Barangkali istilah hyper parenting belum terlalu populer di Indonesia. Namun, kalau kamu baru saja membangun sebuah keluarga kecil yang baru, rasanya kamu perlu tahu tentang ini.

Di Eropa atau Amerika, hyper parenting merujuk pada pola pengasuhan anak yang berlebihan dalam menentukan detil masa depan anak. Hal ini umumnya terjadi pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan ekonomi menengah ke atas.

Sebagai orang tua bagi anak-anak kamu yang sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, kamu perlu tahu tentang masalah pengasuhan anak ini.

1Hyper Parenting

thedaddycomplex.com

Hal yang dimaksud berlebihan dalam konteks hyper parenting adalah misalnya rencana dan penjadwalan kegiatan anak. Barang kali anak diarahkan oleh orang tua untuk menjadi apa yang pernah dicita-citakan orang tua.

Anak diberikan jadwal harian yang terperinci dan harus dipatuhi. Waktu bermain tentu saja ada, namun porsinya kalah jauh dibandingan dengan waktu belajar atau melakukan latihan bakat tertentu.

hitfix.com
hitfix.com

Anak diperlakukan seolah harus menjadi musisi terkenal di masa depan dengan latihan musik rutin dan konsisten tanpa ditanyakan pendapat anak. Atau barangkali anak diharuskan belajar sepanjang hari agar dapat menjadi ilmuan hebat.

Hyper parenting ini seolah mencoba mengondisikan anak menjadi sempurna dalam kaca mata kesanggupan orang tua. Kalau kamu menonton film animasi The Little Prince, di sana digambarkan kehidupan anak dan ibu yang hyper parenting.

2Dampak dan Masalah

nytimes.com

Seorang psikolog dari Harvard, Alvin Rosenfeld menulis buku tentang hyper parenting dan over-scheduled child. Alvin menjelaskan bahwa secara tidak langsung, alam bawah sadar anak akan menangkap sebuah pesan dari pola pengasuhan hyper parenting.

Pesan alam bawah sadar (subliminal messsage) ini muncul karena orang tua selalu memberi penjelasan bahwa anak itu sebaik dan sehandal orang tua, latihan terus menerus dan peningkatan diri secara konsisten itu penting dengan cara membuat jadwal yang terperinci.

huffingtonpost.ca
huffingtonpost.ca

Secara tidak sadar anak akan berpikir “jika saya sehebat orang tua, mengapa saya harus melakukan latihan itu? Saya pasti tidak hebat sama sekali”. Kemudian anak akan mulai frustasi dengan hyper parenting yang dilakukan orang tua.

Anak tidak akan belajar tumbuh dalam pengambilan keputusan untuk dirinya sendiri. ia justru di dorong terlalu keras untuk memenuhi keinginan orang tua. Anak akan sangat kesulitan membaur dan berinteraksi secara sosial.

3Solusi dan Alternatif Pengasuhan

keeperofthehome.org

Tidak masalah untuk menanamkan cita-cita kepada anak sama seperti cita-cita yang belum pernah kamu raih. Namun, kamu perlu tahu bahwa kehidupan sosial selalu berubah.

Anak mungkin akan menemukan cita-citanya sendiri. Anak butuh waktu untuk mempelajari dirinya sendiri. bagaimana mungkin seorang anak akan berkembang jika ia sendiri tidak mengenal dirinya?

Kamu tentu tahu tentang sekolah alam bukan? Coba masukkan anakmu ke sekolah alam. Biarkan ia berkembang dan mempelajari dirinya sendiri. tugasmu hanya memastikan bahwa anak menjalani yang ia sukai dan menyukai yang ia jalani.

sutakwa.wordpress.com
sutakwa.wordpress.com

Tugas kamu selain itu adalah mempersiapkan kebutuhan materi dan moral anak. Kamu harus menjadi teladan dalam berbagai hal. Baik sikap dan kebiasaan di rumah, maupun sikap dalam interaksi sosial di luar rumah.

Perlu juga bagi kamu untuk menjalin komunikasi yang kontinu tentang sekolah anak, interaksinya dengan teman-teman dan hal lainnya. Kamu dapat juga menceritakan masa kecilmu.

Ceritakan bagaimana kamu menghadapi masalah ketika kecil, namun jangan ceritakan dengan nada seolah kamu lebih hebat dari anak. Ceritakan cukup sebagai alternatif, pilihan solusi. Biarkan ia memilih dengan bahagia.

Biarkan anak kembali menjadi dirinya dan memilih untuk dirinya sendiri. kamu hanya menjadi batas antara baik dan buruk. Arahkan anak untuk memilih yang baik dan jauhkan ia dari pilihan yang buruk.

Selamat menjadi orang tua yang sempurna!

SHARE