Beberapa bulan ini telah kita dengar berita tentang tragedi Salim Kancil di Lumajang. Kasus tentang penolakannya bersama beberapa aktivis kontra penambangan ilegal pasir di daerah tersebut. Akibat aktivitas mereka itu, terjadilah beberapa kasus penganiayaan.

Dan pada akhirnya berujung pada pembunuhan Salim Kancil oleh beberapa preman bayaran dari pihak pro penambangan ilegal.

Bukan tentang itu saja yang membuat kita miris. Namun penambangan pasir ilegal memang dapat membuat berbagai dampak kerusakan. Tentunya tak hanya bagi manusia namun terlebih adalah alam.

Nah, berikut ini adalah beberapa tempat yang terkena dampak negatif dari penambangan pasir ilegal di Bumi Pertiwi kita tercinta ini.

1Pantai Cipatujah

aws-dist.brta.in

Contoh yang paling nyata terjadi pada Pantai Cipatujah, Desa Ciadum, Jawa Barat. Pantai ini mengalami kerusakan pada ekosistemnya karena aktivitas penambangan pasir ilegal yang terjadi sangat lama selama beberapa tahun.

Pada akhirnya, di bulan Mei 2013, tambang ini resmi ditutup dan semua aktivitas dihentikan. Hal ini tentu dilakukan karena kerusakan ekosistem yang terjadi pada pantai tersebut semakin memprihatinkan.

Namun tak hanya ekosistem yang rusak, warga pun merasakan sangat terganggu karena banyaknya truk pengangkut pasir yang berlalu-lalang di jalanan setempat. Truk-truk bermuatan berat tersebut berdampak juga pada kerusakan jalan raya.

2Kawasan Sekitar Merapi

aws-dist.brta.in

Aktivitas penambangan liar juga terjadi secara gila-gilaan di Sungai Bojong, kawasan Gunung Merapi. Aktivitas ini berlangsung sejak tahun 2010 dan sampai sekarang masih terus dilakukan.

Padahal sangat jelas sekali bahwa dampak negatif dari aktivitas tersebut adalah kerusakan lingkungan. Terlebih rawannya terjadi tanah longsor karena kawasan yang merupakan dataran tinggi.

Truk-truk pengangkut yang bermuatan berat juga menyebabkan jalan raya di sekitar lokasi menjadi rusak akibat tidak kuat menahan beban. Sungai Bojong pun semakin terlihat sangat memprihatinkan karena ekosistemnya yang telah rusak.

Keserakahan para penambang ilegal juga semakin meresahkan setelah mereka merasakan ketidakpuasan karena pasir-pasir dari lokasi sebelumnya telah habis. Sehingga pada akhirnya mereka melebar menjamah lahan-lahan penduduk dan merusaknya.

Warga semakin resah, namun tak banyak yang mampu mereka lakukan.

3Kawasan Sapiturang Bawah Gunung Semeru

aws-dist.brta.in

Kawasan ini berada di kaki Gunung Semeru, dan disini terdapat sejumlah sungai aliran lahar yang juga dipenuhi oleh aliran material pasir. Namun tak ada regulasi atau peraturan yang mengatur tentang aktivitas pertambangan pasir di sana.

Aktivitas tersebut semakin mengganggu keberadaan lahan pertanian di sekitarnya. Hingga akhirnya dampak negatif yang terjadi adalah, harga pasir menjadi mahal.

Selain itu tanah pertanian atau lahan penduduk menjadi rusak, dan lingkungan menjadi semakin memprihatinkan.

4Sungai Lematang Lahat

aws-dist.brta.in

Para penambang pasir tradisional daerah setempat menjadikan kawasan ini sebagai sumber mata pencarian. Mereka tidak tahu bahwa aktivitas mereka bisa dikategorikan sebagai aktivitas penambangan ilegal, karena tidak memiliki izin yang resmi.

Pasir dan batu di daerah itu dikeruk terus dengan cara tradisional atau secara manual. Dan aktivitas pertambangan tersebut terus berlangsung setiap hari. Hingga pada akhirnya, dari tepian sungai penambanganan pasir itu kini telah mulai menyentuh pinggiran sungai.

5Sungai Luk Ulo

aws-dist.brta.in

Adanya aktivitas penambangan pasir yang terdapat di Sungai Luk Ulo Desa Maduretno, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen ini sering dikeluhkan oleh warga sekitar. Warga semakin lama mulai semakin resah.

Para penambang pasir ilegal yang tak bertanggungjawab tersebut semakin menggila dalam melakukan aktivitasnya mengeruk pasir. Hingga akhirnya aktivitas tersebut semakin mendekati permukiman warga.

Para penambang pasir yang biasanya berjumlah puluhan orang di Sungai Luk Ulo itu terus mengeruk pasir dari pagi hingga malam hari.

Penambang tersebut pada awalnya hanya menambang di wilayah hilir persisnya. Yaitu di Desa Ayamputih, Kecamatan Buluspesantren, dan Desa Pandanlor, Kecamatan Klirong.

Namun mereka sekarang terus bergerak ke wilayah hulu. Yakni di Desa Maduretno dan Kedungwinangun Klirong. Hingga dampak negatifnya pada tahun 2011 telah terjadi longsor dan dua rumah di wilayah itu direlokasi.