Nikah secara bahasa memiliki arti berkumpul dan bergabung. Imam Nawawi dalam salah satu kitabnya menyatakan bahwa menikah secara bahasa adalah bergabung, kadang digunakan untuk menyebut “akad nikah”, kadang digunakan untuk menyebut hubungan seksual.

Sedangkan secara istilah, nikah merupakan akad yang dilakukan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang dengannya dihalalkan baginya untuk melakukan hubungan seksual.

Berbicara tentang hukum menikah, maka hukumnya berbeda-beda, sesuai dengan hukum asal dan pelakunya. Hukumnya pun bertingkat-tingkat, mulai dari wajib, sunah, makruh hingga haram. Berikut ini penjelasan untuk masing-masing hukum tersebut.

1Hukum Wajib tentang Nikah

Nikah dapat mejadi wajib bagi orang-orang yang memiliki kadar libido tinggi dan dikhawatirkan bila tidak segera menikah, maka dirinya tidak mampu menahan hawa nafsu yang dimilikinya hingga menjerumuskan dirinya pada aktifitas mendekati zina atau bahkan hingga berzina.

Selain itu, seseorang yang telah bernazar atau berjanji kepada Allah untuk menikah maka dirinya dapat pula dikenai hukum wajib untuk segera menikah.

2Hukum Sunah tentang Nikah

Ada dua hal yang mengubah hukum menikah menjadi sunah. Hal pertama yaitu saat seseorang telah berkeinginan kuat untuk segera menikah. Dan hal kedua yaitu saat seseorang telah memiliki bekal yang cukup untuk melangsungkan pernikahan.

Bekal yang dimaksud menurut syara’ yaitu saat seseorang telah memiliki sejumlah harta untuk mahar atau mas kawin bagi istrinya serta nafkah yang cukup untuk hari di mana dilangsungkannnya pernikahan. Termasuk harta yang dapat digunakannya membelikan pakaian pernikahan bagi istrinya.

3Hukum Makruh tentang Menikah

Seseorang yang dihukumi makruh untuk menikah yaitu saat dirinya tidak memiliki dua hal sebagaimana disebutkan pada hukum sunah menikah. Yaitu tidak adanya keinginan sekaligus bekal yang cukup untuk menikah dan menafkahi istrinya kelak.

4Hukum Haram tentang Menikah

Nikah dapat  pula dihukumi haram pada seseorang saat dirinya tidak dapat memenuhi hak-hak seorang istri ketika telah dilangsungkan pernikahan. Contohnya tidak dapat memberikan mahar, tidak mampu menafkahi istri, tidak dapat menyediakan pakaian,  tidak dapat memberikan pergaulan yang ma’ruf.

Alasan lainnya seperti tidak dapat memberikan tempat tinggal, tidak dapat memperlakukan dengan adil, tidak dapat mengarahkan untuk taat kepada Allah, tidak dapat menjaga dan menjauhkan keluarga dari api neraka, tidak dapat memberikan pengajaran agama, dan alasan lainnya.