Sudah selayaknya bagi seorang yang sudah tua, sudah lanjut usia menikmati sisa hidupnya. Mbah Tami bisa dipanggil akrabnya, di usianya yang sudah mulai senja tapi tidak pernah pudar semangatnya untuk bekerja.

Semangat inilah yang dapat memberi inspirasi seperti kita yang masih muda, berjuang sekuat tenaga demi kebahagiaan keluarga, tak kenal panas dan hujan.

Ia terus berjalan dan bekerja walau kadang badan tidak karuan, mbah tami merupakan sesosok manusia yang terus mempunyai banyak harapan.

Seperti apa beliau bekerja? Mari kita simak bersama

1Keluarga Mbah Tami

wonogiri.pks.id

Mbah tami merupakan seorang ibu yang mempunyai anak 3, ketiga anaknya sudah menikah dan beliau mempunyai 7 cucu dan 1 buyut.

Suaminya dulu bekerja di ladang milik orang lain, dengan kata lain sebagai buruh tani, tapi disaat anaknya yang ketiga lahir, suaminya meninggal, sehingga ia harus bekerja sendiri.

Umur wanita tua ini sudah hampir mencapai 70 tahun, kita lihat para pegawai negeri saja atau pegawai BUMN saja umur 60 an sudah pensiun, tapi wanita yang beralamat di Tapan, Margosenten, Tawangmangu Karanganyar ini tidak mengenal kata pensiun.

2Perjuangan Mbah Tami

wonogiri.pks.id

Pekerjaan mbah tami adalah jasa gendongan, yaitu gendongan belanja para pembeli yang keberatan bawa barang sampai ke jalan raya.

Dulu sebelum ada kendaraan bermotor, ia harus berjalan dari rumah ke pasar dengan jarak yang sangat jauh, ia harus berjalan sejauh 3 jam perjalanan jalan kaki.

Sungguh tidak bisa dibayangkan,demi uang 3000-5000 rupiah untuk sekali gendongan ia harus berjuang melwati perjalanan sejauh itu.

Badannya memang kecil, tapi kekuatan tangannya tidak bisa di remehkan, kakinya kuat, kulitnya tahan panas dan dingin dan tentu semangatnya layaknya api yang butuh beratus orang untuk memadamkan.

Tapi sekarang jaman sudah berkembang, sudah banyak kendaraan bermotor, ia bisa naik kendaraan untuk pergi bekerja.

3Rumus Hidup Mbah Tami

wonogiri.pks.id

Mbah tami bekerja sejak anaknya yang pertama baru berumur 40 hari, masih dalam keadaan merah dan butuh sekali profil seorang ibu di dekatnya, tapi inilah mbah tami.

Wanita yang kuat dengan hidupnya, sepahit apapun rasanya meninggalkan buah hati  ia harus tetap bekerja agar keluarganya tidak kelaparan.

Mbah tami merupakan wanita yang kuat fisiknya, uniknya ia tidak mempunyai resep untuk menguatkan tubuhnya, ia juga tidak pernah memakai jamu khusus untuk menguatkan tulangnya.

Ia hanya  berfikir jangan pernah berhenti bergerak untuk bekerja, lucunya ia akan sakit jika berhenti bekerja, sungguh sosok wanita yang luar biasa.

Sampai sekarang mbah tami tetap bekerja dengan jasa gendongan mautnya, sekalipun cuma bisa membeli beras untuk kebutuhan sehari-hari tapi itu tidak pernah membuatnya  berhenti.

Gendongan mautnya akan terus memberi keberkahan dan kebahagiaan hidup keluarganya.

Semoga mampu menginspirasi kita yang masih muda.