Reformasi telah merubah hampir seluruh tatanan politik negeri ini. Imbasnya pada banyak hal yang ada pada masyarakat kita. Sejak tahun 1998, perubahan-perubahan di negeri ini semakin kian terlihat.

Kamu tentunya masih ingat dengan beberapa presiden terdahulu sebelum Presiden Joko Widodo memimpin Indonesia saat ini. Salah satunya Abdurrahman Wahid yang sering disapa Gus Dur. Beliau menjabat presiden pada akhir tahun 1999.

id.wikipedia.org
id.wikipedia.org

Tepatnya pada 20 Oktober 1999 melalui Sidang Umum MPR, Gus Dur terpilih sebagai presiden untuk masa bakti 1999 – 2004. Hanya saja beliau tidak menjabat sebagai presiden hingga tuntas. Pada tanggal 23 Juli 2011 beliau secara resmi diberhentikan dalam Sidang Istimewa MPR.

Walaupun ada banyak hal yang menyebabkan beliau akhirnya harus diberhentikan oleh MPR. Misalnya seperti masalah korupsi Bulog dan Brunei Gate, pemecatan Kapolri, pemecatan sejumlah menteri, pembubaran beberapa departemen, rencana pembekuan Golkar, wacana pembubaran MPR dan juga penghapusan TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966.

Berbagai hal yang dilakukan oleh Gus Dur inilah membuat sejumlah pihak merasa terusik. Hingga pada akhirnya menjadikan alasan beliau harus mundur dari jabatan presiden melalui Sidang Istimewa MPR.

Namun ternyata semua itu merupakan permainan politik saja. Kasus Bulog dan Brunei Gate terbukti tidak melibatkan Gus Dur didalamnya. Dan beberapa hal controversial yang beliau lakukan bukan semata-mata kesewenang-wenangan.

Impian dan sikap yang menggambarkan cita-cita reformasi menjadikannya melakukan semua itu. Sebagaimana beberapa hal yang pernah beliau tonjolkan saat menjabat menjadi presiden Indonesia berikut ini.

1Mengakui Kebebasan Berkespresi

sadnessbookstore.com

Mungkin sebagian diantaramu masih merasakan bagaimana ketatnya kontrol atas media oleh pemerintah di Orde Baru. Saat itu, apapun informasi dari media yang sampai di masyarakat dipastikan telah melalui saringan Departemen Penerangan.

Tidak boleh ada yang berseberangan dan berbau subversif.Bila ada yang melanggar dan ketahuan, maka akan langsung dibina dan dibredel. Selanjutnya bersiaplah untuk menghuni hotel prodeo walau sebentar saja.

Bagi Gus Dur, hal demikian sangat tidak perlu. Departemen Penerangan pun dibubarkan. Menurutnya, segala ekspresi dan pendapat harus dibiarkan beredar bebas. Fungsi penyaringan dan pembuktian informasi menjadi tanggung jawab pers dan setiap individu bangsa.

Masyarakat harus terbiasa dan lebih cerdas mendapatkan informasi dalam berbagai versi.

2Anti-Korupsi

nasroell.wordpress,com

Siapapun presidennya, jargon anti-korupsi selalu menjadi hal yang tidak pernah ditinggalkan. Hanya saja, ada yang benar-benar menegakkannya dan ada pula yang hanya berbicara tanpa tindakan berarti.

Gus Dur pada masa jabatannya memang pernah tersandung beberapa tuduhan kasus korupsi. Namun beliau juga merupakan salah satu presiden  yang secara tegas anti dengan korupsi.

Nampak pada Keppres No. 127/1999 tentang Pembentukan Komisi Pemeriksaan Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN) yang bertransformasi menjadi Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi(KPTPK).

Hingga kemudian lembaga ini berubah menjadi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga saat ini.

3Humanis

sukutionghoa.blogspot.com

Gus Dur pernah disebut oleh beberapa pihak sebagai Bapak Pluralisme. Istilah tersebut mungkin kurang tepat. Karena lebih mendasar lagi, bahwa Gus Dur adalah seorang humanis. Mudahnya, beliau mengedepankan kemanusiaan.

Salah satu bentuknya dengan menghargai berbagai macam keragaman yang merupakan bagian dari kemanusiaan itu sendiri.

Sebagaimana dapat kamu ingat. Gus Dur mengakui agama Kong Hu Cu di Indonesia. Menjadikan Tahun Baru Imlek sebagai Hari Libur Nasional. Serta penggunaan tulisan berbahasa Tionghoa.

4Militer = Tertib Sipil

sumutpos.co

Masih ingatkah kamu pada beberapa waktu yang lalu. Menteri Pertahanan yang saat ini menjabat, Ryamizard Ryacudu mengetengahkan wacana program bela negara. Menurutnya, hal ini merupakan turunan dari cita-cita revolusi mental.

Hal ini sangat berbeda dengan dengan sosok Gus Dur. Beliau lebih percaya pada kehendak sipil daripada mengindahkan segala wacana berbau militeristik.

Kenyataan ini terlihat saat Gus Dur menjadi presiden yang pertama kali meletakkan orang sipil menjadi Menteri Pertahanan.

Juwono Sudarsono, Menteri Pertahanan di era Gus Dur ini telah meletakkan konsep dasar pertahanan sebagai ‘tertib sipil’.

Setelah itu, walaupun melakukan pergantian menteri, Gus Dur tetap konsisten. Beliau mengangkat Mahfud MD untuk menggantikan Menteri Pertahanan sebelumnya.