tribunnews.com

Mantan TNI Ini Sekarang Jadi Bupati dan Raih Penghargaan Bergengsi Nasional

Posted on

Siapa yang kenal dengan Bupati Batang, Jawa Tengah, periode 2012-2017, Yoyok Riyo Sudibyo?

Barangkali mayoritas masyarakat Indonesia tidak banyak yang tahu siapa sosok tersebut. Jika bagi sebagian besar orang, namanya tidak begitu familiar, maka bagi rakyat kecil di Kabupaten Batang, namanya sangat harum dan selalu diingat.

Bersama Risma, Yoyok Riyo Sudibyo pun dianugerahi penghargaan yang sama, yaitu Bung Hatta Anti-Corruption Award 2015. Lantas, siapa sebenarnya Yoyok?

Mantan TNI

ilmudes.com
ilmudes.com

Pria kelahiran 23 April 1972 asal Bandar, Batang, ini lulusan Akademi Militer 1994 dan Sekolah Lanjutan Perwira 2004.

Saat memutuskan berhenti dari dinas militer dengan pangkat terakhir mayor untuk kemudian mengikuti Pilkada Batang 2012, Yoyok mengenang, tentangan terberat datang dari orangtua.

Disebut Mayor Edan

sipayo.com
sipayo.com

Yoyok dicap sebagai “mayor edan” karena memilih keluar dari TNI. Menjadi TNI alias PNS, dianggap orang-orang sudah sangat nyaman dan mapan. Gaji perbulan dan pensiunan adalah jaminan yang menggiurkan.

Yoyok Riyo Sudibyo sempat kaget dengan atmosfer birokrasi saat menjabat sebagai Bupati Batang pada tahun 2012. Yoyok mengaku latar belakangnya yang dari militer terasa berbeda ketika menduduki posisi sebagai bupati.

Jadi Bupati Itu Susah

dakwahmedia.net
dakwahmedia.net

Ketika ditanya kesannya menjadi Bupati, Yoyok mengaku bahwa menjadi bupati merupakan pengalaman paling dahsyat dalam hidupnya.

Menjadi pemimpin daerah jauh lebih sulit dibandingkan saat menjalankan operasi militer.

Yoyok meyakini, seorang kepala daerah harus menguasai tata kelola pemerintahan dan keuangan, birokrasi, serta dapat mengelola hubungan dengan legislatif.

Keberadaan sejumlah syarat itu membuat jabatan kepala daerah kerap menjebak mereka yang belum punya cukup pengetahuan dan niat baik.

Ketika Yoyok mulai menjabat bupati, kondisi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang sedang terpuruk.

Pejabat bupati sebelumnya, Bambang Bintoro, terseret masalah hukum dan dipidana penjara. Kepercayaan masyarakat terhadap Pemkab pun anjlok.

Pada 2012, pendapatan asli daerah (PAD) Batang hanya Rp 67 miliar. Pada 2014, PAD Batang menjadi Rp 186 miliar dan diharapkan pada 2017 menjadi lebih dari Rp 200 miliar.

Prinsip Keterbukaan

nasional.republika.co.id
nasional.republika.co.id

Dalam mengelola pemerintah, Yoyok menerapkan keterbukaan. Dia membuka rumah dinasnya selama 24 jam bagi masyarakat.

Meski sudah menjadi bupati, Yoyok juga masih sering naik sepeda ke masjid di Alun-alun Kota Batang untuk shalat berjemaah.

Yoyok juga menerapkan transparansi anggaran dan pembangunan. Mulai 2012, Pemkab Batang bekerja sama dengan Ombudsman RI di bidang layanan publik, termasuk mulai menerapkan lelang jabatan.

Tingkatkan Layanan Publik

medan.tribunnews.com
medan.tribunnews.com

Yoyok juga membentuk Unit Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik (UPKP2) Kabupaten Batang pada 2013. Kantor ini bertugas melayani semua usulan dan pengaduan masyarakat yang belum digarap atau belum masuk agenda pembangunan.

Dalam pengadaan barang dan jasa, Yoyok belajar kepada Pemkot Surabaya untuk mengadopsi sistem layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) yang dapat mencegah rekayasa dan korupsi.

Hasilnya, LPSE Batang pada 2014 meraih standar ISO 27001 dari Lembaga Sertifikasi Internasional ACS Registrars.

Kerja sama dengan Universitas

anekainfounik.net
anekainfounik.net

Demi menjaga kualitas kegiatan, Pemkab Batang juga bekerja sama dengan Universitas Negeri Semarang sebagai supervisi dan pengawas.

Pembenahan ini, kata Yoyok, bukan tanpa gejolak. Ketika UPKP2 dibentuk, sempat muncul tudingan lembaga itu sebagai inspektorat bayaran.

Namun, pembenahan sistem itu akhirnya menuai apresiasi. Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran pada 2013 menyatakan, Pemkab Batang merupakan daerah dengan urutan terendah dalam penyimpangan anggaran se-Jateng.

Pada tahun itu, Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Batang juga meraih Investment Award 2013 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Bung Hatta Anti-Corruption Award 2015

tribunnews.com
tribunnews.com

Menurut Yoyok, penghargaan adalah ujian. Ia tidak menginginkan kembali menjadi Bupati. Ia hanya berharap, penggantinya akan lebih baik lagi darinya.

Usai menerima Bung Hatta Anti Corruption Award, Yoyok sempat bercerita mengenai tugas terakhirnya sebagai prajurit. Saat itu dia bertugas di Badan Intelijen Negara (BIN).

Yoyok keluar dari BIN dan berdagang. Tapi beberapa orang menyarankan agar ia mencalonkan diri menjadi Bupati. Atas desakan banyak orang, ia ikut saja, meskipun masih bingung dan belum tahu apa-apa soal kepemerintahan.

Yoyok mengaku setelah terpilih, dia langsung bernazar untuk jalan kaki sejauh 48 kilo sehari semalam untuk sungkem di kaki ibunya. Saat menjabat sebagai bupati, Yoyok menyebut bahwa dirinya tak punya modal ilmu birokrasi.

Modal yang dimaksud Yoyok yaitu modal ilmu untuk membuat Batang maju. Namun hal itu dijalaninya dengan terus belajar hingga akhirnya terpilih sebagai tokoh anti korupsi.

[td_smart_list_end]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *