Indonesia sedang mengalami sebuah kejadian unik. Dikatakan unik karena kejadian ini sudah tak mampu lagi dihitung jari karena seringnya membuat warga Indonesia harus beradu argument bahkan terpecah-belah.

Kejadian ini adalah tentang masalah anggapan diskriminasi sari satu pihak ke pihak lain, dan celakanya sering menyangkut tentang masalah suku dan agama.

Jauh sebelum memasuki bulan Ramadhan, warga Indonesia dibuat heboh dengan sebuah statemen dari seorang Gubernur bahwa orang yang berpuasa harus menghormati orang yang tidak berpuasa.

Maksud dari pernyataan tersbeut adalah bahwa tak boleh ada larangan warung makan untuk tutup selama bulan puasa, karena dapat membuat non muslim yang tidak berpuasa kesulitan mencari makan jika tidak masak di rumahmya.

Melihat fenomena yang sungguh memprihatinkan ini, karena kemudian ada anggapan orang Muslim mendiskriminasi orang non muslim atau sebaliknya, maka hikmah apa yang bisa kita ambil agar kita tak salah dalam mengambil sikap?

Pertama, Kita Harus Bijaksana dalam Menanggapinya

kata+kata+bijak
rudymynewblogaddress.blogspot.com

Karena sudah mengandung unsur agama di sini, maka sebaiknya entah kita seorang Muslim atau Non Muslim harapannya adalah memiliki kebijaksanaan dalam diri sendiri.

Jika memang ada peraturan yang telah disepakati oleh pemerintah setempat, seandainya hal tersebut tidak merugikan, apa salahnya kita patuhi?

Toh juga ada jam tertentu bukan untuk bisa membuka warung lagi, diluar jam-jam yang dilarang?

Bagi warung makan yang masih tetap buka sendiri juga harusnya memiliki sedikit kepekaan, yaitu dengan membuka sebagiannya saja.

Sehingga tetap menyediakan makan untuk yang non muslim atau muslim yang diperbolehkan tidak puasa, namun tidak terkesan memamerkan dagangannya kepada yang sedang berpuasa.

Kedua, Kita Ambil Jalan Tengah

solusi
agilsaputra.com

Dengan hal seperti ini, jika kita memang mencintai Indonesia dan tak ingin Negara ini warganya terpecah-belah, maka harusnya kita menajdi pihak penengan bukan malah ikut memperkeuh keadaan dengan argument yang membuat makin panas.

Baik kita Muslim atau Non Muslim, jadilah agen pemersatu, bukan pemecah belah. Jika memang memiliki solusi maka tawarkan, jika tidak maka lebih baik diam.

Ketiga, Ambil Sikap Terbaik

kiki widyasari buka warteg
www.pikiran-rakyat.com

Yang terakhir adalah sikap, bagi Muslim jika memang kondisinya banyak warung yang buka saat bulan puasa, biarkan saja, karena hal tersebut sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan ibadah puasa kita.

Beda lagi bagi anak-anak Muslim yang sedang belajar puasa, maka kita berikan edukasi bagi mereka bahwa jangan sampai mereka tergoda makanan dari warung yang buka tersebut.

Dan bagi kita Non Muslim, sebaiknya juga menghargai karena puasa adalah ibadah dari umat Muslim, sehingga alangkah baiknya jika makan atau minum jangan di tempat umum.

Ya, kita hidup di Indonesia ini berdampingan, tak ada salahnya kan saling toleransi? Bukankah ibaratnya kita satu atap?

Maka tak perlu saling menyalahkan, adu argumen, bahkan membawa nama agama atau ras. Jika terus seperti itu maka tinggal hitungan tahun Indonesia akan hancur. Iya kan?