Kembali Ke Asholah Dakwah

Kembali ke asholah (orisinilitas) dakwah, sangat sering kita dengarkan dalam sebuah lembaga dakwah kampus. Kerinduan akan kembali pada asholah dakwah sering disuarakan oleh pelaku dakwah. Berawal dari tantangan dakwah kampus yang semakin besar, membuat pelaku dakwah hanya menjadikan dakwah sebagai formalitas semata tanpa ada ruh sehingga banyak yang kemudian berguguran di jalan dakwah. Asholah merupakan makna dari kemurnian yang kemudian bersumber dalam Al-Qur’an dan merujuk pada warisan peradaban islam. Rasulullah SAW banyak melalui tahapan-tahapan dan metode yang bervariatif, sehingga kita perlu untuk menganalisa dan mencari karakteristik dakwah yang dapat menjadi solusi.

Perlu kita pahami bahwa asholah dakwah kampus yang dimaksudkan disini adalah tarbiyah. Dengan pelakunya adalah pemuda atau biasa disebut aktivis dakwah kampus. Dimana proses tarbiyah ini wadah utamanya adalah mentoring, liqa’, halaqah, dan lain sebagainya yang melahirkan generasi-generasi dakwah yang memiliki potensi ruh, jassad, dan akal yang sempurna.

“dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu infakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Q.S An-Anfal: 63). Permasalahan yang akan kita hadapi akan selalu lebih besar dari kemampuan kita untuk menyelesaikannya, maka dari itu kita lebih membutuhkan kemampuan ruhiyah dari pada kecerdasan. Yang dimaksud ruhiyah disini adalah amal yaumi (tahajud, tilawah, dhuha, dan amalan-amalan yang lain) seorang aktivis dakwah kampus, dimana kedekatan dengan Rabb nya merupakan aspek terpenting dalam dirinya. Mustahil bagi seorang aktivis dakwah kampus sukses dalam dakwahnya tanpa dekat terlebih dahulu dengan Allah.

Dengan mapannya dakwah kampus dan ekspansi yang dilakukan tidak boleh kemudian mengesampingkan prioritas tarbiyah sebagai landasan fundamental dalam gerakan dakwah. Jangan sampai gerakan dakwah di bidang politik, akademik, dan profesi mengurangi perhatian kita pada tarbiyah. Syaikh Musthafa Masyhur mengingatkan kepada kita “Jangan sampai perhatian kita kepada politik mengalahkan perhatian kita kepada tarbiyah”.

Imam Syahid Hasan Al-Banna menyampaikan secara tegas ada 3 tahapan aktivitas dakwah jama’i, yaitu: ta’rif (pengenalan), takwin (pembinaan), tanfidh (pelaksanaan). Dan semua itu dapat tercapai dengan tarbiyah. Tarbiyah dalam dakwah kampus tujuannya adalah membentuk kader militan yang kemudian memperjuangkan islam, sehingga perkembangan kualitas dan kuantitas tarbiyah dalam dakwah kampus berpengaruh secara signifikan terhadap produktifitas dakwah kampus. Oleh karena itu, tarbiyah berfungsi sebagai wadah pengkaderan yang efektif dalam keberlangsungan dakwah kampus.

Perlu kita ketahui bersama mutu suatu dakwah kampus sangat dipengaruhi oleh mutu tarbiyah yang dilakukannya. Ketika mutu tarbiyah baik maka mutu dari dakwah kampus itu akan baik. Dan sebaliknya jika mutu tarbiyah rendah, maka kualitas dari dakwah kampus itu akan rendah. Syeikh Musthafa Masyhur pernah menyampaikan bahwa, “Berbagai peristiwa dan perjalanan waktu menjadi saksi bahwa perhatian terhadap tarbiyah menjadi penentu bagi kadar kemurnian, kesinambungan dan perkembangan harokah. Tarbiyah juga menjadi ukuran bagi sejauh mana keterpaduan di antara anggota-anggotanya, persatuan shafnya, kerjasamanya, kinerjanya serta produktifitas dan efektifitas yang dicurahkan, harta yang diinfakkan dan waktu yang dihabiskan. Sebaliknya, jika aspek tarbiyah ditelantarkan atau kurang mendapat perhatian, maka akan nampak kelemahan dan keguncangan dalam barisan, muncul benih-benih permusuhan dan perpecahan, kinerja semakin melemah dan produktifitas semakin menurun”.

Sudah seharusnya ihtimam (perhatian) kita terhadap tarbiyah menjadi prioritas utama terhadap yang lain. Hal ini yang kemudian menjadi alasan agar kita memprioritaskan tarbiyah sebagai amal terbesar untuk ke-futuh-an dakwah kampus. Sudah saatnya kita kembali ke asholah dakwah. Wallahua’alam…