Baturaden yang ada di Banyumas sebenarnya merupakan salah satu kaki gunung Slamet. Ketika kamu jalan-jalan ke Pemandian Air Panas Guci, Kabupaten Tegal, lokasi wisata ini pun berada di kaki gunung yang sama.

Sama halnya kalau kamu rehat di kawasan wisata Moga, Kabupaten Pemalang, serta Perkebunan Teh Kaligua, Kabupaten Brebes. Semuanya berada di kaki Gunung Slamet.

Bisa dibilang, gunung Slamet sudah berabad-abad memberi kehidupan bagi warga di kaki gunung di lima kabupaten sekaligus. Sekarang gunung Slamet juga sangat membantu menumbuhkan industri wisata di daerah-daerah yang ada di seputarannya.

Gunung ini sangat terkenal sebagai daerah pendakian favorit. Dengan ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut dan track lumayan sulit, menjadi tantangan tersendiri bagi para pendaki.

Berikut ini fakta-fakta penting mengenai Gunung Slamet yang perlu kamu ketahui.

1Gunung Api Paling Aktif

iberita.com

Gunung Slamet adalah gunung berapi yang cukup aktif di pulau Jawa. Semenjak meletus pertama kali pada tanggal 11 – 12 Agustus 1772, menurut data sejarah gunung ini sudah meletus sebanyak 42 kali.

Merupakan gunung teraktif kedua setelah gunung Merapi. Terkahir kali gunung Slamet meletus pada 12 maret 2014. Namun, semua letusan tersebut termasuk dalam skala erupsi kecil yang tidak membahayakan warga kaki gunung.

Walaupun pernah ada letusan besar pada tahun 1988, tapi sampai sekarang warga di sana masih ‘slamet’ dari letusan gunung Slamet.

2Gunung Tertinggi Jawa Tengah

jejaktapak.com

Gunung Slamet berdiri tegak di Jawa Tengah, meliputi lima wilayah kabupaten, yaitu Banyumas, Brebes, Purbalingga, Pemalang, dan Tegal. Ia adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah.

Gunung Merapi hanya 2.968 meter, sementara Gunung Merbabu sedikit lebih tinggi yaitu 3.145 meter.

3Tipe Gunung Slamet

penulispro.com

Sama seperti gunung-gunung lainnya di Pulau Jawa, gunung ini terbentuk karena subduksi Lempeng Indo-Australia pada Lempeng Eurasia di wilayah selatan pulau Jawa.

Retakan pada lempeng tersebut mengakibatkan terbukanya jalur lava ke permukaan bumi.

4Nama Gunung Slamet

pegipegi.com

Besar kemungkinan nama gunung Slamet baru disematkan pada masa Mataram Islam, yaitu setelah berakhirnya kejayaan Majapahit. Kata slamet diadapatasi dari bahasa arab yakni salam.

Dalam penuturan sejarahwan Belanda J Noorduyn, gunung tersebut bernama gunung Agung (bukan gunung di Bali) sebelum masa Islam. Seperti yang tertulis dalam naskah cerita Bujangga Manik yang berbahasa Sunda.

Masyarakat Islam memberikan nama slamet, karena memang gunung api ini tidak memakan korban jiwa dalam letusannya. Belum lagi kesuburan yang diberikan pada lahan warga, jadilah gunung ini sebagai simbol keselamatan.

5Ekologi Gunung Slamet

hendsmountenerings.wordpress.com

Gunung Slamet memiliki kekayaan ekologi yang cukup banyak. Beberapa jenis hutan, yakni hutan Montana, hutan Dipterokarp Atas, hutan Dipterokarp Bukit, dan hutan gunung alias hutan Ericaceous ada di gunung ini.

6Jalur Pendakian

autumn-ind.blogspot.com

Total ada 4 jalur pendakian di gunung Slamet. Jalur lama dan standar adalah dari arah Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.

Yang lebih populer dari semuanya adalah jalur dari arah Kabupaten Pemalang, yaitu Baturaden. Baru diresmikan tahun 2013 lalu, jalur Dhipajaya juga bisa menjadi pilihan pendakian.

Jalur terakhir, jalur yang paling indah, yakni dari wisata air panas Guci, Kabupaten Tegal. Rute terakhir ini cukup terjal, namun pemandangannya paling indah.

7Rintangan Pendakian

infopendaki.com

Selain beberapa rute pendakian memiliki jalur yang curam, gunung Slamet juga memiliki rintangan lain, yakni tidak ada sumber air dan kabut yang cukup pekat.

Untuk ketinggian gunung seperti gunung Slamet, ketersedian air amatlah penting, sedangkan semua jalur pendakian tidak ada sumber air yang dilalui.

Satu-satunya cara adalah membawa bekal air yang banyak untuk naik dan turun gunung.

Sedangkan faktor kabut, di Gunung Slamet kabut sangat gampang berubah, tiba-tiba mendadak muncul atau berbalik arah, dan kepekatannya cukup tajam.

8Kawasan Rawan Bencana

wisatagunung.com

Bagi pendaki gunung api ini, penting juga untuk mengetahui area mana saja yang termasuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) I, II, dan III.

KRB III paling rawan, hanya 2 km dari puncak, bisa dilanda aliran lava, awan panas, gas beracun, atau lontaran batu pijar serta hujan abu lebat.

KRB II berjarak 4 km dari puncak, masih berpotensi terpapar aliran gas beracun, lava, dan material berbahaya lainnya.

KRB I berjarak 8 km dari puncak, punya potensi dilanda aliran lahar hujan dan hujan abu atau lontaran batu pijar.

Semua di atas tentu berbahaya ketika status gunung ini meningkat atau sedang aktif, kalau tidak aktif maka semuanya aman saja.