aala. 

2. Doa niat mandi wajib setelah mimpi basah, keluarmani atau bersetubuh

 “Nawaitu Ghusla Liraf’il Hadatsil Akbari ‘An Jamiil Badanii Likhuruji Maniyyi Minal Inaabati Fardhan Lillahi Ta’aal.
Aku berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadast besar dari seluruh tubuhku karena mani dari jinabat fardhu karena Allah ta’ala.

3. Doa niat mandi wajib karena haid (menstruasi)

“Nawaitu Ghusla Liraf’il Hadatsil Akbar Minal Haidi Fardlon Lillahi Ta’ala.
Aku berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadast besar dari haid fardu karena Allah ta’ala

4. Doa niat mandi wajib karena nifas

“Nawaitu Ghusla Liraf’il Hadatsil Akbar Minal Nifasi Fardhlon Lillahi Ta’ala.
Aku berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadast besar dari nifas fardu karena Allah ta’ala.

D. Tata Cara Mandi Wajib

Tat cara mandi wajib
1001minaret.wordpress.com

1. Niat Mandi Wajib

Seperti yang telah diterangkan diatas, niat untuk mandi wajib dapat di lafadzkan melalui lisan atau dalam hati baik dengan menggunakan bahasa Arab atau jika tidak hafal bisa membaca dengan bahasa arab versi latinnya, tetapi pada umumnya yang sesuai tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih baik menggunakan bahasa Arab.

2. Membersihkan Kedua Telapak Tangan 

Siram atau basulah tangan kanan dengan menggunakan tangan kiri dan begitu pula sebaliknya, basulah atau siram tangan kiri dengan tangan kanan. Syarat ini disunnahkan diulangi selama 3 kali balikan.

3. Mencuci Kemaluan

Mencuci sekaligus membersihkan (mani) diri dari semua kotoran yang terdapat di sekitar kemaluan dengan menggunakan tangan kiri.

4. Berwudhu

Setelah membersihkan semuanya (kemaluan), saatnya berwudhu sebagaimana cara berwudhu ketika kita hendak menunaikan shalat.

5. Membasuh Rambut dan Menyela Pangkal Kepala 

Cara membasuh rambut, cukup menyele panggal kepala yaitu dengan memasukkan kedua tangan ke dalam air, kemudian tangan yang telah basah sedikitnya dipercikan dengan sedikit goyangan tangan, lalu setelah itu gosokkan pada bagian rambut sampai kulit kepala dengan menggunakan jari-jari tangan. Terakhir siramlah kepala secara 3 kali.

6. Menyiram dan Membersihkan Seluruh Anggota Tubuh

Pastikan seluruh anggota tubuh tersiram air dengan bersih, baik pada bagian-bagian yang tdak terlihat atau tersembunyi juga pada lipatan bagian tubuh lainnya seperti ketiak, badan bagian belakang, dibawah kemaluan dan juga pada sel-sela jari kaki.

Sunnah-sunnah ketika mandi wajib

Mandi wajib sudah sah jika sudah memenuhi syarat dan rukun seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Namun agar lebih sempurna, sebaiknya kita juga melakukan beberapa hal sunnah berikut ini:

  1. Membaca bismillah
    2. Berwudhu terlebih dahulu
    3. Mengusap-ngusap tangan pada badan saat mandi
    4. Bersegera melakukan mandi ketika sudah berhadats
    5. Mendahulukan bagian tubuh yang kanan dibandingkan yang kiri.

Mandi Sunnah Atau Sunnah Mandi Ketika…

Yang kita sebutkan di atas adalah mandi wajib. Namun dalam Islam, kita juga disunnahkan mandi di saat-saat tertentu. Namun pelaksaan atau tata cara melakukan mandi ini sama seperti mandi wajib yang telah kita bahas di atas. Ada 16 macam mandi sunnah yaitu:

  1. Mandi di hari jumat
    2. Mandi untuk shalat idul fithri dan idul adha
    3. Mandi sebelum melaksanakan shalat sunnah istisqa
    4. Mandi sebelum melaksanakan shalat sunnah gerhana matahari
    5. Mandi sebelum melaksanakan shalat sunnah gerhana bulan
    6. Mandi setelah memandikan mayit
    7. Seorang muallah, yang baru masuk Islam, juga disunnahkan mandi
    8. Orang yang gila atau epilepsi lalu sembuh, maka dia disunnahkan mandi
    9. Mandi ketika akan melakukan ihram
    10. Mandi ketika akan masuk Kota Makkah
    11. Mandi ketika akan wuquf di Arafah
    12. Mandi ketika melakukan mabit di Muzdalifah
    13. Mandi ketika akan melempat jumrah
    14. Mandi sebelum melakukan tawaf
    15. Mandi sebelum melakukan sai
    16. Mandi sebelum masuk Kota MadinahBeberapa Kesalahan Mandi Wajib
    1. Meyakini bahwa mandi tidak dapat menggantikan wudhu

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berwudhu setelah mandi.”

Abu Bakr bin Al-Arabi mengatakan, “Para ulama tidak berbeda pendapat bahwa wudhu sudah masuk dalam mandi dan niat bersuci dari janabat sudah mencakup niat untuk bersuci dari hadats serta menghilangkannya. Hal ini desebabkan penghalang-penghalang janabat lebih banyak daripada penghalang-penghalang hadats sehingga niat yang lebih sedikit masuk ke dalam niat yang lebih besar dan yang demikian itu sudah mencukupinya”.

  1. Tidak meratakan air ke seluruh tubuh

Hal ini khususnya terjadi pada orang gemuk. Terkadang, ada bagian-bagian dari tubuhnya, khususnya dada dan lemak pada peru, yang saat air melewatinya, air tidak bisa mengalir ke anggota badan yang berada di bawahnya. Dalam keadaan seperti ini, maka mandinya tidak sempurna.

  1. Menunda mandi wajib hingga matahari terbit

Sebagian wanita apabila dalam keadaan junub (setelah bersetubuh dengan suaminya) atau ketika suci dari haid pada malam hari, dia menunda mandi hingga matahari terbit. Setelah itu, dia baru mandi dan melaksanakan shalat Shubuh.

Hal ini hukumnya haram menurut ijma’. Sebab, dia wajib segera mandi dan mengerjakan shalat pada waktunya. Allah berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah pada saat berdiri, duduk, dan berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiabn yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman“. (An-Nisa’ [4]: 103).

Sebab, menunda waktu shalat dengan sengaja hingga habis waktunya termasuk dosa besar. Jika suaminya mengetahui hal itu, maka dia juga terjerumus ke dalam dosa bersama istrinya (keadaan ini jika istrinya sudah mengerti hukumnya).

Namun, jika istrinya tersebut belum mengerti hukumnya, maka dirinya tergolong orang yang udzur lantaran kebodohannya hingga dia mengerti.

  1. Menutup kepala ketika mandi

Sebagian orang jika hendak mandi meletakkan sesuatu di atas kepalanya lantaran khawatir bila rambutnya basah. Padahal, hal itu dapat mencegah masuknya air. Ini merupakan kesalahan besar. Sebab, dengan demikian bersucinya menjadi kurang sempurna lantaran dia menutup sesuatu yang semestinya wajib untuk dibasuh.

  1. Tidak menutupi aurot dari pandangan manusia ketika mandi

Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman. Akan tetapi, pada kenyataanya masih kita dapati sebagian kaum muslimin yang melepas pakaian malunya. Mereka berdiri di tempat-tempat umum, seperti tepi sungai atau laut untuk mandi jumat atau mandi janabat di depan orang-orang tanpa merasa malu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa di antara sebab-sebab adzab kubur adalah tidak menutup (aurat) ketika kencing. Lantas, bagaimana jika tidak menutupnya ketika mandi?

  1. Berkeyakinan bahwa dua mandi tidak boleh disatukan

Banyak kaum muslimin tidak mengetahui bahwa jika waktu hari raya itu datangnya bersamaan dengan hari jumat, maka dia cukup mandi satu kali seraya menggabungkan dua niat. Demikian pula dengan mandi junub dan mandi jumat.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Setiap orang akan mendapat sesuai yang dia niatkan“.

Cukup sekian, informasi mengenai doa mandi wajib lengkap dengan tata cara mempraktekannya. Semoga teman-teman para pembaca dapat menerima berbagai manfaat mengenai mandi wajib, ketuamaan doa, membaca niat, mandi wajib secara umum, bacaan doa niat mandi wajib baik yang mimpi basah, keluar mani atau bersetubuh, bacaan doa niat mandi wajib karena haid (menstruasi), bacaan doa niat mandi wajib karena nifas. Sekian dan terima kasih.  “Salam Berbagi Teman-Teman”. Jangan lupa di share juga yaa 🙂

NEXT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here