Mungkin kita sering mendengar banyak orang membahas mengenai korupsi. Baik itu di lingkungan sekitar kita atau pemberitaan yang ditayangkan oleh televisi. Saat mendengar kabar mengenai korupsi yang semakin merajalela dan seperti tersistem di negeri ini, maka tak jarang telinga kita menjadi panas dan darah kita bergejolak saking gemasnya.

Tidak berhenti sampai di situ saja, setelah itu kita pun akan bertanya-tanya, “Bagaimana kondisi ini bisa terjadi? Dan bagaimana menghentikan semua ini?” Lalu, apa yang terjadi ketika kita memikirkannya? Ternyata korupsi tetap saja terjadi dan kita jadi pusing sendiri.

Nah, daripada semakin terjerumus dalam kepusingan kita sendiri, bagaimana kalau sekarang kita lihat bagaimana seorang novelis ternama nan cantik berbicara tentang korupsi. Kira-kira pembahasannya akan dibawa kemana, ya? Penasaran kan? Kalau penasaran, langsung kita lihat yuk apa yang ditulis oleh Asma Nadia yang pernah dimuat di Republika Online berikut ini tentang korupsi.

Back

1. Korupsi di Era 80-an

Saat seorang novelis atau seorang penulis berbicara mengenai sebuah permasalahan, tentunya akan sering dikaitkan dengan kaidah bahasa. Lalu bagaimana dengan permasalahan korupsi? Menurut Asma Nadia korupsi di Indonesia ini memiliki nama, wajah, dan wujud yang beragam dari masa ke masa.

Di era tahun 80-an misalnya, saat itu wujud korupsi berbentuk pungli atau pungutan liar. Saking membudayanya pungli di eranya, maka kata pungli yang merupakan sebuah akronim ini sudah masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pada masa itu.

elshinta.com
Back