Mari kita tukar pikiran soal LGBT yang lagi ramai dibicarakan orang. Saya melihat LGBT sebagai sesuatu yang tidak jelas. Apapun yang tidak jelas. Samar. Sesuatu yang tidak jelas lalu diusahakan menjadi jelas. Itulah LGBT. LGBT ini penyakit yang bisa menjangkit semua orang. Temporer atau permanen.

Ada banyak terminologi negatif untuk menggambarkan ketidakjelasan sejenis LGBT. Banci, munafik, gaje, hipokrisi, subhat, ambigu, atau tambah aja sendiri. Ora Cetho kata orang Jawa. Banyak lagi dalam bahasa daerah lain. Tetapi menarik jika diskusi ini pada jenis kelamin manusia ada benarnya. Karena ketidakjelasan paling fatal adalah jika di-idap oleh manusia.

Pertama-tama karena dalam kitab suci, manusia disebut sebagai “ciptaan terbaik”. Sulit membayangkan dan diterima akal ada ketidaksempurnaan yang fatal. Para Ilmuan juga mengakui ada “disain gagal” dalam alam ini. Tetapi cara kita melihat ciptaan Tuhan itulah yang membedakannya. Para pendukung LGBT menganggap “disain gagal” sebagai jenis ciptaan baru. Pada pendukung LGBT menganggap Tuhan bisa keliru. Jadi inilah dasar dari seluruh perbedaannya. Cara pandang terhadap pencipta. Ini soal iman.

Memang akhirnya harus diakui bahwa ini adalah perspektif Yahudi. Yang dikecam dalam Alquran. Orang Yahudi meragukan Tuhan. Yahudi menganggap Tuhan tidak sempurna. Kita yang mayoritas di Indonesia menganggap Tuhan itu maha sempurna. Maka kita sembah. Manusia yang harus mengatasi semua ketidaksempurnaan sebab sebagiannya juga ulah manusia.

youtube.com
youtube.com

Begitulah cara kita membaca gejala LGBT dalam perilaku manusia. Ada banyak yang lahir tidak sempurna. Tugas kita menyempurnakan. Ada yang hormonal sifatnya. Perempuan tapi hormon lelaki dominan dan sebaliknya. Ada juga yang berbentuk fisik. Lahir dengan kelamin ganda, dll. Semua dapat dilacak sebabnya secara genetik. Dan dapat dilacak dari awal.

Maka jika ada ketidaksempurnaan setelah terlacak sejak awal ya disempurnakan. Seperti banyak saudara kita penyandang disabilitas. Maka kita bantu. Jangan sampai diabaikan. Tetapi, kampanye LGBT ini sudah keterlaluan. Karena ditumpangi oleh ideologi dunia yg nir identitas. Mereka mau LGBT jadi identitas baru umat manusia. Padahal baik agama maupun sains umumnya sama dalam memandang ketidaksempurnaan LGBT.

Jadi kalau mindset sejak awal sudah benar maka mengatasinya gampang. Pertama deteksi sejak awal. Cegah sejak awal, atasi sebagai masalah pribadi sejak awal. Atas apa yg sudah menjadi gejala sosial ya jangan ditoleransi sebab ini kan penyakit sosial. Kita tidak mau Indonesia tumbuh jadi negara tidak jelas. Itu saja. Kita tidak mau generasi bangsa hilang oleh kejahatan kemanusiaan menghalalkan kematian generasi. Mereka ingin identitas kita jadi tidak jelas sebab dengan itu peradaban kita musnah.

Masak gitu aja gak bisa bersikap. Ya karena LGBT adalah ideologi ketidakjelasan. Plintat plintut. Itu ideologi LGBT. Dan amat disayangkan karena kita tumbuh dalam masyarakat yang semakin tidak jelas. Dan mencintai ketidakjelasan. Maka LGBT merajalela. Coba lihat penegakan hukum. Penuh dengan LGBT. LGBT kerjaannya bersolek. Itulah pencitraan yang menjangkit para pejabat.

LGBT itu kiri kanan OK. Itulah kelakuan politisi. Itu ideologi LGBT. Kalau kita mau sembuh dari penyakit LGBT kita mesti kembali kepada satu kebenaran. Kembali pada satu keyakinan. Kebenaran tidak bisa kita serahkan kepada opini buatan dunia. Masak jenis kelamin mau diputuskan dengan suara terbanyak? Mari kembali kepada Pancasila. Kembali kepada agama dan negara. Jika kita bersatu kita bisa hadapi mereka. Tapi jika berpecahan maka ideologi LGBT akan berkuasa. Mari mendirikan suatu Bangsa.  Yang punya identitas. Yang jelas. Mari dirikan Indonesia Raya.

*Kultwit Fahri Hamzah @Fahrihamzah 12/02/2016 14:37:15 WIB