mkfuad.blogspot.com

Karena Anak Bukan Kertas Kosong!

Posted on

Pandangan Kebanyakan Orangtua Terhadap Anak

Seorang ibu menitikkan air mata saat berkonsultasi dengan guru anaknya. Singkat cerita hal ini disebabkan nilai-nilai anaknya dibawah standar yang ditentukan oleh sekolah. Ia menitikkan air mata karena kecewa, pasalnya ia sudah berusaha mengajarkan semua yang akan diujikan kepada anaknya, tapi nilai anaknya tetap saja jelek.

Beda orang tua, tentunya beda permasalahannya. Ada juga orang tua yang begitu over protective kepada anaknya. Biasanya alasan mereka melakukan ini karena rasa sayang yang begitu besar kepada anak. Sehingga apapun yang dilakukan oleh anaknya harus sepengetahuan orang tuanya. Dan apapun kebutuhan anaknya selalu dipenuhi.

Namun, suatu hari orang tua dengan pola asuh seperti ini akan kaget dan tidak terima dengan sikap anaknya yang begitu manja dan cenderung tidak bertanggung jawab. Karena dari kecil semua keperluannya dipenuhi oleh orang tuanya, maka saat dewasa anak ini tidak tau apa yang sebenarnya ia butuhkan untuk menjalani kehidupan ini.

Dari dua kasus di atas, maka kita melihat ada cara mendidik yang kurang tepat. Pada kasus yang pertama orang tua mengajarkan anaknya untuk memahami apa yang ia ajarkan, bukan mengajarkan bagaimana caranya belajar. Dan kasus yang kedua, orang tua tersebut lupa bahwa anak punya kebutuhan untuk mengatur dirinya sendiri. Namun jika kebutuhan itu tidak kita penuhi sejak kecil, maka anak pun tidak akan pernah tau apa kebutuhannya.

Dua kasus di atas jelas sekali memiliki duduk perkara yang berbeda, namun keduanya sama-sama meggambarkan kedua orang tua tersebut tidak paham atau lupa bahwa sesungguhnya anak diciptakan bukan seperti kertas kosong.Mereka lupa bahwa tiap anak diciptakan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Nah, karena anak bukan kertas kosong, maka para orang tua sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut ini ketika memberi pendidikan atau menerapkan pola asuh kepada anak.

Beri Anak Tanggung Jawab

majalahembun.com
majalahembun.com

Salah satu cara mencetak anak yang mandiri, adalah dengan memberinya tanggung jawab. Pemberian tanggung jawab kepada anak ini bisa kita mulai sejak anak berusia 2 tahun. Kenapa 2 tahun? Karena di usia ini anak mulai bisa diajak berkomunikasi dan anak pun rata-rata sudah bisa bicara, walaupun belum dalam kalimat yang utuh atau lengkap.

Satu hal yang perlu kita ingat, pemberian jenis tanggung jawab harus kita sesuaikan dengan tingkat usianya. Jadi tanggung jawab anak usia 2 tahun akan berbeda dengan tanggung jawab anak usia 5 tahun. Bentuk tanggung jawab untuk anak 2 tahun misalnya merapikan mainan setelah bermain, dan di usia 5 tahun, ia bisa kita beri tanggung jawab untuk merapikan tempat tidurnya.

Percaya Bahwa Anak Punya Kemampuan Menyelesaikan Masalahnya

supriyadikaranganyar.wordpress.com
supriyadikaranganyar.wordpress.com

Anak akan percaya diri dan mau mencoba sesuatu jika orang di sekitar mempercayainya, terutama kedua orang tuanya. Terutama percaya bahwa anak punya kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya. Kita sebagai orang tua hanya perlu mengarahkan atau pun memberikan pilihan-pilihan solusi.

Biasakan Berdiskusi, Bukan Memerintah

sekolahayahibu.blogspot.com
sekolahayahibu.blogspot.com

Saat memberikan tanggung jawab tertentu kepada anak atau saat orang tua meminta tolong kepada anak, maka biasakanlah menyampaikan dengan cara berdiskusi. Sebelumnya kita bisa tanya kepada anak, apa yang bisa mereka bantu di rumah. Setelah mereka menjawab, tanyakan juga alasan kenapa mereka memilih hal tersebut.

Apa jadinya jika kita memberikan tanggung jawab kepada anak dengan cara memerintah? Jika kita membiasakan dengan gaya memerintah, maka anak tidak pernah belajar untuk memilih dan memutuskan sesuatu. Ia selalu melakukan sesuatu berdasarkan perintah orang lain. Sehingga saat dewasa, ia tumbuh menjadi pribadi yang takut memilih. Ingat kembali, anak bukanlah kertas kosong.

Berikan Contoh, Jangan Melulu Berupa Nasehat Apalagi Omelan

papapz.com
papapz.com

Anak adalah peniru yang ulung, apa yang ia lihat dan dengar itulah yang masuk ke dalam memori jangka panjangnya. Dari fakta ini, maka kita bisa simpulkan bahwa anak butuh contoh dari lingkungannya, bukan nasehat apalagi omelan.

Dengan daya untuk meniru inilah, maka anak menyerap banyak informasi lebih dari yang kita bayangkan. Jadi, ada saja keterampilan tertentu yang terekam dan tanpa disadari muncul ketika dibutuhkan. Dan Inilah fakta bahwa anak bukanlah kertas kosong.

[td_smart_list_end]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *