dakwatuna.com

Ledia Hanifa, Sang Srikandi Wanita Pengganti Fahri Hamzah, Satu-satunya Pimpinan Wanita di DPR RI

Posted on

Intro

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menunjuk Ledia Hanifa sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI untuk menggantikan Fahri Hamzah yang dipecat dari partai.

Keputusan penunjukan Ledia diambil dalam rapat pleno Dewan Pimpinan Tingkat Pusat PKS pada dua hari setelah pemecatan Fahri diumumkan oleh Presiden PKS Sohibul Iman.

Ternyata, Ledia Hanifa disebut-sebut sebagai wanita tangguh yang sukses menjadi seorang Ibu, istri, sekaligus politikus. Wow!

Siapakah Wanita Ini?

harnas.co
harnas.co

Saat ini, Ledia Hanifa menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VIII DPR yang membidangi lingkup sosial, agama, bencana, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak.

Ibu empat putra ini terpilih dari dapil Jawa Barat I yang meliputi Kota Bandung dan Kota Cimahi. Saat ini adalah periode kedua Ledia terpilih sebagai wakil rakyat.

Di partai, Ledia adalah Ketua Bidang Ketenagakerjaan, Petani dan Nelayan DPP PKS. Ledia termasuk salah seorang elite PKS terpilih yang dibawa oleh Presiden PKS Sohibul Iman menemui Presiden Jokowi di Istana Negara 21 Desember 2015.

Alumni Universitas Indonesia

tribunnews.com
tribunnews.com

Perempuan kelahiran Jakarta, 30 April 1969 ini mengantongi gelar sarjana sains kimia dari Universitas Indonesia.

Oleh karena ketertarikannya pada bidang sosial, Ledia pindah haluan saat melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Ia memilih studi mengenai Intervensi Sosial pada program Magister Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Ketika kuliah di Fakultas MIPA Universitas Indonesia jurusan Kimia, Ledia bertemu Drs. Bachtiar Sunasto, MS. Akhirnya, mereka menikah pada tanggal 13 Agustus 1989.

Aktif Bekerja Sosial Sejak SMP

poskotanews.com
poskotanews.com

Ibu dari 4 orang putra ini gemar melakukan aktivitas kemasyarakatan sejak masih duduk di bangku SMP.

Motivasi kerja sosial kemasyarakatan dalam dirinya tumbuh semakin pesat setelah membaca buku Tapak Kuring Ngaliwat.

Tapak Kuring Ngaliwat adalah sebuah otobiografi dalam bahasa Indonesia dan Sunda yang ditulis sang kakek, Rd. H. Hasan Natapermana yang pernah menjabat sebagai anggota Parlemen Pasundan.

Fokus Pada Pemberdayaan Perempuan

endonewsia.com
endonewsia.com

Langkahnya di parlemen diawali ketika terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Bandung dan Kota Cimahi pada 2009.

Dalam kiprahnya di parlemen pada periode 2009-2014, Ledia berada di Komisi IX DPR RI yang membidangi masalah kesehatan, ketenegakerjaan, kependudukan dan transmigrasi.

Kemudian Ledia ditugaskan ke Komisi VIII yang membidangi masalah sosial, agama, bencana dan pemberdayaan perempuan serta perlindungan anak.

Di parlemen, Ledia juga aktif sebagai Ketua V bidang kehumasan di Kaukus Perempuan Parlemen RI periode 2009-2014.

Menjadi anggota forum parlemen Indonesia untuk kependudukan dan pembangunan 2009-2014, anggota majelis pertimbangan PP Ikatan Ahli kesehatan Masyarakat Indonesia serta Ketua III PP Wanita PUI.

Semenjak bergabung dengan Partai Keadilan pada tahun 1998 dan dilanjutkan dengan Partai Keadilan Sejahtera fokus aktivitasnya lebih mengarah pada pemberdayaan politik perempuan.

Tanggung jawabnya sebagai Ketua Dewan Pengurus Pusat PKS bidang Kewanitaan (2005-2010) mendorong dirinya dan teman-temannya untuk mengaktifkan 4500 Pos Wanita Keadilan di 33 propinsi sebagai salah satu program unggulan dalam pemberdayaan masyarakat.

Aktivitas tersebut merupakan perwujudan visinya yaitu memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat tanpa membedakan agama, suku, perempuan-lelaki, miskin-kaya.

Anggota DPR = Amanah Dakwah

suarajakarta.co
suarajakarta.co

Baginya, amanah sebagai anggota DPR RI adalah amanah da’wah yang harus diwujudkan sebagai rahmat bagi semesta alam.

Akses politik sebagai anggota DPR yang dimilikinya tetap akan dimanfaatkan untuk mendorong pemerintah kota Bandung, Cimahi,

dan pemerintah propinsi Jawa Barat dalam meningkatkan kualitas hidup warga Bandung dan Cimahi yang meliputi pendidikan, kesehatan serta lingkungan hidup.

Dalam bidang organisasi, Ledia lebih banyak bergelut di sektor dakwah. Nama Ledia tercatat aktif di Dewan Pembina Yayasan Uswah Ummahat sebagai pembina, Dewan Penasihat Yayasan Majelis Dzikir dan Dakwah Lansia sebagai penasihat.

Konsultan Area Muda sebagai konsultan, Dewan Pengurus Yayasan Uswah Ummahat sebagai ketua (2003-2006), Pemuliaan Perempuan Retas Leadership Center sebagai ketua divisi (1996-1997).

Pengganti Fahri Hamzah

pks-jabar.org
pks-jabar.org

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengambil langkah besar dengan menunjuk Ledia Hanifa Amalia menggantikan posisi Fahri Hamzah untuk duduk di kursi Wakil Ketua DPR RI yang merupakan salah satu posisi prestisius di parlemen.

Ketua Departemen Bidang Hukum PKS, Zainudin Paru mengatakan rapat Dewan Pimpinan Tingkat Pusat PKS telah memutuskan Ledia Hanifa Amaliah sebagai pengganti Fahri Hamzah menjadi Wakil Ketua DPR.

Jadi Perempuan Harus Berdaya!

dakwatuna.com
dakwatuna.com

Ledia memiliki pemikiran yang mendorong agar perempuan Indonesia lebih berperan dalam berbagai bidang.

Ia menulis buku yang berjudul, Kalau Mau, Kita Bisa yang ditulis pada tahun 2011. Ia menumpahkan pikirannya mengenai bagaiamana seharusnya perempuan bisa punya peran besar dalam berbagai bidang kehidupan bangsa.

Salah satu tantangan perempuan di parlemen adalah menjawab keraguan kapabilitas dan kemampuan dalam meramu kebijakan-kebijakan legislatif untuk kemajuan bangsa.

Menurutnya, kebanyakan masyarakat Indonesia ternyata belum bisa melihat bahwa tidak semua perempuan anggota dewan ingin mengejar karier di kepemerintahan.

Boleh jadi karena panggilan nurani. Bahkan harus mengorbankan sesuatu yang personal untuk kemudian memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Bukan berarti laki-laki tidak berangkat juga dari adanya panggilan nurani untuk memberikan kontribusi kebaikan pada masyarakat, tetapi persoalannya, dalam kultur Indonesia, urusan domestik itu memang masih diserahkan hampir sepenuhnya kepada sosok ibu.

Sehingga effort yang dilakukan oleh seorang perempuan ketika dia berada di ranah publik pastilah jauh lebih besar ketimbang dengan bapak-bapak itu.

[td_smart_list_end]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *