Ramadhan adalah bulan keajaiban. Rasanya itu tak berlebihan jika mengingat Ramadhan 1427 H, tepat mundur sepuluh tahun silam.

Keajaiban Ramadhan menjelma menjadi keajaiban yang sesungguhnya. Tentu saja bukan berupa mukjizat atau karamah milik para Nabi dan para wali. Ramadhan tahun ini lebih ke perpaduan rasa was-was plus hal-hal yang sulit dijelaskan dalam nalar. Kecuali dalam kerangka keyakinan.

Kisahnya saat itu saya masih menimba ilmu di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Saya juga turut aktif menjadi pengurus Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Jamaah Shalahuddin (JS) UGM. Hajat terbesar JS tiap tahunnya adalah Ramadhan di Kampus (RDK).

Nah saya kebagian mengurusi acara buka bersama di Masjid Kampus UGM selama 30 hari full Ramadhan. Tugasnya terlihat sederhana, menyiapkan makan berbuka beserta minumannya sebanyak 700 porsi setiap hari. Lantas menyiapkan tema kajian dan mengundang Ustadz untuk mengisi selama Ramadhan.

Modal Hampir Nol

jamaah-menunggu-saat-berbuka-puasa-di-sebuah-masjid-_120723121616-213

Menyediakan berbuka gratis untuk 700 orang setiap hari memang terasa mudah jika dana berlimpah. Namun saat saya memegang amanah tersebut modal (kalau boleh disebut modal) nyaris nol.

Saya hanya dibekali gelas baru untuk minuman dari Takmir Masjid dan setumpuk proposal untuk cari dana dari Panitia RDK.

Mari kita hitung-hitungan sejenak. Jika kita harus menyediakan 700 porsi makan besar dengan katakanlah satu porsi Rp 10.000 maka dalam sehari minimal kita butuh dana Rp 7 juta. Sebulan penuh kita butuh minimal Rp 210 juta.

Kenapa minimal, karena belum menghitung biaya pembuatan teh manis dan kafalah ustadz pengisi kajian. Dan tentu saja biaya tetek bengek lainnya. Duit Rp 200 jutaan bagi mahasiswa kere seperti saya adalah impian tak terperi. Punuk merindukan bulan, bulan merindukan punuk. Bayangkan berapa butir kuaci yang bisa dibeli dengan duit segitu?

Langkah Keajaiban

makanan-tradisional-aceh-kanji-rumbi-untuk-berbuka-puasa-_130718150238-464

Tapi saya tak memikirkan angka-angka. Ini bulan Ramadhan. Jika ada banyak orang berburu mencari takjil gratis pasti di sisi satunya ada banyak orang pula yang berburu pahala dengan memberi takjil gratis. Kaidah itu harusnya berlaku, seharusnya.

Maka yang perlu saya dan tim lakukan adalah memastikan kaidah itu berlaku. Kami lari ke Fakultas-fakultas. Kami minta data dosen-dosen yang beragama Islam. Setelah dapat kami buatkan surat permohonan nan aduhai. Kami paksa nuraninya menjerit jika tak menyumbang, kami peras rasa ibanya, kami jejali dengan gambaran balasan-balasan pahala yang besar. Propaganda menjemput keajaiban sedang dimulai.

Saat ceramah tarawih, saya sabotase peran pembaca acara yang mengumumkan Bla Bla Bla. Saya sisipkan untaian nasihat kepada jamaah tarawih Masjid Kampus. “Sesiapa memberi buka orang berpuasa maka ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tadi tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.”

Saya repetisi setiap hari. Saya tunjukkan letak meja meja yang siap menerima donasi sembari berseri-seri. Saya munculkan rasa bersalah jika tak memberi tak pantas ia tarawih disini. (Kejam ya).

Lalu dimana keajaibannya? Sabar. Teruskan membacanya ya

Hari-hari Ketakutan

19

Segala (padahal sebagian) upaya sudah dicoba. Namun penerimaan donasi tak menggembirakan. Ancaman tak sanggup lagi memberi takjil ke jamah mulai membayangi.

Nama besar Universitas Kerakyatan sedang dipertaruhkan. Lauknya tak beranjak dari telur dadar, telur kecap, telur mata sapi, telur dan telur.

Langkah panik pun dilakukan. Meminjam uang!!. Ini demi terselamatmannya ratusan generasi pemburu takjil. Meskipun ada risiko utang membengkak karena digunakan untuk hal konsumtif. Tak apalah, itu dipikir belakangan saja.

Lalu dimana letak keajaibannya? Sabar sebentar lagi ia datang.

Ada Cahaya Entah Dari Mana

miracle-door

Menjelang pertengahan Ramadhan kondisi masih serba sulit. Anggaran diperas betul. Dampaknya menu menciut. Utang makin bertambah.

Dalam situasi yang amat rumit ini hal-hal yang tak diprediksi selalu hadir memberi kejutan. Kejutan yang sempurna.

Tetiba saja ada telepon masuk dari sebuah katering. Jujur saya sudah bosan mendapat telepon dari katering yang menawarkan menu buka puasa. Sudah banyak yang saya tolak. Namun katering yang satu ini berbeda. Ia justru ingin menyumbang takjil buka puasa untuk tiga hari. Lengkap dengan es buah. Aduhai, siapa yang membisiki pemilik katering ini jika kami amat butuh bantuan. Selamatlah para jamaah untuk tiga hari ke depan dengan menu yang tentu saja naik kelas.

Lepas itu seorang ustadz yang rutin mengisi kajian di Masjid Kampus memberi kabar agar saya segera ke rumahnya. Waduh, pikir saya ada masalah soal kajian. Maklum kajian di Masjid Kampus lintas mazhab, potensi “gesekan” mungkin terjadi.

Saat saya datang ke rumah ustadz tersebut ternyata yang diberikan adalah kabar gembira untuk kita semua. Amat gembira. Beliau menuturkan ada donatur dari Timur Tengah yang hendak memberi bantuan buka puasa di Masjid Kampus. Dan kalian tahu jumlahnya berapa? Amat cukup untuk mengarungi buka puasa sampai malam takbiran.

Apakah saya kenal dengan donatur tersebut? Tidak. Apa dia menerima proposal saya? Tidak. Apa dia mendengar permohonan saya sesaat sebelum ceramah tarawih? Tidak. Bahkan dia tak tinggal di Indonesia.

Namun saya percaya ada tangan-tangan ajaib yang bekerja. Yang menyambungkan keinginan orang tersebut yang jauhnya ribuan kilometer dengan kebutuhan jamaah yang bahkan mungkin tidak pernah ia lihat hingga kini.

Sejurus kemudian tetiba seperti air bah yang menerjang semuanya. Ada perusahaan air minum menyediakan minuman gratis untuk beberapa hari. Perusahaan makanan memberikan makanan gratis juga untuk beberapa hari. Donasi harian masih banyak mengalir. Dan semuanya dikembalikan kepada jamaah.

Angka yang amat tinggi bagi mahasiswa kini entah bagaimana caranya bisa didapat dengan berlebih. Oh ya, kami tentu saja tak sanggup pasang iklan di media, apalagi membuat broadcast di media sosial. Saat itu baru zamannya Friendster.

Namun keajaiban Ramadhan tak mengenal zaman. Ia datang sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.