Idiom sekolah yang pintar, besok besar jadi sarjana, sepertinya sudah tidak lagi istimewa. Dulu, gelar sarjana adalah sebuah prestasi luar biasa. Lulus sarjana, mudah sekali dapat kerja. Dulu, para sarjana sudah dijamin kualitasnya.

Namun, sekarang, sarjana menjamur di mana-mana. Entah sarjana beneran atau hasil ‘membeli’ ijazah sarjana. Orang zaman kekinian gemar menghalalkan segala cara untuk mendapatkan gelar sarjana.

Padahal, apalah artinya gelar sarjana di era digital ini. Dengan menjadi sarjana, belum tentu hidupmu sejahtera kok.

Lho, kok bisa begitu? Tentu saja bisa. Perkembangan teknologi membuat segalanya menjadi mudah, termasuk mendapatkan gelar sarjana. Mengapa sarjana dinilai belum cukup mensejahterakan masa depan kamu? Berikut ini alasannya.

1Dulu, Internet Belum Ada

womeninbizblog.com

Nah lho, apa hubungannya internet dengan kuliah? Jadi gini guys, zaman emak babe, perguruan tinggi atau kuliah adalah jalan satu-satunya untuk menimba ilmu lebih tinggi sesudah lulus SMA.

Perguruan tinggi menjadi wadah mereka untuk melatih pola pikir, berpendapat, mengeluarkan kritik, bersosialiasi dan lain-lain. Selain itu, saat masuk perguruan tinggi, semua teori di SMA akan digodok lebih dalam lagi di sana.

Bedanya dengan zaman sekarang, untuk menambah ilmu bisa lewat jalan apa saja, termasuk internet. Kemajuan teknologi membuat internet makin bebas diakses. Dengan demikian, ilmu-ilmu baru pun bisa kamu dapatkan dengan mudah via internet.

Pernah dengar kuliah online atau belajar jarak jauh? Itu salah satu cara kamu untuk mendapatkan ilmu yang lebih dan lebih lagi. Kamu hanya butuh laptop atau komputer yang terhubung dengan internet.

Jika semua fasilitas itu kamu miliki, apa pun bisa kamu lakukan. Mulai dari kuliah, update berita terkini sampai dengan berbisnis pun oke.

Sekarang sudah banyak perguruan tinggi yang memanfaatkan fasilitas internet untuk mempublikasikan materi kuliahnya. Ada kumpulan jurnal, tutorial dan forum diskusi online. Bahkan beberapa di antaranya dibuka untuk khalayak umum.

Nggak hanya perguruan tinggi dalam negeri, yang luar negeri pun bisa. Misalnya saja, Harvard University, sekolah musik Berklee, kampus teknologi MIT dan lain sebagainya.

Caranya gampang banget, cukup klik Coursera dan pilih perguruan tinggi tujuan kamu. So, kamu bisa dapatkan ilmu yang didapatkan mahasiswa di perguruan tinggi.

2Lapangan Pekerjaan Semakin Sempit

abetterinterview.com

Percaya atau tidak, daftar pencari kerja sekarang lebih banyak daripada lapangan pekerjaannya. Satu perusahaan bisa saja diperebutkan jutaan orang. Padahal kursi yang ditawarkan hanya 2 atau 3 kursi. Ironis ya.

catatanmelura.wordpress.com
catatanmelura.wordpress.com

Lebih parahnya lagi, gaji sarjana bisa sama dengan gaji lulusan SMA lho, guys. Seperti yang disebut dalam UU Ketenagakerjaan No.13 Tahun 2003 Pasal 90 ayat (1), bahwasanya gaji minimum yang dibayarkan sesuai UMR tanpa memandang tingkat pendidikan.

Kamu pasti sudah menyaksikan sendiri, gaji buruh pabrik di Jakarta sana melebihi gaji guru atau pegawai honorer di instansi tertentu. Pegawai honorer bergelar sarjana mungkin gajinya hanya UMR, tapi gaji buruh pabrik tanpa pendidikan justru dua kali lipat dair UMR.

3Tidak Semua Sarjana Punya Skill Khusus

lifehacker.com.au

Ini sebuah realita yang terjadi di zaman sekarang. Banyak orang yang punya gelar sarjana, tapi tidak semuanya punya keahlian khusus.

Justru, orang yang pendidikannya tidak sampai sarjana biasanya punya keahlian tertentu, seperti penerjemah, lancar berbahasa asing, ahli menulis, fotografi, ahli membuat program di komputer dan lain-lain.

Kenapa demikian? Simpel banget jawabannya, karena perguruan tinggi lebih cenderung mencetak pemikir bukan pekerja. Padahal, di dunia kerja, selain mampu mengonsep, kamu juga harus punya keahlian yang sifatnya pratikal .

Jangan bangga dulu kalau kamu punya IPK tinggi. Belum tentu kamu mudah mencari kerja. Modal IPK hanya akan membawamu pada tingkat menengah saja.

Kamu tidak akan bisa lebih dari itu. Bahkan mungkin tersaingi dengan orang-orang yang lebih pengalaman namun tidak punya gelar sarjana.

4Belajar Dari Nol Saat Mulai Bekerja

bukanhanya.com

Sudah diterima kerja dengan modal IPK tinggi, jangan dulu bangga. Ketika kamu masuk ke perusahaan yang tidak sejalan dengan gelar sarjana, mau tidak mau kamu harus belajar dari awal.

Bahkan tidak menutup kemungkinan, kamu harus tetap belajar dari nol lagi meskipun di perusahaan yang satu jurusan.

Contohnya, sarjana hukum atau peternakan tiba-tiba diterima jadi teller atau customer service bank, harus ikut pelatihan lagi selama beberapa bulan.

Dididik lagi dari awal, gaji pun setara dengan lulusan SMA. Di sinilah kamu akan sadar bahwa ilmu yang kamu pelajari selama 4 tahun tidak bisa diterapkan.

Jadi, sarannya, selama masa kuliah, asahlah keahlian yang kamu punya. Tidak peduli kamu ambil jurusan apapun, yang terpenting kamu punya keahlian khusus.

Kelak suatu saat akan jadi penolong kamu jika kamu tidak bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang yang kamu geluti.

Itulah tadi sekelumit fakta tentang sarjana masa kini. Tidak bermaksud menganggap gelar sarjana tidak penting, hanya saja kamu mesti sadar bahwa gelar sarjana tidak lantas membawa kesejahteraan.

Kamu juga tidak boleh menyombongkan diri saat mendapatkan gelar tersebut.

Meskipun nanti ilmu kamu tidak dapat diterapkan di dunia kerja, jangan sesali pilihanmu saat kuliah dulu. Bagaimana pun, perjuangan dan kerja keras kamu di dunia kampus akan mendapatkan balasan setimpal dari Tuhan.