Kerajaan Samudera Pasai pernah ada di Nusantara, tepatnya di Lhokseumawe, Aceh Utara. Berdiri sekitar abad ke-13. Kerajaan ini begitu terkenal sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Sumatera dan berhasil membangun peradaban yang sangat gemilang di bumi Nusantara.

Pada kesempatan kali ini, tandapagar.com akan membahas tentang peninggalan Kerajaan Samudera Pasai agar kita sebagai anak bangsa dapat mengetahui dan memaknai keberadaan nenek moyang kita yang telah berhasil membangun peradaban yang begitu agung. Berikut ini penjelasannya.

1Dinar

wikipedia.org

Sejak zaman Kerajaan Samudera Pasai berada di tanah melayu, uang yang digunakan sebagai alat tukar adalah dinar. Wujud fisik mata uang dinar di Samudera Pasai berupa emas murni 18 karat dengan 70% merupakan emas murni.

Koin ini berukuran mungil dengan diameter 10 milimeter dan berat 0,6 gram. Pada saat itu dinar dicetak dalam dua ukuran, yaitu satu dinar dan setengah dinar. Pada satu sisi tercetak tulisan Muhammad Malik Al-Zahir. Sedangkan sisi yang lain tercetak tulisan Al Sultan Al Adil.

Dinar ini tetap berlaku hingga tentara jepang mendarat di Seulilmeum, Aceh Besar pada tahun 1942. Walau demikian, di beberapa daerah di Sumatera Barat hingga saat ini masih dapat kita jumpai penggunaan satuan dinar ini.

2Cakra Donya

atjehliterature.blogspot.com

Cakra Donya merupakan sebuah lonceng peninggalan Kerajaan Samudera Pasai yang dikeramatkan oleh warga Aceh hingga sekarang. Bentuknya berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina tahun 1409 Masehi. Memiliki tinggi 125 cm dan lebar 75 cm.

Cakra sendiri memiliki makna poros kereta dewa atau matahari dalam mitos Hindu. Sementara Donya berarti dunia. Pada bagian luar lonceng terdapat sebuah simbol beraksara Arab dan Cina yang menggambarkan nama raja Samudera Pasai ketika itu dan tahun dimana lonceng itu dikirimkan ke Aceh.

Lonceng Cakra Donya memang merupakan hadiah yang diberikan oleh kekaisaran Cina kepada Sultan Samudera Pasai sebagai tanda adanya hubungan bilateral antar kedua kerajaan.

3Naskah Surat Sultan Zainal Abidin

hermankhan.blogspot.com

Naskah surat Sultan Zainal Abidin dituliskan oleh beliau pada tahun 923 Hijriah atau tahun 1518 Masehi ditujukan kepada kapitan Moran yang bertindak atas nama wakil Raja Portugis di India. Surat ini ditulis menggunakan bahasa Arab menjelaskan mengenai keadaan Kerajaan Samudera Pasai ketika itu.

Pada saat itu, Malaka telah ditaklukkan oleh Portugis pada tahun 1511 Masehi. Dalam surat juga dijelaskan nama kerajaan yang berada di sekitar Samudera Pasai, yaitu Negeri Mulaqat (Malaka) dan fariyaman (Pariaman).

4Stempel Kerajaan

flickr.com

Stempel yang diduga milik Sultan Muhamad Malikul Zahir yang merupakan Sultan Kedua Kerajaan Samudera Pasai ini ditemukan di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Berukuran 2×1 centimeter dan terbuat dari bahan sejenis tanduk hewan.