Sejak awal memutuskan kuliah dan mengambil program studi hukum dan tata negara, tidak sedikit yang mencibir keputusannya tersebut.

Ternyata, begitulah Yusril Ihza Mahendra. Ia memang seorang pemuda yang tak terduga. Bahkan sampai sekarang pun, keberanian yang ada dalam dirinya tidak pernah pudar. Terutama keberanian dalam menyuarakan kebenaran.

Menjadi berani adalah hal yang sulit dilakukan. Ketika seseorang sudah punya ilmu tapi tidak berani, maka tidakĀ akan ada perubahan, kejahatan dan kesalahan akan semakin menjadi hal yang wajar.

Sebaliknya, jika seseorang punya keberanian tapi ilmunya nol besar, maka apa yang mau disuarakan? Landasan teori dan konsep dasar dalam bersuara saja tidak punya, tidak paham, tidak menguasai.

Maka, ilmu dan keberanian perlu porsi yang berimbang. Tidak kurang atau lebih pada salah satunya.

Back

1. Ditertawakan Teman-teman

Setelah tamat kuliah, dirinya banyak mendapat tawaran dari Departemen Luar Negeri, Serketariat Negara, dan masuk Tentara. Tapi tawaran itu ditolak oleh Yusril, dengan alasan bahwa dirinya hanya ingin menjadi dosen saja.

Teman-temannya kembali mentertawakan keputusannya. Aktivitas Yusril pada saat itu lebih banyak mengajar dan mulai sering menulis.

Dirinya ingin membangun wacana intelektual tentang banyak hal di masyarakat yang kadang-kadang luput dari perhatian orang.

Yusril mengaku, ia tidak ambil pusing terhadap pendapatĀ  orang lain yang seringkali mengatakan jalan yang dia ambil salah. Yusril hanya terus memandang ke depan, konsisten dengan apa yang sudah ia pilih.

Sulit? tentu. Tapi ketika mampu melewatinya, itulah kemenangan sejati. Kesuksesan seseorang dinilai dari seberapa gigih ia mengalahkan dirinya sendiri, mengalahkan kemalasan dan pesimisme.

lintasnasional.com
Back