Liem Sioe Liong salah bentuk pengusaha binaan militer Soeharto , dimana sudah mempunyai pandangan yang sama dengan perwira tinggi lainnya. Soeharto dan perwira tinggi lain percaya bahwa untuk operasi militer berhasil, perlu adanya kerjasama dengan cukong (umumnya Cina). Jalur ini dipelihara Soeharto saat dia menjadi pangdam di Semarang. Melalui koperasi divisi militer disana, Om Liem sudah menjadi pemasok. Tidak hanya Soeharto. Hampir semua Panglima pada jaman itu sudah melakukan bisnis. Jadi penyelundup untuk kesejahteraan prajurit.

Panglima di Sulawesi barter kopra, dan Panglima di Sumatera jual beli karet, demikian juga Soeharto di Jawa. Demikian perkenalan dengan Om Liem. Soeharto percaya jalur bisnis dengan cukong jika dipelihara dapat meningkatkan dana operasi mereka yang terbatas. Nasution tidak setuju. Soeharto tidak terjun langsung dalam bisnis atas nama koperasi divisi. Ali Moertopo, Yoga Sugama, Sujono Humardhani yang pegang duit. Jadi hubungan Soeharto dengan Om Liem tidak langsung. Pertama dia tidak terlalu paham bisnis. Ali Moertopo lebih paham dan ngatur semuanya.

Kedua. Nasution mengincar Soeharto atas laporan perwira, karena bisnis ilegal. Sebelum dipecat, Jenderal Soewarto menariknya ke Seskoad. Apalagi Panglima setelah Soeharto, yakni Pranoto sangat getol membongkar jaringan bisnis ilegal. Om Liem tersingkir. Dan nasib Om Liem masih beruntung, karena jaman Panglima Suryo Sumpeno. Dia kembali lagi berbisnis di wilayah Diponegoro. Soeharto yang menitipkan Om Liem ke Panglima Suryo Sumpeno. Soeharto sudah secara de facto mengambil kekuasaan AD waktu itu setelah G 30 S PKI. Kelak Suryo menjadi salah satu aspri Soeharto disamping Ali Moertopo dan Sujono Humardani (Mertuanya Fauzi Bowo).

fokusbisnis.com
fokusbisnis.com

Kisah Om Liem bersama the gang of four bisa dilihat di google. Saya cuma cerita bagaimana koneksi bisnis menggurita sejak Soeharto berkuasa. Jasa jenderal Suryo yang membawa Om Liem masuk kembali ke Soeharto dibalas kelak oleh Om Liem dengan memberi modal sebagai kontraktor Hotel-Hotel. Om Liem jadi representasi patron militer dan cukong. Ini sesuai kebijakan Soeharto bahwa golongan Cina tidak boleh berpolitik. Hanya dagang. Tidak dapat dilupakan disini Ali Moertopo dengan operasi khususnya, banyak mengandalkan uang uang dari pengusaha Cina, termasuk Om Liem.

Waringin Kencana, perusahaan bentukan bersama Sudwikatmono, Juhar Sutanto, Ibrahim Risyad menjadi besar karena perlindungan militer. Pabrik Bogasari salah satu industri bentukan, dengan modal pinjaman dari Pemerintah (baca: Soeharto) yang dapat pembagian keuntungan. Soeharto bilang ke Om Liem melalui asprinya, agar keuntungan dimasukan dalam bentuk saham saham bagi keluarganya. Waktu itu Tutut dan Sigit masih remaja, tapi masing-masing sudah mendapat 25 persen saham bank bentukan baru Om Liem, Bank BCA.

Om Liem tidak lupa istri Soeharto. Nama Sudwikatmono muncul karena memang dia kerabat Bu Tien. Ditempelkan ke Om Liem. Atas jasa perkenalan ke Om Liem lalu Sudwikatmono memberikan saham atas nama Ibu Tien di Hotel Kartika Chandra. Salah satu yang membuat Bogasari berkembang adalah faktor monopoli. Siapa yang bisa impor terigu kecuali Om Liem. Ada yang bilang Soeharto besanan dengan Om Liem dari istrinya Sigit. Itu tidak benar. Elsye Sigit memang orang Manado, wajahnya mirip Cina. Dia bukan anaknya.

beritalima.com
beritalima.com

Tapi jaman itu nama Sigit paling banyak dipakai Soeharto sebagai nama saham penyertaan untuk bisnis bisnis Om Liem. Tentu saja saham kosong. Indocement juga bisnis Om Liem yang dapat monopoli memasok semen proyek-proyek pemerintah dan Pertamina. Jaman REPELITA memang butuh infrastruktur. Soeharto menitipkan sanak saudara ke Om Liem untuk dapatkan network bisnis. Salah satunya Probosutejo yang jadi guru di Medan dipanggil pulang. Soeharto juga meminta Om Liem (dan pengusaha-pengusaha Cina lainnya) menyetor jatah-jatah preman ke Yayasan-Yayasan seperti SuperSemar, Berdikari, dll.

Jenderal Bustanil Arifin, yang istrinya kerabat Bu Tien, juga salah satu pengelola uang-uang dari Om Liem yang salah satunya diputar di Bank Duta. Suatu hari Soeharto mampir ke ladang milik Jenderal Solichin GP yang baru pensiun dari Gubernur Jabar. Ia buka usaha di selatan Sukabumi. Ia dapat inspirasi untuk buka pusat peternakan dan pertanian di Tapos. Lalu ia bicara dengan Om Liem, bagaimana mendatangkan sapi dari Australia. Lalu Om Liem mendatangkan sapi-sapi untuk Tapos yang didatangkan dengan kapal LST milik TNI AL. Sapi-sapi juga bercampur komoditi gandum buat Bogasari.

*Kultwit Iman Brotoseno @Imanbr 10/06/2012