Bulan Suci Ramadhan. Jika mendengar kata tersebut, siapapun pasti akan senang mendengarnya, saya salah satu diantaranya. Kenapa demikian? Karena Bulan suci ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa, Memangnya, apa sih keistimewaan bulan ramadhan? Salah satu keistimewaannya adalah pada bulan yang suci ini, segala perbuatan amal shaleh akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Sebagai umat muslim yang beriman, tentu saja kita tidak boleh melewatkan kesempatan yang mulia ini pergi begitu saja. Kita harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Anggaplah ini sebagai bulan ramadhan terakhir dalam hidup anda.

        Ngomong-ngomong bulan ramadhan, saya jadi teringat pengalaman seru seputar kehidupan saya sewaktu kecil di bulan ramadhan. Jadi, dulu saat saya masih SD, saya dan teman-teman saya itu mempunyai kebiasaan membangunkan warga sahur dengan cara berkeliling kampung. Sebelum membangunkan warga sahur, saya dan teman-teman sehabis pulang sholat tarawih, meminta izin dengan orang tua dahulu untuk menginap di mushola dekat rumah. Setelah diberi izin, lalu kami berkumpul di pos ronda yang berada di dekat musola. Di pos ronda, kami biasanya mengobrol bersama sambil tertawa-tawa, kemudian ketika bosan, kami pasti bermain karambol yang ada di pos ronda. Agar tidak jenuh, kami membuat kesepakatan jika ada yg kalah, wajahnya harus di taburi tepung yang sudah kami beli sebelum bermain. Itu bisa menambah keasyikan kami dalam bermain.

        Tanpa terasa, waktu sudah sampai larut malam. Saya pun bersama teman-teman berangkat menuju musola untuk tidur. Sesampainya disana, ternyata tidak ada satupun dari kami yang bisa tidur. Akhirnya kami malah kembali mengobrol dan tertawa terbahak-bahak karena teman saya ada yang jago sekali melawak. Karena suara kami yang terlalu keras, akhirnya saat itu, Pak Ustadz yang tinggal di sebelah musolah pun mendatangi kami dan kamipun ketakutan. Saya dan teman-teman saya akhirnya dimarahi, saya sampai saat ini masih mengingat kalimat yang diucapkan beliau kurang lebih seperti ini: “Kalau mau nginep di mushola jangan berisik, ini udah malam. Jangan ketawa kenceng-kenceng juga, nanti diketawain balik ama yg diatas itu (sambil menunjuk pohon sawo besar yang berada di depan musolah) baru tau rasa lu pada”. Kamipun semua pura-pura tidur ketika pak ustadz memarahi kami. Lalu beliau pulang ke rumahnya kembali. Setelah pak ustadz sampai di rumah, kami semua kembali mengobrol dan tertawa lagi dengan kencang. Ketika sedang asyiknya tertawa, tiba-tiba terdengar suara buah sawo yang jatuh dari pohon dan mengenai genting mushola dengan suara cukup kencang. Kami seakan masih menghiraukan suara tersebut dan melanjutkan kembali mengobrol diselingi dengan tawaan. Lalu terdengar lagi untuk yang kedua kalinya suara yang sama yaitu sawo yang jatuh dari pohon dan mengenai genting mushola zzzzzzzzz kembali, tetapi kali ini suaranya lebih keras dari yang pertama. Akhirnya kami semua terdiam dan menghentikan aktivitas karena mulai merasa ketakutan. Disaat semua terdiam, tiba-tiba bunyi ketiga sawo yang jatuh dari pohon dan mengenai genting musolah pun terdengar lagi. Kali ini bunyinya yang paling keras diantara bunyi-bunyi sebelumnya Sontak kami semua melompat dan langsung lari ketakutan menuju pos ronda kembali. Pak hansip yang melihat kami semua berlarian pun menanyakan alasan kenapa kami semua berlari-larian. Kamipun menceritakan kronologi kejadiannya. Setelah selesai menceritakan, pak hansip malah menertawakan kami semua, Memang seharusnya kami menuruti perkataan pak ustadz tadi untuk tidak berisik ketika menginap di mushola.

        Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi, sudah tugas bapak hansip untuk ronda keliling kampung tiap selang satu jam. Ternyata kami diperbolehkan untuk ikut ronda dengan beliau. Pak hansip membawa sebuah stik golf untuk berjaga-jaga kalau ada maling, dan fungsi stik golf tersebut juga untuk membunyikan tiang listrik dengan cara menggetokannya sebanyak jam saat ini. Berhubung sekarang pukul satu, jadi pak hansip membunyikan tiang listrik sebanyak satu kali. Kami bersama pak hansip berkeliling kampung mengecek rumah warga untuk mengantisipasi adanya maling yang biasanya meningkat ketika menjelang lebaran. Hal yang sama kami lakukan pada pukul 02.00 pagi walaupun dinginnya malam sangat menusuk kulit, kami tidak mempedulikannya.

        Akhirnya sampai juga pukul 03.00 pagi, ini adalah waktu dimana kami harus bertugas yaitu membangunkan warga sahur. Kami semua mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk membangunkan sahur mulai dari bedug, gerobak dorong, botol sirup, dan sendok. Setelah semuanya siap, kami mulai melakukan aksi mulai  start dari pos ronda. Tugas saya pada waktu itu adalah memukul bedug. Saya memukul bedug dengan keras sambil berteriak “Sahuuurr.. sahuurrr”. Teman-teman saya ada yang membunyikan botol sirup dengan menggetoknya menggunakan sendok, ada juga yang bertepuk tangan dan ada yang hanya mendorong gerobak dorong yang cukup berat karena membawa bedug yg cukup besar. Kami semua berteriak dengan penuh semangat membangunkan warga untuk sahur. Ketika salah satu dari kami ada yang kelelalahan, kamipun bergantian pekerjaan. Selain menggunakan gerobak dorong dan bedug, kami juga biasanya menggunakan marawis untuk membangunkan warga sahur, kebetulan kami semua satu tim marawis di RT kami. Saat menggunakan marawis, kami biasanya menyanyikan lagu-lagu marawis pada umumnya. Reaksi warga pada saat itu adalah kebanyakan mereka mengintip dari jendela untuk melihat siapa sih yang pagi-pagi berisik membangunkan sahur. Ada yang tersenyum, ada yang tertawa, bahkan banyak dari mereka yang membuka pintu lalu keluar untuk melihat langsung aksi kami. Sering kali, kami bertemu dengan anak-anak RT sebelah yang sedang melakukan aksi yang sama. Kamipun melakukan aksi bersama-sama dengan mereka dan tentunya menambah semangat kami semua. Tanpa terasa, kami sudah sampai di pos ronda kembali yang artinya tugas kami membangunkan warga sahur sudah selesai. Oh iya, untungnya dalam aksi kami membangunkan sahur warga ini, sebelumnya mendapat izin juga dari RT setempat dan malah di dukung oleh pak RT, jadi jika ada warga yang tidak suka dengan aksi kami, pak RT akan turun tangan membantu membela kami. Setelah sampai pos ronda, kamipun beristirahat sejenak sambil merapikan peralatan-peralatan yang tadi habis digunakan. Setelah semua beres, kami semua pulang ke rumah masing-masing untuk makan sahur.

        Saya pun makan sahur bersama keluarga sambil menonton acara televisi khas ramadhan. Setelah imsyak, saya pun menstop makan dan minum lalu membaca doa niat berpuasa. Tak lama kemudian, adzan shubuh pun berkumandang saya pun bergegas pergi ke mushola kembali untuk sholat shubuh berjamaah bersama teman-teman lagi karena setelah sholat shubuh, kami mempunyai kegiatan lagi. Setelah selesai sholat shubuh berjamaah, kami semua berkumpul di pos ronda kembali untuk mengecek apakah sudah semuanya datang agar tidak ada yang tertinggal. Setelah semua lengkap, kami pun mulai bergegas menuju Kebun Binatang Ragunan seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Mengingat Kebun Binatang Ragunan itu tidak dekat, tentu saja kami semua tidak berjalan kaki. Tempat yang kami kunjungi pertama kali adalah Pool Kopaja, karena jurusan kopaja tersebut searah dengan tujuan kami. Kamipun menunggu salah satu kopaja tersebut keluar di luar Pool. Terdengar suara kopaja mulai berjalan, setelah melewati gerbang Pool, kamipun langsung naik ke dalam kopaja dan setelah sudah didalam kami baru meminta izin untuk menumpang sampai Kebun Binatang Ragunan. Beruntung, kami diperbolehkan oleh Pak supir, karena tidak semua supir kopaja memperbolehkan kami untuk menumpang yang akhirnya kami harus turun kembali. Setelah sampai di tujuan, kami berterima kasih kepada pak supir dan langsung turun dengan hati-hati dari kopaja tersebut. Akhirnya kami sampai juga di depan pintu masuk Kebun Binatang Ragunan. Berhubung kami semua tidak membawa uang, dan kebetulan belum ada petugas yang berjaga di loket karena masih sangat pagi, kami pun memanjat gerbang pintu masuk tersebut agar bisa masuk dengan gratis. Setelah semuanya sudah masuk kedalam, kamipun berjalan-jalan berkeliling melihat binatang-binatang. Setelah puas dan lelah berjalan-jalan, akhirnya kami memutuskan untuk pulang  ke rumah masing-masing. Cara agar bisa pulang ke rumah dengan tidak membawa uang adalah menggunakan cara kami saat pergi, yaitu menumpang. Kali ini yang ingin kami tumpangi adalah mobil bak terbuka, karena kalau naik kopaja pasti sudah disuruh bayar karena hari sudah cukup siang. Tidak sebentar kami menunggu mobil bak terbuka yang boleh ditumpangi. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya ada mobil bak terbuka yang memperbolehkan kami untuk menumpang dan kebetulan melewati gang rumah kami semua. Setelah turun dari mobil bak, akhirnya kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Setelah sholat dzuhur, saya langsung menuju kamar untuk tidur karena sangat lelah sekali.

         Disaat nyenyaknya tidur, tiba-tiba ibu saya membangunkan saya lalu menyuruh saya untuk melihat jam. Ternyata, jam sudah menjukkan pukul 15.00 dan saya harus bersiap-siap untuk mengikuti pesantren kilat di mushola bersama teman-teman. Untung saja, ibu saya membangunkan saya tidur, jika tidak saya bisa-bisa sampai maghrib pun saya masih tertidur lelap. Setelah mandi dan berpakaian rapi, saya berangkat menuju mushola untuk mengikuti pesantren kilat. Saya pun kembali bertemu dengan teman-teman yang juga ikut pesantren kilat di musolah. Adzan ashar pun berkumandang, kami semua shalat ashar berjamaah bersama sebelum pelajaran pesantren kilat dimulai. Setelah selesai sholat, saya mulai mengaji dan mengikuti pelajaran yang saat itu diajarkan oleh pak ustadz. Lalu saat pelajaran selesai, tiba waktunya untuk istirahat. Saat istirahat, biasanya saya bersama teman-teman jajan di warung untuk membeli cemilan nanti saat berbuka puasa. Setelah puas jajan, kami kembali ke mushola dan kebetulan waktu istirahatnya sudah selesai. Jadwal selanjutnya setelah istirahat adalah menunggu adzan maghrib. Sambil menunggu adzan maghrib, kami dipandu untuk membaca doa-doa oleh pak ustadz sambil makanan dan minuman untuk berbuka puasa dibagikan oleh panitia . Tidak lama kemudian, adzan maghrib pun terdengar berkumandang dan itu saatnya untuk berbuka puasa. Sebelum berbuka puasa, kami membaca doa berbuka puasa bersama-sama dahulu. Setelah selesai membaca doa, saatnya menyantap makanan yang telah disediakan dan setelah selesai makan, saya segera berwudhu untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Lalu sehabis shalat maghrib berjamaah, saya langsung pulang ke rumah untuk bersiap-siap shalat tarawih nanti. Pesantren kilat di mushola biasanya berlangsung selama 10 hari dan biasanya 3 hari sebelum pesantren berakhir, diadakan perlombaan-perlombaan yang diadakan oleh panitia seperti lomba adzan, lomba, mewarnai untuk anak-anak, lomba praktek shalat, dll. Pada saat itu, saya menjadi juara 1 untuk lomba praktek shalat. Saya sangat senang sekali karena mendapatkan hadiah.   Setelah sampai di rumah, saya menonton tv sebentar sambil menunggu adzan isya berkumandang. Ketika sudah tiba waktu isya, saya langsung berangkat menuju musolah kembali untuk melaksanakan isya dan tarawih bersama keluarga.

        Waktu demi waktu berjalan sangat cepat sampai tidak terasa sekarang saya lah yang menjadi panitia pesantren kilat menggantikan kakak-kakak yang kemarin. Sampai sebelum tamat SMA, saya sangat aktif mengikuti kegiatan tersebut. Banyak pengalaman yang dapat diambil. Saya terkadang tertawa sendiri melihat anak-anak yang sedang mengikuti pesantren kilat tersebut karena saya jadi teringat ketika dulu masih menjadi peserta. Ketika mulai duduk di bangku kuliah, saya menjadi jarang menghadiri pesantren kilat, karena kesibukan saya kuliah. Lusa, tepatnya pada tanggal 6 Juni 2016, insyaallah kita semua akan kembali bertemu dengan Bulan suci ramadhan kembali. Sepertinya saya masih tidak bisa menghadiri pesantren kilat ramadhan untuk menjadi panitia karena saat ini saya sedang berada di semester yang menurut saya sangat sibuk mulai dari Penulisan Ilmiah, Praktikum dan Proyek yang cukup banyak, dan  ditambah sekarang saya menjadi Asisten Perpustakaan di kampus yang menjadikan saya semakin sibuk. Di usia yang sekarang ini, saya sudah tidak bisa merasakan kembali keseruan pengalaman-pengalaman kecil saya seperti membangunkan sahur warga karena teman-teman saya juga mempunyai kesibukan masing-masing, ada yang sudah bekerja ataupun kuliah.

        Kira-kira begitulah pengalaman pribadi kehidupan saya di bulan ramadhan yang tidak akan pernah bisa saya lupakan seumur hidup, meskipun perbuatan saya ada yang tidak baik, seperti tidak membayar masuk ke dalam kebun binatang. Semoga di bulan ramadhan tahun ini, saya dan pembaca dapat menjalani bulan yang suci ini dengan  penuh  keberkahan.. Amiin.

 

Sumber gambar :

Amal-amal Mulia di Bulan Ramadhan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SHARE