Seorang mahasiswa diturunkan dari pesawat Southwest Airlines setelah berbicara Bahasa Arab sebelum pesawat lepas landas. Hal ini disebabkan para penumpang merasa terancam dengan percakapan Bahasa Arab tersebut.

Pemuda tersebut bernama Makhzoomi, seorang Mahasiswa Universitas California, Berkeley, yang mengungsi ke Amerika Serikat pada tahun 2010 dari Iraq.

Maskapai Southwet Airlines menurunkan mahasiswa tersebut saat akan terbang ke Oakland ke Los Angeles pada tanggal 6 April.

Sebelum lepas landas, dia menghubungi pamannya yang ada di Iraq untuk menceritakan pertemuannya dengan sekjen PBB, Ban Ki Moon. Di akhir pembicaraan, dia mengucapkan kalimat “insya allah”.

Seorang penumpang yang mendengarkan pembicaraan tersebut merasa khawatir dan merasa ada potensi ancaman dari pembicaraan tersebut, demikian penjelasan Southwest Airline.

Seorang penumpang di sebelah Makhzoom mendengarkan pembicaraan antara ia pamannya dan mereka khawatir dengan “komentar yang berpotensi ancaman,” menurut pernyataan dari Southwest Airline.

Penumpang wanita tersebut mengadukan ke staf maskapai pembicaraan tersebut bahwa ia mendengar Makhzoom mengatakan syahid. Setelah itu Makhzoomi didekati oleh seorang karyawan Southwest Airlines yang bertanya mengapa menggunakan Bahasa Arab sambal dikawal menuju petugas keamanan di terminal.

Setelah itu tiga orang agen FBI dipanggil oleh pihak bandara untuk menginterogasi Makhzoomi. FBI menanyakan asal usul Makhzoomi, terutama ayahnya yang merupakan mantan diplomat Irak dan dibunuh oleh rezim Saddam Hussein.

Setelah beberapa jam diperiksa, FBI menyatakan tidak menemukan ancaman dari Makzhoomi. Namun, Makhzoomi sudah kadung kecewa dengan Southwest Airlines dan menginginkan permintaan maaf dari Southwest Airlines atas perilaku yang tidak menyenangkan tersebut.

Martabat manusia adalah hal paling berharga di dunia, bukan uang, “kata Makhzoomi”.

SHARE